Laut Arktik Akan Alami Musim Panas Pertama Tanpa Es pada 2030

Kamis, 08 Jun 2023, 00:00 WIB

BERLIN - Para ilmuwan baru-baru ini mengatakan lautan Arktik akan mengalami rekor musim panas pertama yang dapat melelehkan hampir semua es terapung di perairan itu pada awal 2030-an, satu dekade lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Dikutip dari The Straits Times, temuan peer-review, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, Selasa (6/6) ini, juga menunjukkan bahwa tonggak perubahan iklim ini dapat terjadi, bahkan jika negara-negara berhasil mengekang emisi gas rumah kaca dengan lebih tegas daripada yang mereka lakukan saat ini.

Ket. Foto: Es laut memantulkan kembali radiasi matahari ke luar angkasa, jadi semakin sedikit es yang ada, semakin cepat Arktik menghangat. — Sumber: ISTIMEWA

Proyeksi sebelumnya telah menemukan tindakan yang lebih kuat untuk memperlambat pemanasan global mungkin cukup untuk menjaga keberadaan es pada musim panas. Penelitian terbaru menunjukkan terkait pencairan es di laut Arktik, hanya pengurangan emisi yang curam dan tajam yang dapat membalikkan efek pemanasan yang sudah berlangsung.

"Kita segera kehilangan lapisan es laut musim panas Arktik, pada dasarnya terlepas dari apa yang kita lakukan," kata Dirk Notz, ilmuwan iklim di Universitas Hamburg di Jerman dan salah satu dari lima penulis studi baru tersebut.

"Kami sudah menunggu terlalu lama untuk melakukan sesuatu tentang perubahan iklim untuk tetap melindungi es yang tersisa".

Karena es laut menyusut dalam beberapa dekade terakhir, komunitas, ekosistem, dan ekonomi di seluruh Lingkaran Arktik telah bergulat dengan konsekuensinya, tetapi efeknya jauh melampaui wilayah itu.

Mencair Lebih Cepat

Es laut memantulkan kembali radiasi matahari ke luar angkasa, jadi semakin sedikit es yang ada, semakin cepat Arktik menghangat. Hal ini menyebabkan lapisan es Greenland mencair lebih cepat, menambah kenaikan permukaan laut secara global.

Perbedaan suhu antara Kutub Utara dan khatulistiwa juga mempengaruhi jalur badai dan kecepatan angin di pertengahan garis lintang, yang berarti pemanasan Arktik dapat mempengaruhi kejadian cuaca seperti curah hujan ekstrim dan gelombang panas di bagian beriklim sedang di Amerika Utara, Eropa, dan Asia.

Selama empat dekade terakhir, ujung utara telah memanas empat kali lebih cepat dari rata-rata global, sebuah fenomena yang oleh para ilmuwan disebut amplifikasi Arktik.

"Hasil kami menunjukkan amplifikasi Arktik akan datang lebih cepat dan lebih kuat. Itu berarti dampak terkait juga akan datang lebih cepat," kata Seung-Ki Min, ilmuwan iklim di Universitas Sains dan Teknologi Pohang di Korea Selatan sskaligus penulis makalah baru lainnya.

Setiap tahun, air permukaan Samudra Arktik membeku dan mencair seiring musim. Jumlah es tumbuh di musim dingin, mencapai puncaknya sekitar bulan Maret, kemudian menurun menuju minimum tahunan, biasanya di September.

Sejak pengukuran satelit terus-menerus dimulai pada 1979, para peneliti terkemuka mencoba memprediksi kapan lautan mungkin mengalami musim panas pertama yang secara efektif mencairkan semua es yang mengapung.

"Ini tidak berarti tidak akan ada es di atas air, bongkahan es diperkirakan akan tetap ada di sudut-sudut tertentu Kutub Utara untuk beberapa waktu mendatang. Sebaliknya, ambang batas yang digunakan para ilmuwan adalah satu juta kilometer persegi es. Ini kurang dari 15 persen dari tutupan es musiman Arktik pada akhir 1970-an.

Melihat pengukuran satelit terhadap tutupan es dan model komputer dari iklim global, para peneliti telah memproyeksikan pada September kemungkinan keberadaan es akan turun di bawah level ini untuk pertama kalinya sebelum 2050. Namun waktu yang tepat sulit diprediksi, sebagian karena komputer model umumnya meremehkan penurunan es laut yang telah dideteksi satelit.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.