• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Jejak Kemegahan Romawi di ...

Jejak Kemegahan Romawi di Aljazair

Kamis, 09 Mar 2023, 06:10 WIB

Romawi pernah menguasai seluruh laut tengah baik di pesisir Eropa, Asia, hingga Afrika. Salah satu jejak peninggalan peradabannya yang maju di luar Eropa yang bisa dilihat berada di Aljazair.

Kekuasaan Romawi, sebuah pemerintahan yang pernah berbentuk republik dan kemudian berubah menjadi kekaisaran, sangat luas. Kepemilikan wilayah kekuasaan yang luas di sekitar Laut Tengah di Eropa, Afrika, dan Asia.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Salah satu bukti kekuasaan Romawi di Afrika adalah banyaknya peninggalan bangunan bersejarah di kawasan Afrika utara, salah satunya adalah di Aljazair. Di negara terbesar di Afrika, membentang dari garis pantai Mediterania hingga pedalaman gurun Sahara.

Negara ini memiliki beberapa situs Romawi terbaik dan paling beragam, termasuk Timgad dan Djémila, keduanya terpelihara dengan baik dan terdaftar di UNESCO. Terlarang selama beberapa dekade, Aljazair menjadi tujuan favorit banyak pelancong Barat di Afrika utara. Bagi penggemar sejarah kuno, negara ini adalah surganya.

Wilayah Aljazair berada di persimpangan sejarah. Orang Fenisia, navigator dan pedagang terkenal dari pantai Suriah-Lebanon, mendarat di Kartago pada abad ke-9 SM. Mereka mendirikan pelabuhan dan pos perdagangan di sepanjang pantai Afrika utara. Pada abad ke-6 SM, kehadiran orang Fenisia ada di Tipaza (timur Cherchell), Hippo Regius (Annaba modern) dan Rusicade (Skikda modern).

Pedagang Fenisia mendiami garis pantai, sementara suku nomaden dan semi nomaden Berber mendiami pedalaman Aljazair. Orang Berber berdagang dengan orang Fenisia. Mereka menjual hasil pertanian yang menjadi komoditas andalan kepada para pedagang Fenesia yang sangat menguasai lautan.

Pada abad ke-4 sebelum masehi (SM), Kartago menguasai pantai Afrika utara dan memperluas jalur perdagangan. Hubungan perdagangan dengan suku-suku lokal berlanjut, segelintir negara bagian Berber tumbuh berkuasa, dan kerajaan-kerajaan bermunculan.

Dua masyarakat lokal yang paling menonjol adalah Mauri, yang bergabung untuk membentuk Mauretania. Wilayah yang setara dengan Maroko modern. Sedangkan Numidian menempati wilayah antara Mauri dan negara kota Kartago.

Ekspansi Kartago dan Romawi menyebabkan konflik, dan permusuhan meledak menjadi Perang Punisia (264-146 SM). Suku Numidian mendukung pihak yang berbeda dalam perang. Seorang raja, Masinissa (202-148 SM), bersekutu dengan Roma dan mengambil bagian dalam Pertempuran Zama (202 SM), yang mengakhiri perang dengan kekalahan di pihak Kartago.

Berakhirnya Perang Punisia Ketiga dan kekalahan Kartago adalah awal kehadiran Romawi di Afrika utara. Provinsi pertama Roma, didirikan di Afrika. Letaknya kira-kira setara dengan Tunisia modern, letaknya di timur laut Aljazair, dan pantai Libya barat, didirikan.

Utica (dekat Bizerte di Tunisia) adalah ibu kota administratifnya. Dengan dukungan Romawi, Massinissa mendirikan kerajaannya sendiri di Numidia, sebelah barat Kartago, dengan Cirta (Konstantinus) sebagai ibu kotanya. Numidia berkembang di bawah pemerintahannya dan putranya Micipsa (148-118 SM).

Kemakmuran dan Pemberontakan

Ketika Bocchus II dari Mauretania meninggal pada tahun 33 SM, dia mewariskan kerajaannya ke Roma. Namun, Kaisar Augustus yang memerintah 27 SM sampai 14 M, memilih untuk tidak mencaplok negara tersebut, sehingga Mauretania menjadi kerajaan tersendiri.

Negara ini menjadi pelindung bagi Roma di perbatasan barat, dengan menunjuk Juba II (50 SM sampai 24 M) sebagai raja Mauretania. Juba II adalah seorang sarjana terkenal yang menikah dengan putri Cleopatra dengan Mark Antony, Cleopatra Selene II (40 SM sampai 5 SM).

Setelah pembunuhan putra Juba, Ptolemeus dari Mauretania (memerintah 20-40 M), c. 40 M, kerajaan ini terpecah menjadi dua provinsi. Pertama Mauretania Tingitana di barat atau Maroko saat ini dan kedua Mauretania Caesariensis di timur atau Aljazair saat ini, dengan ibukotanya di Kaisarea (Cherchell).

Kota-kota itu didirikan atau diberikan status yang lebih tinggi, dan kehadiran militer menguasai wilayah yang ditaklukkan. Pada pertengahan abad ke-2 M, para veteran Romawi mendirikan pemukiman di Tipasa (Tipaza), Cuicul (Djémila), Thamugadi (Timgad) dan Sitifis (Sétif).

Lambaesis adalah tempat kedudukan Legiun Kaisar Augustus III. Militer bertanggung jawab untuk melindungi kota dan membangun jalan, membawa peradaban Romawi ke berbagai wilayah di Afrika Utara. Budaya Romawi berkembang pesat, dan provinsi-provinsi Afrika utara menikmati kemakmuran selama empat abad.

Pertanian berkembang pesat saat Afrika memasok lebih dari 60 persen kebutuhan biji-bijian Kekaisaran Romawi. Sebagian besar hewan liar yang digunakan dalam pertunjukan amfiteater berasal dari pelabuhan Afrika, serta emas, minyak zaitun, budak, gading, dan kecap ikan (garum). Orang Afrika Romawi mulai mempengaruhi Roma, dan beberapa orang Berber diberikan kewarganegaraan Romawi.

Namun, pemberontakan Berber sering terjadi. Kaisar Romawi Trajan (memerintah 98-117 M) membangun benteng yang mengelilingi Pegunungan Aures sebagai tanggapan. Sementara penggantinya Hadrian (memerintah 117-138 M) melakukan perjalanan ke Afrika utara pada 128 M untuk menginspeksi tentara.

Pada akhir abad ke-2 M, sebuah provinsi baru Numidia dibentuk di bawah kaisar Septimius Severus (memerintah 193-211 M), seorang keturunan Afrika. Banyak penduduk Romawi dan Berber memeluk agama Kristen, dan perpecahan doktrinal kemudian menonjolkan salah satu Bapa Gereja Kristen terbesar, Agustinus dari Hippo (354-430 M).

Numidia tetap menjadi provinsi Romawi setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476 M.

Kehadiran Romawi melemah dengan penaklukan Vandal Jerman di bawah Gaiseric (memerintah 428-478 M) pada 429 M. Selain itu upaya tentara Bizantium untuk mengontrol provinsi-provinsi Afrika utara setelah kekalahan kaum Vandal gagal. Keseharian orang Arab yang muncul pada abad ke-7 M mengakhiri sejarah Romawi di Afrika utara. hay

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.