Resesi Sudah Terjadi di AS, tetapi Tidak Disadari

Rabu, 31 Mei 2023, 00:02 WIB

NEW YORK - Resesi telah terjadi di Amerika Serikat (AS), tetapi hal tersebut tidak disadari, menurut ekonom terkemuka David Rosenberg, menyoroti data yang menunjukkan penurunan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) AS secara berturut-turut untuk mendukung argumennya, seperti dilaporkan portal berita bisnis Insider.

Seperti dikutip dari Antara, Selasa (30/5), pendiri sekaligus Presiden Rosenberg Research itu mengacu pada data pendapatan domestik bruto, ukuran utama aktivitas ekonomi, yang dirilis pekan lalu dan menunjukkan penurunan 2,3 persen pada kuartal pertama dalam basis tahunan yang disesuaikan secara musiman setelah mengalami kontraksi 3,3 persen pada kuartal keempat 2022, sebagai bukti terjadinya resesi.

Ket. Foto: David Rosenberg — Sumber: ISTIMEWA

"Jika dirata-ratakan dengan PDB, ekonomi (AS) mengalami kontraksi selama empat kuartal berturut-turut dan dalam empat dari lima (kuartal) terakhir. Resesi telah terjadi dan tidak ada yang menyadarinya," tulis laporan tersebut, yang mengutip pernyataan Rosenberg dalam sebuah cuitan di Twitter, pada Kamis (25/5) lalu.

Ekonom veteran itu secara konsisten membuat pernyataan pesimistis tentang ekonomi AS tahun ini. Dalam sebuah cuitan sebelumnya, Rosenberg mengatakan indeks acuan S&P 500 mengisyaratkan resesi seiring jatuhnya saham-saham utama yang berkaitan erat dengan ekonomi riil. "Kekhawatiran resesi telah menghantui para investor selama berbulan-bulan, setelah Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga dari level mendekati nol menjadi lebih dari 5 persen selama 14 bulan terakhir dalam upaya untuk meredam inflasi," tulis laporan tersebut.

Memicu Kekhawatiran

Dipadukan dengan gejolak di sektor perbankan dan tekanan kredit selanjutnya, hal itu memicu kekhawatiran AS akan terjerembap ke dalam resesi.

Rosenberg, yang telah memiliki pandangan bearish (sentimen pasar untuk penurunan harga pada pasar) terhadap ekonomi AS selama berbulan-bulan, menyoroti keterputusan dalam bagaimana pasar keuangan melihat resesi.

Dalam tweet Kamis, dia menunjukkan industri utama dalam indeks S&P 500, seperti transportasi dan kebijaksanaan konsumen, yang terkait dengan kesehatan ekonomi, diperdagangkan pada level yang jauh lebih rendah. Itu adalah gejala dari penurunan seperti banyak lainnya di masa lalu, termasuk selama krisis keuangan 2008, menurut Rosenberg. Indeks S&P 500 secara keseluruhan naik 9,64 persen sejak awal tahun.

Veteran Wall Street itu tidak sepenuhnya percaya pada narasi optimistis bahkan awal tahun ini. Pada bulan Februari, dia men-tweet gagasan skenario di mana kenaikan suku bunga tidak akan memicu resesi sementara tingkat inflasi tetap tinggi dan ekonomi tumbuh, jauh dari kenyataan.

"Narasi 'tidak ada pendaratan adalah tipuan terbesar yang dijajakan para ekonom Wall Street sejak 'decoupling global' pada 2008," cuit Rosenberg, mengacu pada gagasan di mana siklus bisnis negara berkembang dan negara maju semakin berbeda.

Rosenberg memperingatkan tentang resesi yang menghantam ekonomi AS bahkan awal tahun ini, mengatakan indeks S&P 500 bisa turun 30 persen pada saat Fed menghentikan kenaikan suku bunga. "Resesi baru saja dimulai," kata Rosenberg kepada MarketWatch.

"Pasar turun biasanya di babak keenam atau ketujuh dari resesi, jauh ke dalam siklus pelonggaran the Fed," katanya, menunjuk ke periode penderitaan ekonomi yang berkepanjangan.

Jika pengukur jangka panjang lainnya, seperti harga tembaga, dapat dipercaya, ini mungkin lebih dekat ke resesi sekarang daripada yang disadari investor. "Ini adalah bukti fisik pertama yang kami lihat permintaan dipengaruhi lebih buruk dari yang diharapkan di Barat," kata analis logam dasar di broker StoneX, Natalie Scott- Gray, kepada Financial Times tentang harga tembaga.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.