Krisis Picu FDI Global Turun 12 Persen

Jumat, 07 Jul 2023, 00:03 WIB

JENEWA - Laporan Konferensi Perserikatan Bangsa un- Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD, United Nations Conference on Trade and Development) yang dipublikasikan Rabu (5/7) waktu Jenewa menyebutkan setelah rebound kuat pada 2021, penanaman modal asing langsung (foreign direct investment/FDI) global turun 12 persen pada 2022 menjadi 1,3 triliun dollar AS.

UNCTAD dalam Laporan Investasi Dunia (World Investment Report) 2023, menyatakan penurunan FDI itu karena krisis global multidimensi, seperti konflik militer antara Russia dan Ukraina, harga pangan dan energi yang tinggi, serta utang publik yang melonjak.

Ket. Foto: Laporan UNCTAD - Sementara itu, proyekproyek yang diumumkan dalam sektor manufaktur baterai meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari 100 miliar dollar AS pada 2022. — Sumber: ISTIMEWA

Penurunan paling terasa di negara-negara maju, dengan FDI turun 37 persen menjadi 378 miliar dollar AS.

Sebagai catatan positif, pengumuman proyek investasi greenfield (investasi dengan membangun fasilitas produksi baru) naik 15 persen pada 2022, tumbuh di sebagian besar wilayah dan sektor.

Industri-industri yang sedang bergulat dengan tantangan rantai pasokan, termasuk industri elektronik, semikonduktor, otomotif, dan permesinan, mengalami lonjakan proyek, sedangkan investasi di sektor ekonomi digital melambat.

Laporan itu juga mengungkapkan defisit investasi tahunan yang melebar yang dihadapi negara-negara berkembang saat mereka berupaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2030. Kesenjangannya kini mencapai sekitar empat triliun dollar AS per tahun, naik dari 2,5 triliun dollar AS pada 2015, ketika SDGs diadopsi.

Investasi internasional untuk pembangkit energi terbarukan, termasuk tenaga surya dan angin, tumbuh sebesar 8 persen, lebih lambat dari pertumbuhan 50 persen yang tercatat pada 2021. "Sementara itu, proyek-proyek yang diumumkan dalam sektor manufaktur baterai meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari 100 miliar dollar AS pada 2022," sebut laporan tersebut seperti dikutip dari Antara.

Energi Terbarukan

Laporan UNCTAD juga menunjukkan bahwa lebih dari 30 negara berkembang masih belum mendaftarkan proyek investasi internasional besar dalam energi terbarukan.

Meskipun sebagian besar negara berkembang telah menetapkan target untuk beralih ke sumber energi berkelanjutan, hanya sepertiga dari mereka yang mengubah target tersebut menjadi informasi untuk persyaratan investasi.

Meskipun investasi energi terbarukan meningkat hampir tiga kali lipat sejak diadopsinya Perjanjian Paris pada 2015, sebagian besar dana mengalir ke negara-negara maju.

Sedangkan negara-negara berkembang yang membutuhkan sekitar 1,7 triliun dollar AS setiap tahun dalam investasi energi terbarukan, termasuk untuk jaringan listrik, jalur transmisi, dan penyimpanan, hanya dapat menarik investasi sekitar 544 miliar dollar AS pada 2022.

UNCTAD dalam laporannya juga menyerukan dukungan mendesak kepada negara-negara berkembang agar mereka dapat menarik lebih banyak investasi secara signifikan bagi transisi mereka ke energi bersih.

UNCTAD mengusulkan penetapan tindakan-tindakan prioritas, mulai dari mekanisme pembiayaan hingga kebijakan investasi, untuk memastikan energi berkelanjutan bagi semua pihak.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.