Atasi Kekerdilan Anak, Kepala BKKBN Sulsel Imbau Atur Jarak Kelahiran Cegah Stunting
Senin, 07 Agu 2023, 00:56 WIBMakassar - Atasi kekerdilan anak, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Shodiqin menghimbau masyarakat, khususnya pasangan usia subur (PUS) untuk mengatur kelahiran anak secara sehat guna mencegah stunting pada anak dengan menggunakan alat kontrasepsi.
"Penting menjaga jarak kelahiran anak, agar kelak anak-anak bertumbuh dan berkembang dengan baik," kata Shodiqin disela pengarahan kegiatan Promosi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Program Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah khusus bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI, Hj Aliyah Mustika Ilham di Pulau Barang Lompo, Kecamatan Sangkarrang, Makassar, Minggu.
Dia mengatakan, dengan menggunakan KB, resiko lahir bayi stunting dapat kita cegah, sebab dengan mengatur kelahiran anak, ibu-ibu dan bapak-bapak akan memilik banyak waktu dan kesempatan untuk memaksimalkan pengasuhan anak, ASI eksklusi bisa maksimal diberikan dan kesehatan ibu juga bisa meningkat.
Shodiqin menyebutkan ada 7 jenis alat kontrasepsi modern yang disediakan pemerintah melalui BKKBN, yaitu metode kontrasepsi jangka pendek meliputi pil KB, suntik KB dan kondom. Kemudian metode kontrasepsi jangka panjang meliputi IUD, implat atau susuk KB, vasektomi dan tubektomi.
Data Sensus Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 angka prevalensi stunting Sulsel sebesar 27,2 persen, angka ini masih di atas nasional yaitu 21,6 persen, sedangkan Kota Makassar 18,4 persen.
"Untuk itu kami memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Makassar atas kesuksesan menurunkan angka stunting dan termasuk terendah kedua di Sulsel setelah Kabupaten Barru," ungkapnya.
Selain mengatur kelahiran anak, pola asuh dan pola makan juga perlu di perhatikan agar anak tidak lahir stunting. Asupan makanan bergizi dimaksimalkan di 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak dimulai saat dalam kandungan, bahkan saat sebelum menikah, 3 bulan gizi ibu harus disiapkan dan memperhatikan usia ideal menikah, yakni wanita 21 tahun dan laki-laki 25 tahun.
Menurut dia, program KB menjadi kunci penting dalam menurunkan angka stunting. Untuk itu BKKBN terus berupaya meningkatkan kesertaan ber-KB masyarakat dan menghindari kehamilan berisko yaitu terlalu muda melahirkan di bawah 20 tahun, terlalu tua melahirkan diatas 35 tahun, terlalu rapat melahirkan di bawah 2 tahun, dan terlalu sering melahirkan.
Salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) adalah faktor 4 terlalu (terlalu muda melahirkan, terlalui tua melahirkan, terlalu sering atau dekat jarak melahirkan, serta terlalu banyak anak), selain itu pernikahan pada usia dini juga berpotensi melahirkan anak stunting.
Dengan Program KB, angka kematian ibu dan bayi bisa kita turunkan bersama, status kesehatan ibu dan anak meningkat terutama dalam mencegah kehamilan tak diinginkan dan menjarangkan jarak kelahiran anak.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ayustina Mempertahankan Jersi Kuning pada Etape Kedua Tour of Vietnam
-
Mantap! Persija Tundukkan Madura United 1-0, Naik Posisi Dua Klasemen
-
Generasi Muda RI Enggan Nikah dan Miliki Anak, BKKBN Temukan Faktor Utama Penyebabnya
-
Kapolda Metro Minta Perkuat Peran Siswa Jaga Keamanan Lingkungan Sekolah
-
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka Ingatkan Pemudik Jaga Kesehatan dan Keselamatan Saat Perjalanan
-
KKP Pastikan Layanan Pelabuhan Perikanan Tetap Optimal di Libur Lebaran 2026
-
Perhatian! Ada Badai Geomagnetik 12-14 November, BMKG Ungkap Tak Berdampak Signifikan di RI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.