- Home
-
- Luar Negeri
-
- Nenek Korban Penembakan Pr...
Nenek Korban Penembakan Prancis Memohon Agar Kerusuhan Diakhiri
Senin, 03 Jul 2023, 09:25 WIBPARIS - Nenek seorang remaja Prancis-Aljazair yang dibunuh oleh polisi, Nahel (17), memohon kepada para perusuh untuk menghentikan aksi penjarahan dan perusakan.
"Saya katakan kepada orang-orang yang memecahkan barang-barang: berhenti. Jangan pecahkan jendela, jangan hancurkan sekolah, jangan hancurkan bus. Hentikan, ada ibu-ibu di bus, ada ibu-ibu yang berjalan di luar," kata Nadia, nenek Nahel, dalam sebuah wawancara telepon dengan BFMTV yang dikutip RT pada Minggu (2/7).
Nadia mengutuk para perusuh karena menggunakan kematian cucunya sebagai "alasan" untuk melanggar hukum. Ia mengatakan polisi yang menembak cucunya akan berhadapan dengan hokum.
Prancis telah dicengkeram aksi protes kekerasan dan kerusuhan sejak Selasa, setelah polisi di pinggiran kota Paris Nanterre menembak dan membunuh seorang anak laki-laki Perancis-Aljazair berusia 17 tahun yang diidentifikasi sebagai Nahel M. Saat itu Nahel menolak untuk patuh di sebuah halte.
Terlepas dari kenyataan bahwa petugas yang menembak Nahel telah ditangkap dan didakwa melakukan pembunuhan, insiden tersebut memicu gelombang kekerasan yang telah menyebar ke Belgia dan Swiss.
Dipicu oleh kematian rmaja dari latar belakang imigran, kerusuhan telah meningkat ke titik di mana perusuh menggunakan kendaraan untuk menabrak rumah Vincent Jeanbrun, Walikota L'Hay-les-Roses pinggiran Paris, pada Minggu, sebelum kemudian mencoba membakar rumah dimana keluarga Jeanbrun ada di dalamnya.
Para perusuh juga menyerang petugas polisi dengan petasan dan bom molotov, beberapa orang terlihat mengacungkan senjata api tingkat militer.
Pengerahan 45.000 petugas polisi dan penangkapan lebih dari 2.800 perusuh sejauh ini gagal meredam kerusuhan.Namun, Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan pada Minggu bahwa jumlah orang yang ditangkap turun menjadi 719 pada Sabtu malam.
Usia rata-rata yang ditangkap adalah 17 tahun, kata Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin.
Pada Sabtu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menunda kunjungannya ke Jerman karena kekerasan terus berlanjut.Sementara itu, beberapa negara Eropa termasuk Inggris, mengimbau warganya untuk menghindari bepergian ke daerah yang terkena dampak.
Macron menghadapi kritik atas penanganannya terhadap kerusuhan. Dua serikat polisi utama pada hari Jumat meminta presiden untuk melancarkan tindakan keras terhadap "minoritas kekerasan" yang mengamuk di jalanan.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Kamala Harris Bidik Pencalonan Presiden AS pada Pemilu 2028
-
Ini yang Harus Dilakukan Bila EV Mati Mendadak
-
Bamsoet Kembali Tegaskan Perbaikan Bangsa Harus Dimulai dari Partai Politik
-
Kemenekraf Sediakan Kanal Pengaduan bagi Pelaku Ekonomi Kreatif
-
Harga BBM Naik: Dua Negara Bagian Australia Gratiskan Transportasi Publik
-
Deregulasi PLTS untuk Dorong Investasi Energi
-
IPA Portable Semanan Resmi Beroperasi, Ratusan Pelanggan Baru PAM JAYA Kini Terlayani
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.