Tahi Lalat Bisa jadi Pertanda Anda Terkena Kanker Kulit Melanoma

Sabtu, 22 Apr 2023, 18:38 WIB

Walaupun tahi lalat yang juga dikenal sebagai nevus adalah tumor berpigmen jinak, siapa sangka bahwa tahi lalat dapat mengindikasikan bahwa seseorang terkena melanoma, yakni jenis kanker kulit paling berbahaya.

Para peneliti telah menemukan beberapa perubahan gen di dalam sel tahi lalat yang dapat menyebabkannya menjadi sel melanoma. Faktanya, menurut Mayo Clinic, perubahan pada tahi lalat bisa menjadi tanda dan gejala pertama terjadinya melanoma. Meski kebanyakan tahi lalat tidak akan pernah menimbulkan masalah, tetapi seseorang yang memiliki banyak tahi lalat lebih berisiko mengembangkan melanoma.

Ket. Foto: Ilustrasi. — Sumber: Healio Dermatology

Masih dilansir dari laman Mayo Clinic, tahi lalat yang normal biasanya berupa bercak cokelat atau hitam yang merata pada kulit. Bentuknya sendiri bisa datar atau menonjol, baik bulat atau oval. Umumnya, tahi lalat normal berukuran kurang dari 6 milimeter. Walau beberapa tahi lalat dapat hadir saat lahir, tetapi sebagian besar justru muncul selama masa kanak-kanak atau dewasa muda. Seiring perkembangan, biasanya ukuran, bentuk, dan warna tahi lalat akan tetap sama selama bertahun-tahun. Bahkan, beberapa tahi lalat akhirnya bisa memudar. Tetapi tetap penting untuk mengenali perubahan pada tahi lalat, seperti ukuran, bentuk, warna, atau teksturnya, yang dapat menunjukkan kemungkinan berkembangnya melanoma.

Menurut American Cancer Society, risiko melanoma juga bergantung pada jenis tahi lalat. Tahi lalat atipikal atau dysplastic nevi misalnya. Meski terlihat normal, tahi lalat ini memiliki sejumlah ciri melanoma. Tahi lalat atipikal seringkali lebih besar dari tahi lalat lain dan memiliki bentuk atau warna yang tidak normal. Mereka dapat muncul pada kulit yang terpapar sinar matahari serta kulit yang biasanya tertutup, seperti pada bokong atau kulit kepala. Kabar baiknya, Hanya sebagian kecil nevi displastik yang dapat berkembang menjadi melanoma.

Namun, risiko melanoma dapat meningkat pada orang dengan dysplastic nevus syndrome atau mereka yang memiliki banyak tahi lalat atipikal. Terutama jika memiliki anggota keluarga dengan riwayat melanoma. Orang dengan kondisi ini memiliki risiko melanoma seumur hidup yang sangat tinggi, sehingga mereka perlu menjalani pemeriksaan kulit yang sangat menyeluruh dan teratur oleh dokter kulit. Terkadang foto seluruh tubuh diambil untuk membantu dokter mengenali jika tahi lalat berubah dan tumbuh.

Kedua, congenital melanocytic nevi. Tahi lalat yang ada saat lahir yang disebut congenital melanocytic nevi memiliki risiko antara nol sampai 5 persen untuk berkembang menjadi melanoma. Orang dengan congenital melanocytic nevi dengan ukuran yang lebih besar memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena melanoma daripada mereka yang memiliki tahi lalat jenis ini dalam ukuran yang kecil. Tahi lalat bawaan terkadang diangkat melalui pembedahan sehingga tidak memiliki peluang untuk berkembang menjadi kanker. Apakah dokter menyarankan untuk mengeluarkan tahi lalat bawaan tergantung pada beberapa faktor termasuk ukuran, lokasi, dan warnanya. Banyak dokter menganjurkan agar seseorang dengan tahi lalat bawaan yang tidak diangkat, harus diperiksa secara teratur oleh dokter kulit dan pasien harus diajari cara melakukan pemeriksaan kulit sendiri setiap bulan.

Sekali lagi, kemungkinan setiap tahi lalat berubah menjadi kanker sangat rendah. Namun, siapa pun dengan banyak tahi lalat yang tidak beraturan atau besar memiliki peningkatan risiko melanoma. Kabar baiknya, ada lima langkah yang bisa Anda lakukan untuk mengidentifikasi karakteristik tahi lalat yang tidak biasa, yang mungkin mengindikasikan melanoma atau kanker kulit lainnya.

Pertama, carilah tahi lalat dengan bentuk tidak beraturan, seperti dua bagian yang terlihat sangat berbeda. Kedua, cari tahi lalat dengan batas yang tidak beraturan, berlekuk atau bergerigi yang merupakan ciri-ciri melanoma. Ketiga, carilah tahi lalat yang memiliki banyak warna atau distribusi warna yang tidak merata. Keempat, lihat apakah tahi lalat yang lebih besar dari 6 milimeter. Kelima dan terakhir, carilah perubahan tahi lalat dari waktu ke waktu, seperti tahi lalat yang membesar atau berubah warna atau bentuk. Tahi lalat juga dapat berevolusi untuk mengembangkan tanda dan gejala baru, seperti gatal baru atau pendarahan.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Suliana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.