Kemenperin Tegaskan Manufaktur Indonesia Tak Alami Deindustrialisasi

Jumat, 01 Mei 2026, 19:15 WIB

JAKARTA - Juru bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Arief, mengatakan manufaktur Indonesia tidak mengalami gejala deindustrialisasi. Febri menyebut kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional terus menunjukkan tren positif yang signifikan.

“Kami menegaskan bahwa manufaktur Indonesia tidak mengalami gejala deindustrialisasi dini apalagi deindustrialisasi. Serta, tren positif kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional ini terjadi pada masa kepemimpinan Menteri Perindustrian Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita,” ujar Febri di Jakarta, Rabu (29/4) lalu.

Ket. Foto: Juru bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief — Sumber: Dokumentasi Kementerian Perindustrian

Data kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) periode lama tidak dapat diperbandingkan. Febri memaparkan bahwa terdapat perubahan besar pada konsep serta metodologi perhitungan data tersebut.

“Kalau ada ekonom atau pengamat yang mengambil data kontribusi PDB Industri Pengolahan 2001-2025 maka data kontribusi tersebut tidak dapat diperbandingkan. Karena konsep, definisi dan metodologi perhitungan Industri Pengolahan telah berubah dan,” kata Febri.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode April 2026 tercatat masih berada pada level ekspansi 51,75. Febri menjelaskan variabel persediaan mengalami kenaikan sebagai bentuk penyesuaian stok oleh para pelaku industri.

Gejolak geopolitik dunia saat ini memberikan pengaruh nyata terhadap kenaikan biaya pada krisis energi. Febri mengungkapkan dinamika tersebut memberikan dampak tekanan khususnya pada subsektor industri kimia serta tekstil.

“Dampak krisis energi akibat gejolak geopolitik saat ini sudah sama-sama kita ketahui. Yakni memengaruhi sejumlah subsektor tertentu, seperti industri kimia dan sektor industri hilir lainnya, termasuk tekstil,” ujar Febri.

Pemerintah mencatat sebanyak 16 subsektor industri masih berada dalam fase pertumbuhan yang sangat baik. Sektor-sektor tersebut memberikan sumbangan sebesar 78,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Variabel pesanan dan produksi memang mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan perolehan pada bulan sebelumnya. Febri menilai perlambatan permintaan tersebut masih dalam batas wajar sebagai fase penyesuaian pasar.

“Perlambatan yang terjadi ini masih dalam batas wajar dan merupakan fase penyesuaian industri. Di sisi lain, terjadi peningkatan pada variabel persediaan, yang juga menunjukkan adanya penyesuaian stok oleh pelaku industri dalam merespons kondisi pasar,” ucap Febri.

Kementerian Perindustrian menekankan bahwa nilai kontribusi industri terhadap ekonomi nasional mengecil karena adanya perubahan metodologi. Febri menegaskan perbandingan data sebelum tahun 2009 tidak relevan karena perbedaan basis perhitungan harga.

“Akibat perubahan konsep, definisi dan metodologi perhitungan PDB Industri Pengolahan menyebabkan nilai PDB dan kontribusi PDB Industri Pengolahan turun dari perhitungan tahun sebelumnya. Oleh karena itu, tidak apple to apple kalau kita bandingkan kontribusi PDB Industri Pengolahan sebelum dan sesudah tahun 2009 atau pada periode adanya perubahan hal tersebut,” kata Febri.

Keberhasilan kebijakan hilirisasi industri telah meningkatkan nilai tambah produk buatan dalam negeri secara berkelanjutan. Febri menjelaskan bahwa tenaga kerja industri pengolahan saat ini berjumlah sebanyak 21,6 juta orang.

Sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung utama bagi struktur perekonomian nasional Indonesia sampai saat ini. Febri menambahkan bahwa tidak terjadi pergeseran tenaga kerja dari bidang industri menuju ke sektor jasa. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

Berita Terbaru

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.