Najib Minta Mahathir Setop Gunakan Sentimen Melayu

Jumat, 24 Mar 2023, 02:10 WIB

KUALA LUMPUR - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, yang saat ini dipenjara, mengecam mantan PM Mahathir Mohamad dengan mengatakan kepada musuh bebuyutannya itu untuk berhenti menggunakan sentimen Melayu untuk mendukung agenda politiknya.

Dalam sebuah posting di media sosial Facebook pada Selasa (21/3), Najib mengatakan bahwa ketika Mahathir berkuasa, dia mencap orang Melayu sebagai orang yang malas, tidak tahu berterima kasih, naif secara politik, boros dan selalu iri dengan kekayaan orang lain. Namun ketika dia tidak lagi berkuasa, kata Najib, Mahathir mengklaim orang Melayu terpinggirkan dan tertindas.

Ket. Foto: Najib Razak - Mahathir Mohamad — Sumber: AFP/Roslan RAHMAN

"Cukup sudah. Berhentilah menggunakan sentimen Melayu," tulis Najib di media sosial yang telah disukai 17.000 audiens, dibagikan ke lebih dari 550 pihak, dan sekitar 1.300 komentar.

Dia juga mengatakan Mahathir memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain atas insiden kontroversial yang terjadi selama masa jabatannya, mengutip tindakan keras tahun 1987 di mana lebih dari 100 orang ditangkap di bawah Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA), dan pencopotan Salleh Abas sebagai pejabat ketua Pengadilan Federal pada tahun 1988.

"Semuanya bukan salahnya. Ternyata dia hanya tiang kayu selama 22 tahun menjadi perdana menteri keempat," tambah Najib.

Mahathir menjabat sebagai perdana menteri sebanyak dua kali dari 1981 hingga 2003, dan dari 2018 hingga 2020, dan ia mengundurkan diri dua kali. Dia kehilangan kursi parlemennya di Langkawi dalam Pemilihan Umum 2022.

Menanggapi postingan Najib di media sosial, Mahathir mengatakan pada Rabu (22/3) bahwa polisilah yang memprakarsai tindakan keras ISA, yang disebut Operasi Lalang.

"Aku tidak memprakarsainya. Seorang perdana menteri harus mendengarkan polisi. Mereka bertanggung jawab atas keamanan negara. Pendapat dan saran mereka tidak bisa dikesampingkan begitu saja," kata dia dalam sebuah posting di Facebook.

Pernyataannya disertai dengan cuplikan video dari tahun 2011 di mana mantan Kapolri Hanif Omar mengakui bahwa keputusannya untuk melakukan tindakan keras.

Seruan ke-2

Ini adalah kedua kalinya dalam tiga hari Najib mencecar Mahathir, 97 tahun. Pada Senin (20/3) lalu, Najib menyebut Mahathir seorang diktator yang tidak berhak melabeli orang lain seperti itu.

Seruan itu terjadi setelah Mahathir pada Minggu (19/3) menuduh Perdana Menteri Anwar Ibrahim sebagai diktator setelah pertemuan pro-Melayu dibatalkan.

Najib saat ini menjalani masa hukuman penjara 12 tahun setelah dinyatakan bersalah oleh pengadilan korupsi Malaysia yang terkait dengan 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Dia secara konsisten membantah melakukan kesalahan.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Saifuddin Nasution Ismail mengatakan Departemen Penjara telah mengizinkan Najib menjalani perawatan medis di sebuah rumah sakit di Kuala Lumpur. Namun, dia tidak mengatakan penyakit apa yang diderita Najib atau jenis perawatan yang dijalani mantan perdana menteri Malaysia itu. ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.