- Home
-
- Luar Negeri
-
- WHO: Panas Ekstrem Bebani ...
WHO: Panas Ekstrem Bebani Sistem Kesehatan
Jumat, 21 Jul 2023, 02:45 WIBJENEWA - Gelombang panas ekstrem di belahan bumi utara semakin membebani sistem perawatan kesehatan, memukul mereka yang paling tidak mampu mengatasi yang paling sulit, kata Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO), Rabu (19/7).
WHO mengatakan gelombang panas sering memperburuk kondisi yang sudah ada sebelumnya, terutama mengkhawatirkan mereka yang memiliki penyakit kardiovaskular, diabetes dan asma.
Jutaan orang di tiga benua mengalami serangan gelombang panas berbahaya yang berkelanjutan pada Rabu saat rekor suhu mengalami lonjakan.
"Gelombang panas ekstrem memakan korban terbesar pada mereka yang paling tidak mampu mengelola akibatnya, seperti orang tua, bayi dan anak-anak, serta orang miskin dan tunawisma," kata kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
"Itu juga meningkatkan tekanan pada sistem kesehatan. Paparan panas yang berlebihan berdampak luas bagi kesehatan, seringkali memperkuat kondisi yang sudah ada sebelumnya dan mengakibatkan kematian dini dan kecacatan," imbuh dia dalam sebuah konferensi pers.
WHO bekerja sama dengan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), sesama badan PBB yang berbasis di Jenewa, untuk mendukung negara-negara dalam mengembangkan rencana aksi cuaca panas untuk mengkoordinasikan kesiapsiagaan dan mengurangi dampak panas yang berlebihan terhadap kesehatan, kata Tedros.
Rencana Aksi
Sementara itu Maria Neira, kepala kesehatan masyarakat dan lingkungan WHO, mengatakan badan tersebut sangat mengkhawatirkan perempuan hamil dan penderita diabetes dan penyakit kardiovaskular, serta asma, karena polusi udara akan menjadi bagian dari masalah.
"Pemerintah lokal dan nasional perlu mengidentifikasi semua yang berpotensi berisiko, sementara rumah sakit harus memastikan mereka memiliki rencana aksi," ucap Neira.
Neira juga mengatakan masyarakat perlu menyampaikan pesan untuk menghindari olahraga selama hari terpanas, menemukan tempat yang sejuk di dalam ruangan, mencari mereka yang rentan, dan waspada terhadap serangan panas atau kelelahan akibat panas.
"Itu akan membantu kita mengurangi gelombang panas dengan cara yang sangat penting," ungkap dia seraya mengatakan bahwa pejabat kota perlu memikirkan perencanaan kota mereka untuk memastikan orang memiliki tempat berlindung di saat panas ekstrem.
Menurut badan cuaca PBB, WMO, suhu tinggi yang berulang pada malam hari merupakan risiko kesehatan tertentu karena tubuh tidak dapat pulih dari hari yang panas, yang menyebabkan lebih banyak serangan jantung dan kematian.
Para ahli sejauh ini menyalahkan gelombang panas pada perubahan iklim, didorong oleh pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan karbon dioksida gas rumah kaca ke atmosfer. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Cek Kesehatan Gratis Mitra Gojek bersama Kementerian Kesehatan
-
Wisata Alam Kian Diminati, Kunjungan ke Kebun Raya Cibodas Naik Tajam Pada Libur Panjang Akhir Pekan Lalu
-
Djokovic Tersingkir dari Roland Garros Usai Kalah dari Petenis Remaja Joao Foseca
-
PT Pertamina Patra Niaga: Stok BBM Pertamax, Pertalite, dan Biosolar di Kalimantan Tengah Aman
-
Benarkah MSG Berbahaya? Kampanye Edukasi Sajikan Temuan Ilmiah
-
Kemenkes: MA Kuatkan Vonis 4 Tahun Kasus Pemerasan di PPDS Undip
-
Korpasgat Dukung Latihan Terjun Payung Personel Kopassus dan Yon TP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.