Fort Oranje, Benteng Pemantau Bajak Laut
Sabtu, 15 Jul 2023, 06:25 WIBDalam perjalanan pulang berwisata dari Pulau Dionumo, pelancong akan akan melewati Benteng Oranye (Fort Oranje). Letaknya berada Bukit Arang, Desa Dambalo, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara.
Jarak Benteng Oranye dari Pulau Dionumo mencapai 71,5 kilometer. Sedangkan jarak dari Ibu Kota Provinsi Gorontalo mencapai 65,8 kilometer. Berada tidak jauh dari pantai, benteng ini menjadi saksi masyarakat kolonial dalam menguasai rempah-rempah yang harganya sangat tinggi di pasar Eropa.
Benteng Oranye yang merupakan peninggalan Portugis berada di sisi kiri jalan. Namun meski awalnya peninggalan Portugis, namanya merupakan nama Belanda. Orang Gorontalo menyebut benteng ini dengan nama benteng atauOta Lalunga, sedangkan nama Oranye diambil dari pemimpin Belanda yang berkuasa di sana pada saat itu, yakni Snouck Oranje.
Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo, keberadaan benteng ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1527. Tahun tersebut merupakan awal kedatangan bangsa Portugis untuk mendapatkan rempah-rempah di Bumi Serambi Madinah julukan untuk Gorontalo.
Selain untuk fungsi pertahanan dari serangan rakyat, bangunan banteng dibangun ini untuk mengontrol jalur pelayaran. Dalam sejarahnya perairan Laut Sulawesi menjadi target utama perampokan bahan-bahan rempah oleh para bajak laut yang berasal dari Filipina.
Panjang dinding Benteng Oranye sisi sebelah selatan adalah 26,40 meter, sisi barat 38,10 meter, sisi utara 22,75 meter, dan sisi timur 41,80 meter. Sementara itu tinggi bentang mencapai 2,00 meter-3,50 meter dengan ketebalan dinding benteng rata-rata 69 sentimeter.
Terdapat bastion benteng terletak di sisi Tenggara. Bastion adalah bagian dinding benteng yang menjorok ke luar, difungsikan sebagai tempat untuk memantau dan tempat dudukan senjata atau meriam. Bastion berdiameter 1,60 meter dan tinggi 5,32 meter, memiliki 3 buahembrasure, ceruk bidik atau sebagai dudukan senjata dengan lebar 1,18 meter.
Pada bagian dalam benteng terdapat bangunan segi empat menyerupai bilik yang di dalamnya terdapat ruangan, berukuran panjang 4,50 meter, lebar 5,10 meter, tinggi 1,70 meter. Bangunan tersebut diperkirakan berfungsi sebagai tempat menyimpan barang-barang berharga. Selain itu, sebagai benteng pertahanan, Benteng Oranye dilengkapi pula dengan sarana penunjang berupa menara.
Benteng Oranye bukan lagi murni bangunan Portugis. Pasalnya ketika Belanda datang bangunan tersebut mengalami perombakan untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Awalnya Portugis membangun dari material batu karang dan batu gunung yang direkatkan dengan batu kapur. Setelah diambil alih Belanda banteng dibangun dengan campuran semen dan penambahan bangunan kecil di atas bukit sebagai tempat meriam.
Belanda datang di Gorontalo sekitar awal abad ke-17. Mereka mengusir Portugis dari tempat itu karena Gorontalo dianggap sebagai penghasil rempah-rempah yang penting. Adanya Portugis di sana hanya membuat monopoli rempah-rempah menjadi terganggu.
Dari ekskavasi yang dilakukan oleh BPCB ditemukan ditemukannya dua bastion baru. Bagian bangunan ini berada di sisi sayap kiri dan kanan dari benteng yang dibuat untuk memperkokoh pertahanan, dengan cara memperlebar sudut pandang dan memiliki celah untuk moncong meriam.
Bastion baru menunjukkan struktur Benteng Oranye baru lebih besar dari sebelumnya. Belanda juga melakukan penambahan-penambahan serta perubahan pada bagian benteng tersebut, seperti bangunan-bangunan kecil di atas bukit sebagai tempat memantau dan pusat penembakan.
Saat ini Benteng Oranye telah ditetapkan jadi cagar budaya, lewat Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No Pm 30/pw 007/mkp 2008 dengan nomor registrasi BP#.GTLO/75/05.02/002. Dengan ini menyatakan sebagai situs cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.
Sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya, benteng ini masih terlihat kumuh serta dipenuhi semak belukar. Masyarakat sekitar bahkan tidak mengetahui jika bangunan tersebut merupakan benda peninggalan bersejarah penting di kawasan itu.
Saat ini lingkungan di sekitar Benteng Oranye saat ini dikelilingi tanah perladangan dan terdapat tambak ikan yang berada di aliran Sungai Posso yang berada di sisi barat. Sungai ini sekarang difungsikan sebagai tempat sandar perahu nelayan yang mencari ikan di Laut Sulawesi. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Ada yang Tahu Apa Itu Sidapakase Buat Pengembangkan Wisata Kalsel?
-
Meriahkan Pasar Murah, Khofifah Pastikan Kecukupan dan Keterjangkauan Harga Pangan
-
Indonesia vs Bulgaria: Ujian Sesungguhnya John Herdman
-
Sindangkasih, Serunya River Tubing di Kota Domba
-
Hingga April 2025, Destinasi Wisata Bantul Dikunjungi 629.377 Orang
-
Russia Buka Rute Penerbangan Langsung Moskow-Pyongyang
-
15 Destinasi Wisata Paling Populer dan Wajib Dikunjungi di Tiongkok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.