- Home
-
- Luar Negeri
-
- Langkah Rusia Keluar dari ...
Langkah Rusia Keluar dari Kesepakatan Laut Hitam Perparah Krisis
Sabtu, 22 Jul 2023, 14:44 WIBPBB - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan, langkah Rusia keluar dari kesepakatan pangan Laut Hitam dan penyerangan pelabuhan-pelabuhan penting, akan memperparah krisis.
"Kita kini menyaksikan ketahanan pangan kian terpukul hebat, ketika Rusia dalam empat hari berturut-turut menyerang pelabuhan Ukraina di Laut Hitam di Odesa, Chornomorsk dan Mykolaiv dengan rudal dan drone," kata Kepala Urusan Politik PBB Rosemary DiCarlo kepada Dewan Keamanan.
DiCarlo mengutuk keras aksi Rusia itu dan negara ini segera menghentikan aksinya.
"Gelombang baru serangan menyasar pelabuhan-pelabuhan Ukraina berisiko menciptakan dampak yang hebat terhadap ketahanan pangan global, khususnya di negara-negara berkembang," kata dia.
"Ancaman menyangkut kemungkinan kapal sipil yang berlayar di Laut Hitam dijadikan sasaran tembak, sungguh tak masuk akal," katanya.
Kepala Bantuan PBB Martin Griffith menyebut langkah Rusia keluar dari kesepakatan pangan "sangat mengecewakan".
"Bagi 362 juta manusia langkah itu bukan masalah kesedihan atau kekecewaan: Ini menyangkut hal yang mengancam masa depan mereka, anak-anak mereka dan keluarga mereka," kata Griffith.
"Mereka tidak sedih, tapi marah. Mereka khawatir, mereka gelisah. Beberapa akan kelaparan, beberapa akan sangat kelaparan, mungkin banyak yang mati akibat keputusan Rusia ini," kata dia lagi.
Griffith memohon Dewan Keamanan agar melakukan segala upaya untuk memulihkan kesepakatan pangan Laut Hitam.
Perjanjian itu ditandatangani di Istanbul pada Juli tahun lalu oleh Rusia, Ukraina, Turki dan PBB.
Perjanjian itu menciptakan koridor aman melewati Laut Hitam untuk ekspor dari tiga pelabuhan Ukraian yang sempat terhenti sejak perang mulai pada Februari 2022.
Kesepakatan itu turut mengendalikan harga pangan yang melonjak dan meredakan krisis pangan global dengan memulihkan aliran gandum, minyak bunga matahari, pupuk, dan produk lainnya dari Ukraina yang merupakan salah satu eksportir produk pangan biji-bijian terbesar di dunia.
Pekan ini Moskow menolak memperpanjang perjanjian itu setelah 17 Juli dengan berkilah bagian yang berkaitan dengan permintaan Rusia "sejauh ini belum diterapkan".
Bagian yang diinginkan Rusia adalah penghapusan hambatan ekspor pupuk Rusia, termasuk memasukkan Bank Pertanian Rusia ke dalam sistem pembayaran internasional SWIFT.
- Rusia
- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
- Perang Russia-Ukraina
- Perjanjian Laut Hitam
- Kesepakatan Ekspor Biji-bijian
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Russia Peringatkan Para Diplomat Asing di Kyiv untuk Mengungsi Jelang Perayaan Hari Kemenangan PD II
-
Pengelola Baru Bandung Zoo Dipastikan Pemkot Berjalan Transparan
-
Russia Tuduh Rezim Ukraina Neo-Nazi, Situasi HAM Disebut Memburuk
-
Presiden Kazakhstan Desak Russia Bekukan Perang Ukraina, Tokayev: Semua Ini Harus Dihentikan
-
Pembiayaan FIF di Stand Motor Honda Jakarta Fair Kemayoran 2026
-
Persib Bandung Larang Aremania Datang ke Stadion GBLA
-
Revolusi Sampah Dimulai, BRIN Siapkan Teknologi Terpadu dari Rumah ke Kota
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.