Harga Minyak Mentah Jatuh Saat Kekhawatiran Suku Bunga Naik
Selasa, 11 Apr 2023, 09:30 WIBNEW YORK - Harga minyak lebih rendah pada akhir perdagangan Senin (10/4) atau Selasa pagi WIB, setelah naik selama tiga minggu berturut-turut, karena kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga lebih lanjut yang dapat mengekang permintaan mengimbangi prospek pasar yang lebih ketat karena pemotongan pasokan dari produsen OPEC+.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, tergelincir 96 sen atau 1,19 persen, menjadi menetap di 79,74 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni merosot 94 sen atau 1,10 persen, menjadi ditutup di 84,18 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.
Sebagian besar pelaku pasar energi masih menunggu sampai mereka mendapatkan kejelasan lebih lanjut tentang prospek pertumbuhan global, menurut Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, pemasok layanan perdagangan daring multi-aset.
Ada banyak berita utama tetapi tidak ada yang menggerakkan minyak pada Senin (10/4) karena harga tampaknya melayang di atas 80 dolar AS per barel mengingat semua tantangan pasokan, kata Moya.
Mengingat pengurangan produksi sukarela oleh beberapa negara penghasil minyak dan meningkatnya ketegangan geopolitik, minyak akan mulai membangun level terendah pada 80,00 dolar AS per barel dan bekerja menuju ujung atas 80,00 dolar AS per barel dalam beberapa minggu mendatang, menurut Phil Flynn, analis senior di The PRICE Futures Group.
Flynn memperkirakan persediaan minyak mentah komersial AS menunjukkan peningkatan 1 juta barel minggu ini selain pertumbuhan persediaan bensin dan solar.
Selain itu, indeks dolar AS membukukan pertumbuhan yang solid pada Senin (10/4), yang membebani harga aset dalam mata uang dolar AS.
Dolar AS naik setelah data pekerjaan AS menunjukkan pasar tenaga kerja yang ketat, meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve lainnya. Kekuatan dolar membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya dan dapat membebani permintaan.
"Kami melihat perdagangan minggu ini akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi yang ditampilkan oleh IHK (Indeks Harga Konsumen) Rabu (12/4) dan IHP (Indeks Harga Produsen) Kamis (13/4) yang kemungkinan akan menghidupkan kembali momok suku bunga yang lebih tinggi yang dapat memperkuat dolar AS," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.
Minyak mentah minggu lalu melonjak lebih dari 6,0 persen setelah OPEC+, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, mengejutkan pasar dengan putaran baru pengurangan produksi mulai Mei.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Menko IPK: Transformasi Transmigrasi Instrumen Strategis Pembangunan
-
OJK Keluarkan Aturan Baru Penguatan Pembiayaan Multifinance sampai Modal Ventura
-
Harga Emas Antam Sabtu Ini Naik Rp68.000, Jadi Rp3,012 Juta/Gr
-
Penyaluran Donasi untuk Siswa Madrasah yang Terdampak Banjir
-
Persiapan Imlek 2026 di Tulungagung: Tradisi Ganti Baju Dewa Mak Co
-
Bogor Merawat Persatuan lewat Bakti Lintas Agama
-
Harga Minyak Mentah Lanjutkan Kenaikan, Saham Asia Merosot Seiring Pudarnya Harapan Perundingan Damai
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.