Setelah India, Jepang Bersiap Mengirim 'Moon Sniper' ke Bulan

Jumat, 25 Agu 2023, 14:48 WIB

TOKYO - Setelah India sukses melakukan pendaratan di Bulan, program luar angkasa Jepang berharap bangkit dari serangkaian kemunduran dengan melakukan peluncuran "Moon Sniper", minggu depan.

Roket tersebut akan membawa alat pendarat yang diperkirakan akan mencapai permukaan Bulan dalam empat hingga enam bulan, serta satelit pencitraan x-ray yang dirancang untuk menyelidiki evolusi alam semesta.

Ket. Foto: Pendarat Cerdas untuk Investigasi Bulan (SLIM) milik Jepang disebut "Moon Sniper" atau "Penembak Jitu Bulan" karena ketepatannya. — Sumber: CNA/JAXA

Peluncuran dijadwalkan berlangsung Senin setelah tertunda sehari karena cuaca buruk, kata Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) pada Jumat (25/8).

Program luar angkasa Jepang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Namun upaya pertamanya melakukan pendaratan di Bulan gagal pada November 2022. Sebuah roket jenis baru juga meledak saat pengujian bulan lalu.

Harapan JAXA kini terpusat pada "Smart Lander for Investigating Moon (SLIM)".

Sesuai dengan akronimnya, SLIM berukuran kecil dan ringan, dengan tinggi 2,4m, lebar 2,7m, dan panjang 1,7m, serta berat sekitar 700kg.

Dijuluki "Penembak Jitu Bulan" karena ketepatannya, JAXA bermaksud mendaratkannya dalam jarak 100m dari target tertentu di Bulan, jauh lebih kecil dari jarak biasanya yang hanya beberapa kilometer.

Menggunakan penjelajah mini seukuran telapak tangan yang dapat berubah bentuk, wahana yang dikembangkan bersama perusahaan mainan tersebut bertujuan untuk menyelidiki bagaimana Bulan terbentuk dengan memeriksa potongan mantel Bulan yang terbuka.

"Pendaratan di Bulan masih merupakan teknologi yang sangat sulit," kata Shinichiro Sakai dari tim proyek SLIM kepada wartawan pada Kamis (24/8) sambil memberikan penghormatan atas keberhasilan India.

"Untuk mengikutinya, kami akan melakukan yang terbaik dalam operasi kami," kata Sakai.

Kesuksesan India

Pada Rabu (23/8), India mendaratkan pesawat luar angkasa di dekat kutub selatan Bulan, sebuah kemenangan bersejarah bagi negara berpenduduk terpadat di dunia dan program luar angkasa berbiaya rendah.

Sebelumnya, hanya Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok yang berhasil menempatkan pesawat luar angkasa di permukaan Bulan, dan tidak ada satu pun yang berhasil mendarat di kutub selatan.

Keberhasilan India tersebut terjadi beberapa hari setelah misi Rusia gagal di wilayah yang sama. Sebelumnya selama empat tahun, upaya India gagal di saat-saat terakhir.

Jepang juga telah mencoba sebelumnya, tahun lalu mencoba mendaratkan wahana antariksa bernama Omotenashi, yang dibawa dengan Artemis 1 milik NASA. Namun misi tersebut gagal dan komunikasi terputus.

Dan pada April, perusahaan rintisan Jepang, ispace, gagal dalam upaya ambisiusnya untuk menjadi perusahaan swasta pertama yang mendarat di Bulan. Pesawat kehilangan komunikasi setelah "pendaratan keras".

Jepang juga mempunyai masalah dengan peluncuran roket, seperti kegagalan peluncuran model H3 generasi berikutnya pada Maret lalu dan Epsilon berbahan bakar padat yang biasanya dapat diandalkan pada Oktober.

Bulan lalu, pengujian roket Epsilon S, versi perbaikan dari Epsilon, meledak 50 detik setelah penyalaan.

Angin Plasma

Roket H2-A yang diluncurkan dari Tanegashima di Jepang selatan pada hari Senin juga akan membawa Misi Pencitraan dan Spektroskopi Sinar-X (XRISM) yang dikembangkan oleh JAXA, NASA, dan Badan Antariksa Eropa.

Pengamatan spektroskopi sinar-X resolusi tinggi satelit terhadap angin plasma gas panas yang berhembus melalui alam semesta akan membantu mempelajari aliran massa dan energi serta komposisi dan evolusi benda-benda langit.

"Ada teori bahwa materi gelap mencegah galaksi berkembang," jelas manajer proyek XRISM Hironori Maejima.

"Pertanyaan mengapa materi gelap tidak berkumpul, dan kekuatan apa yang menyebarkannya, diharapkan dapat diklarifikasi dengan mengukur plasma menggunakan XRISM."

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: CNA

Berita Terbaru

Modus Baru, Penipu di Kamboja Jual Jasa 'Anti-Banned' untuk Kuras Data Medsos

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.