Dunia saat Ini Sedang Mengalami 'Polycrisis'

Rabu, 15 Mar 2023, 00:03 WIB

JAKARTA - Dunia saat ini sedang mengalami polycrisis atau krisis simultan lantaran berada dalam situasi volatilitas yang tinggi dan berkombinasi dengan krisis. Ekonom Senior Bank Dunia, Wael Mansour, dalam acara Indonesia Leading Economic Forum 2023 di Jakarta, Selasa (14/3), mengatakan saat ini belum bisa merasa optimistis atau positif meskipun terdapat beberapa negara di dunia yang sudah mengalami peningkatan perekonomian.

Menurut Mansour, ada tiga hal penting yang mewarnai perekonomian global saat ini. Pertama, faktor geopolitik yang benar-benar dapat mengubah banyak hal. Bank Dunia melihat invasi Russia ke Ukraina telah memicu resesi global, hingga beberapa ketegangan dari Timur Tengah yang dapat mengubah dinamika dan bidang lainnya. "Sungguh, ada kendala geopolitik yang bisa menjadi ciri volatilitas ini," jelas Mansour.

Ket. Foto: Ekonom Senior Bank Dunia, Wael Mansour — Sumber: ISTIMEWA

Ciri kedua, jelasnya, yaitu dunia terus hidup dalam lingkungan harga komoditas yang tinggi. Meski baru-baru ini beberapa harga komoditas seperti minyak, batu bara, dan sebagainya telah menurun, tetapi harganya tetap tinggi secara historis.

Adapun Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) benar-benar memangkas produksi atau tidak meningkatkan produksi untuk mempertahankan sebagian dari harga komoditas yang tinggi tersebut.

Kemudian, poin yang menjadi ciri ketiga yakni dunia kini hidup di lingkungan dengan biaya pinjaman yang tinggi. Mansour mengungkapkan hal tersebut karena terdapat lebih banyak pengetatan kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat (AS), the Fed, sehingga era dana murah dan tersedia sudah tidak ada lagi.

"Jadi kita benar-benar hidup di lingkungan global yang tidak pasti dan volatile," tegas Mansour.

Sangat Dilematis

Pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Yohanes B Suhartoko, mengatakan dunia saat ini memang mengalami berbagai macam krisis yang mengakibatkan pertumbuhan global rendah. Dalam penyelesaian masalah tersebut, terkadang pengambil keputusan dihadapkan pada kondisi yang dilematis karena beberapa negara yang punya peran penting dalam ekonomi dunia tengah berperang melawan inflasi yang tinggi.

"Akibat dari polycrisis ini dunia dalam kondisi ketidakstabilan dan ketidakpastian ekonomi," kata Suhartoko.

Kebijakan pengendalian inflasi suatu negara seperti AS dan negara-negara Eropa, berdampak pada ketidakstabilan ekonomi makro negara lain, seperti melemahnya nilai tukar, kenaikan suku bunga, bahkan dapat menyebabkan turunnya pertumbuhan ekonomi akibat menurunnya investasi.

Bagi pengambil kebijakan sektor ekonomi di Indonesia menghadapi kondisi seperti ini, target yamg ingin dicapai mungkin saja tidak optimal karena menghadapi beberapa pilihan target. "Untuk itu, perlu koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk mengambil jalan tengah stabilisasi harga, nilai tukar dan pertumbuhan," kata Suhartoko.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Imron Mawardi, mengatakan untuk mengantisipasi krisis yang lebih besar, pemerintah disarankan agar memperkuat industri padat karya yang berorientasi ekspor.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.