Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Demensia, Penyakit Pikun yang Bisa Dikurangi Risikonya dengan 6 Cara Ini

📅 Minggu, 16 Apr 2023, 14:51 WIB | Oleh: Tim Penulis
Demensia, Penyakit Pikun yang Bisa Dikurangi Risikonya dengan 6 Cara Ini Doc: antara
Ket. Ilustrasi - dementia syndrome.

Helen Macpherson, Deakin University

Sebuah populasi yang menua mengakibatkan tumbuhnya jumlah orang yang hidup dengan demensia (sebuah istilah yang mencakup beberapa gejala seperti kerusakan ingatan, kebingungan, dan hilangnya kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari).

Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia paling umum, dan mengakibatkan kemunduran kesehatan otak yang progresif.

Di Australia, 425 ribu orang mengidap demensia, yang menjadi penyebab kematian nomor dua secara umum, dan nomor satu bagi perempuan.

Risiko utama demensia adalah usia tua. Sekitar 30 persen orang berusia di atas 85 tahun di Australia hidup dengan demensia. Selain itu, faktor genetika atau keturunan juga punya andil di awal penyakit, tapi lebih kuat pada jenis demensia yang lebih jarang, seperti penyakit Alzheimer dini (yang menyerang pada usia muda).

Kita memang tidak bisa mengurangi umur atau profil genetis kita, tetapi untungnya ada beberapa gaya hidup yang bisa diubah untuk menurunkan risiko terkena demensia.

1. Terlibat dalam kegiatan yang merangsang mental

Pendidikan adalah penentu penting dalam risiko demensia. Seseorang yang mengecap kurang dari 10 tahun pendidikan formal punya peluang lebih besar terkena demensia. Mereka yang tidak lulus SMP atau sederajat punya risiko paling tinggi.

Tapi jangan panik. Kita masih bisa memperkuat otak kita pada umur berapa pun, melalui prestasi di dunia kerja dan kegiatan bersenang-senang, seperti membaca koran, bermain kartu, atau belajar keahlian atau bahasa baru.

Terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa latihan berkelompok untuk melatih daya ingat serta strategi memecahkan persoalan dapat meningkatkan fungsi kognitif jangka panjang kita. Tetapi hasil yang sama belum tentu didapati lewat "latihan otak" yang ada di program komputer karena kegiatan yang merangsang mental dalam kondisi berkelompok/sosial mungkin juga menyumbang keberhasilan latihan kognitif.

2. Menjaga hubungan sosial

Hubungan sosial yang lebih sering (misalnya mengunjungi teman atau saudara atau mengobrol di telepon) punya kaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah. Sebaliknya, rasa kesepian dapat meningkatkan risiko demensia.

Keterlibatan yang lebih besar dalam kegiatan kelompok atau komunitas juga punya hubungan dengan risiko yang lebih rendah. Yang menarik adalah, jumlah teman tidak terlalu relevan dibanding frekuensi hubungan dengan orang lain.

3. Menjaga berat dan kesehatan jantung

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Polri Gelar Upacara Serah Terima Panji Tribrata

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Polri Gelar Upacara Serah T...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.