Tenggelam Dihantam Torpedo Jepang di Selatan Cilacap
Selasa, 07 Mar 2023, 06:55 WIBPesawat tempur P-40 Warhawk miliki Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) yang menjadi andalan angkatan udara Sekutu di Asia Pasifik tidak memiliki jangkauan untuk terbang ribuan mil dari pangkalan di Australia ke Jawa. Pesawat harus mengisi bahan bakar dalam perjalanan yaitu di Pulau Timor.
Meski demikian sebanyak 32 pesawat P-40 berhasil diterbangkan dari Australia ke Jawa. Namun sebanyak 44 pesawat tambahan hilang dalam perjalanan. Menyadari Timor sebagai lokasi pengisian bahan bakar, pada 20 Februari 1942 Jepang mendaratkan pasukannya di pulau itu.
Bercokolnya Jepang di Timor membuat AS memutuskan untuk mengirim pesawat tempur P-40 ke Jawa dengan Langley. Di Fremantle, Australia, Langley memuat 32 pesawat tempur P-40E di dek penerbangannya yang dipotong dan di ruang terbuka di belakang jembatan di dek utamanya.
Tiga puluh tiga pilot perwira dan 12 mekanik terdaftar ikut serta. Pilot, dengan satu pengecualian, memiliki sedikit atau tidak ada pengalaman menerbangkan P-40. Namun tetap saja, mereka menerbangkan pesawat ini sejauh 2.400 mil melintasi Australia untuk mencapai Fremantle.
Pesawat-pesawat itu ditempatkan di atas USS Langley dengan senapan mesin terisi tetapi tidak diisi bahan bakar. Sebanyak 27 tujuh pesawat P-40 lagi, ditempatkan di dalam peti kapal barang berbendera AS, Sea Witch. Dalam konvoi MS-5 dengan beberapa kapal lain, keduanya berangkat dari Fremantle di pantai barat Australia pada 22 Februari.
Menurut laman US Naval Institute (USNI), tiga kapal kargo lainnya dalam konvoi, dalam perjalanan ke Ceylon, membawa eselon darat unit pengebom berat B-17 dan unit tempur P-40 yang dikirim ke India. Sepuluh peti P-40 juga ada di dalam kapal itu.
Kebutuhan akan pesawat tempur di Jawa begitu mendesak sehingga Langley dan Sea Witch memisahkan diri dari konvoi dan secara terpisah berlayar tanpa pengawalan ke pelabuhan Tjilatjap atau Cilacap di Pulau Jawa. Berlayar dengan kecepatan penuh sekitar 14 knot, Langley diharapkan tiba di pelabuhan pada pagi hari tanggal 27 Februari 1942.
Namun, jadwal itu ditunda pada 26 Februari karena kekacauan terkait kapal yang akan mengawalnya di bagian terakhir pelayaran. Akhirnya, dua kapal perusak AS bertemu dengan Langley, tetapi terjadi penundaan lagi saat kontak kapal selam yang dicurigai gagal. Pada awal 27 Februari 1942, Langley dan pengawalnya memulai pelayaran 100 mil terakhir ke Tjilatjap.
Sekitar pukul 09.00 sebuah pesawat tak dikenal terlihat jauh di atas tiga kapal. Pengamanan dengan pesawat tempur dari Angkatan Darat diminta oleh komandan Langley. Sayangnya tidak ada bala bantuan yang dapat menyelamatkan skuadron itu yang berada dalam tekanan Jepang di Jawa.
Pada jam 11.40, lebih banyak pesawat terlihat dan stasiun pertempuran terdengar. Senjata anti pesawat Langley mengarah ke langit dari dua kapal perusak pengawal. Masing-masing memiliki satu senapan kaliber 3 inci dan senapan mesin untuk pertahanan udara.
Dilihat dari geladak USS Whipple (DD-217), Langley ditorpedo sehingga mengalami kerusakan fatal di selatan Jawa. Saat itu Langley dipersenjatai dengan empat senjata anti pesawat berukuran 3 inci yang dipasang di dek penerbangannya.
Pada kali ketiga pilot Jepang mengantisipasi manuver kapal. Langley diserang oleh lima serangan langsung, dengan dua nyaris meleset. Kapal berusia 29 tahun itu terhuyung-huyung di bawah hantaman itu.
Pesawat-pesawat di dek penerbangannya terbakar di tengah tiupan angin kencang. Mekanisme kemudi dan kompas gyro hancur. Kapal miring 10 derajat ke kanan. Saat Langley terhuyung-huyung, enam pesawat tempur A6M Zero memberondong kapal yang terbakar itu.
Komandan McConnell melakukan upaya dengan menyelamatkan kapalnya yang tertimpa bencana itu dengan mendorong ke samping. Langley diarahkan ke pantai Jawa dengan harapan dia bisa kandas untuk menyelamatkan pesawat yang tersisa. Tapi penggerak motor listrik terkena air sehingga mati.
Pada 13.32 McConnell memerintahkan awak kapal untuk meninggalkan kedua kapal perusak. Semua awak kecuali 11 awak dan personel penerbangan Angkatan Darat yang berangkat selamat. Ketika hanya orang mati yang tersisa di Langley, salah satu kapal perusak menenggelamkannya dengan dua torpedo dan sembilan peluru 4 inci tembakan.
Langley tenggelam sekitar 75 mil dari pantai Pulau Jawa di Selatan Cilacap. Peristiwa ini mengakhiri karier perintis dari kapal induk pertama Angkatan Laut AS. Kapal ini merupakan nenek moyang dari kapal induk besar berbobot besar dengan tenaga nuklir yang dimiliki AS saat ini. hay
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Kapal Perang AS Kunjungi Pangkalan AL Kamboja
-
Indonesia Bakal Punya Kapal Induk Pertama, Hibah dari Italia
-
Pertamina Patra Niaga Upayakan Layanan Energi Tetap Stabil di Tengah Banjir dan Longsor untuk Cukupi Kebutuhan Masyarakat
-
Libur Natal-Tahun Baru, TMII Targetkan 430 Ribu Pengunjung
-
Asuransi Usaha Tani Padi Dinilai Jadi Opsi Lindungi Risiko Gagal Panen Petani
-
Lewat Jalur Udara, TNI AL Lakukan Evakuasi Medis Korban Bencana
-
Dinkes Kota Batu Imbau Masyarakat Prioritaskan Kesehatan Saat Mudik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.