UNAND Kembangkan Dadih Jadi Pangan Fungsional, Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Rabu, 15 Jul 2026, 04:30 WIB

Padang – Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat, Prof. Helmizar, bersama peneliti dari University of the Philippines Diliman, Pierangeli G. Vital, melakukan penelitian kolaboratif untuk mengembangkan pangan lokal khas Minangkabau berbasis dadih.

"Kerja sama ini fokus pada pengembangan pangan fungsional berbasis dadih," kata Prof. Helmizar di Padang, Selasa (15/7).

Ket. Foto: Pakar sekaligus guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat (Sumbar) Prof Helmizar. — Sumber: Antara

Menurutnya, dadih merupakan pangan fermentasi tradisional khas Sumatera Barat yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pendekatan ilmiah dan teknologi modern. Dalam penelitian tersebut, tim mengembangkan berbagai inovasi, mulai dari kajian kandungan probiotik hingga pemanfaatan teknologi spray dryer untuk menghasilkan tepung dadih dengan masa simpan lebih panjang tanpa menghilangkan karakteristik utamanya sebagai pangan fermentasi.

Tepung dadih tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan fungsional, seperti roti bergizi, makanan pendamping air susu ibu (MPASI), serta formulasi pangan berbahan baku lokal yang memanfaatkan sorgum, ubi jalar merah, jagung, kacang merah, dan kedelai.

Prof. Helmizar mengatakan pendekatan riset tersebut tidak hanya mengoptimalkan potensi dadih sebagai pangan lokal, tetapi juga memperkuat pemanfaatan sumber daya pangan Indonesia melalui inovasi berbasis penelitian.

Sebagai bagian dari hilirisasi hasil riset, UNAND juga mengembangkan mini plant atau teaching factory pangan fungsional. Fasilitas tersebut menjadi sarana pembelajaran sekaligus pusat pengembangan produk hasil penelitian agar inovasi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat berlanjut ke tahap produksi dan dimanfaatkan oleh masyarakat maupun industri.

Ia menambahkan, kolaborasi internasional tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas penelitian, tetapi juga membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta pengembangan inovasi yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Komoditas Unggulan

Sementara itu, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa pengembangan komoditas unggulan sesuai potensi daerah dapat memperkuat swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

"Arahan Presiden sangat jelas, yaitu mewujudkan swasembada pangan. Beras tetap menjadi komoditas utama, tetapi Indonesia juga memiliki banyak komoditas pangan lain yang potensinya sangat besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Iftitah dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Mentrans meninjau demplot pisang Edo Farm di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagai salah satu contoh pengembangan komoditas pisang bernilai ekonomi tinggi.

Menurut Iftitah, keberhasilan mewujudkan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan menciptakan nilai tambah dari komoditas pertanian sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh petani.

"Ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Kalau petaninya tidak sejahtera, ketahanan pangan tidak akan berkelanjutan," ujarnya.

Ia menilai pisang merupakan salah satu komoditas yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan karena permintaan pasar domestik maupun internasional terus meningkat, sementara potensi budidayanya tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan transmigrasi.

  • Ketahanan Pangan

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.