Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemilu Thailand, Akankah Demokrasi Hidup Kembali di Negeri Siam?

📅 Selasa, 23 Mei 2023, 14:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pemilu Thailand, Akankah Demokrasi Hidup Kembali di Negeri Siam? Doc: Bangkok Post/AFP
Ket. Pendukung partai Move Forward memegang kipas bergambar pemimpin partai, Pita Limjaroenrat, pada Minggu.

Greg Raymond, Australian National University

Terakhir kali para pemilih pergi ke tempat pemungutan suara di Thailand adalah pada tahun 2019, setelah lima tahun berada di bawah kediktatoran militer yang represif. Para pemilih di Thailand dengan gugup menyuarakan aspirasi demokratis mereka dan membiarkan pemerintah dipimpin militer.

Sekarang, setelah berada di bawah parlemen demokratis selama empat tahun demokrasi, para pemilih Thailand akhirnya bersuara. Dengan hampir semua suara telah dihitung dalam pemilihan parlemen hari Minggu, mereka telah dengan tegas menolak kepemimpinan junta dan partai-partai proksi militer penggantinya.

Partai paling progresif di Thailand,_ Move Forward_, tampaknya akan mendapatkan kursi terbanyak di parlemen baru. Di belakangnya ada partai Pheu Thai yang lebih mapan dan juga liberal dari dinasti Shinawatra yang terpecah belah.

Berada di posisi ketiga adalah Bhumjaithai. Partai yang berbasis di pedesaan dan lebih tradisional dalam politik patronase ini baru-baru ini menjadi mitra koalisi pemerintah sebelumnya.

Jauh di belakang, di tempat keempat dan kelima, ada dua partai proksi militer: Palang Pracharat, yang dipimpin oleh mantan wakil perdana menteri dan kepala angkatan darat Prawit Wongsuwan, dan United Thai Nation, yang dipimpin oleh Perdana Menteri saat ini Prayuth Chan-ocha, pemimpin kudeta tahun 2014.

Apakah ini akan menjadi awal dari era demokrasi?

Hasil ini mencerminkan dorongan besar di belakang Move Forward yang memenangkan setengah dari jumlah kursi yang diperoleh pada pemilu 2019. Sekarang, Move Forward tampaknya akan merebut semua kecuali satu dari 33 kursi parlemen di Bangkok yang di masa lalu dipandang sebagai kubu Pheu Thai.

Sulit untuk tidak bertanya-tanya apakah kinerja yang kuat dari Gubernur Bangkok yang baru saja terpilih, Chadchart Sittipunt, seorang independen yang telah menetapkan standar baru dalam hal transparansi, akuntabilitas, dan kerja keras, mungkin telah mempengaruhi pilihan para pemilih di Bangkok.

Move Forward memiliki karakter pemimpin yang serupa dalam diri mantan pengusaha lulusan Harvard Pita Limjaroenrat - seseorang yang berpendidikan tinggi dan berpikiran bisnis.

Pembentukan pemerintahan baru yang secara tegas menentang keterlibatan militer dalam politik tampaknya logis, dan berpotensi mengantarkan era baru yang progresif dan demokratis dalam politik Thailand, dengan Pita sebagai perdana menteri yang baru.

Hal ini dapat menjadi perubahan yang transformasional bagi negara di kawasan Asia Tenggara - terutama negara-negara di kawasan darat. Demokrasi telah diserang di kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir dengan kudeta tahun 2021 di Myanmar dan Kamboja yang semakin otokratis di bawah pemerintahan Hun Sen.

Dukungan terhadap pemerintah petahana Thailand yang bersekutu dengan militer yang mengalami penurunan dramatis kemungkinan besar mencerminkan sentimen umum di antara rakyat Thailand bahwa sudah waktunya bagi militer untuk pergi.

Prayuth telah menjadi perdana menteri sejak Mei 2014, ketika sebagai perwira militer ia melakukan kudeta terhadap pemerintahan Yingluck Shinawatra yang terpilih secara demokratis. Sejak saat itu, rakyat Thailand sudah bosan dengan gaya pemerintahannya yang otokratis, pemarah, dan manajemen ekonomi yang biasa-biasa saja.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

51 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

54 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.