Studi Ungkap Merokok Tingkatkan Risiko Depresi dan Bipolar Dua Kali Lipat
Minggu, 10 Sep 2023, 12:03 WIBMerokok menjadi salah satu faktor yang bisa memberikan dampak negatif pada tubuh. Sebab, merokok dapat menyebabkan kondisi kesehatan seperti kanker paru-paru, serangan jantung, dan bahkan stroke.
Nyatanya, merokok juga dapat mempengaruhi kesehatan mental. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa merokok menggandakan risiko masalah kesehatan mental seperti depresi dan gangguan bipolar.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Acta Psychiatrica Scandinavica, para peneliti dari Aarhus University mengevaluasi 337.140 partisipan dari U.K. Biobank untuk memahami hubungan antara merokok dan penyakit mental.
"Angka-angka tersebut berbicara sendiri. Merokok memang menyebabkan penyakit mental. Meskipun bukan satu-satunya penyebab, merokok meningkatkan risiko dirawat di rumah sakit karena penyakit mental sebesar 250 persen," kata Doug Speed, salah satu penulis studi tersebut, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Medical Daily, Rabu (6/9).
"Merokok biasanya muncul sebelum penyakit mental. Bahkan, jauh sebelumnya. Rata-rata, orang-orang dari kumpulan data mulai merokok pada usia 17 tahun, sementara mereka biasanya tidak dirawat di rumah sakit dengan gangguan mental sampai setelah usia 30 tahun," tambahnya.
Para peneliti menemukan bahwa kemungkinan seorang anak menjadi perokok cukup tinggi ketika orang tua angkatnya merokok. Namun, risikonya lebih tinggi ketika orang tua kandungnya merokok. Tim menemukan bahwa "gen yang berhubungan dengan merokok" yang diwarisi dari orang tua kandung memainkan peran penting dalam memutuskan apakah seseorang akan merokok.
"Ketika kami melihat banyak perokok dalam database, kami menemukan sejumlah varian genetik yang berulang. Dengan melihat studi kembar, di mana anak kembar memiliki gen yang sama namun dibesarkan di rumah yang berbeda, kami dapat melihat bahwa gen mereka dapat menjelaskan 43 persen risiko menjadi perokok," ujar Speed.
Penelitian ini tidak mengevaluasi mekanisme biologis yang menyebabkan masalah kesehatan mental. Para peneliti percaya bahwa masalah ini mungkin disebabkan oleh kerusakan otak yang disebabkan oleh nikotin.
"Kami masih perlu menemukan mekanisme biologis yang menyebabkan merokok menyebabkan gangguan mental. Salah satu teorinya adalah nikotin menghambat penyerapan neurotransmitter serotonin di otak, dan kita tahu bahwa orang yang mengalami depresi tidak menghasilkan cukup serotonin," imbuh Speed.
"Penjelasan lainnya adalah bahwa merokok menyebabkan peradangan di otak, yang dalam jangka panjang dapat merusak bagian otak dan menyebabkan berbagai gangguan mental. Tapi seperti yang saya katakan: Kami belum tahu pasti," pungkasnya.
Seperti diketahui, merokok adalah kebiasaan yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Saat seseorang merokok, mereka menghirup berbagai zat kimia beracun yang dapat merusak organ-organ vital dalam tubuh.
Nikotin, salah satu zat dalam rokok, dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis yang sulit diatasi. Selain itu, asap rokok mengandung tar dan karbon monoksida yang dapat merusak paru-paru dan sistem pernapasan, meningkatkan risiko kanker paru-paru, serta mengakibatkan penyakit jantung.
Bahkan, perokok pasif pun berisiko terkena dampak negatif rokok. Oleh karena itu, penting bagi semua orang untuk menjauhi rokok demi menjaga kesehatan tubuh dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Berita Terkait:
-
OpenAI Rilis Fitur Health di ChatGPT, Terhubung ke Apple Health dan Rekam Medis
-
Waspada, Penyakit Katup Jantung Berkembang Perlahan, Kenali Gejalanya Sejak Dini!
-
TNI Dorong Pelestarian Pesisir di Ambon Melalui Aksi Tanam Pohon dan Mangrove.
-
Sinner Hentikan Langkah Djokovic, Tantang Zverev di Final Wimbledon 2026
-
Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari
-
Pemerintah Perlu Perkuat Pertanian Rendah Emisi
-
Apa Itu "Tai Chi Walking", Apa Manfaatnya Bagi Tubuh?
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.