Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pengelolaan Utang Harus Diwaspadai agar Produktif

📅 Senin, 06 Feb 2023, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pengelolaan Utang Harus Diwaspadai agar Produktif Doc: Sumber: Kementerian Keuangan - Litbang KJ - KJ/ONE

JAKARTA - Pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, pekan lalu, mengenai rasio utang pemerintah sebesar 39,57 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) masih termasuk sehat menuai kontroversi dari para ekonom.

Alasan Menkeu menyatakan rasio tersebut masih sehat karena di bawah ketetapan Undang-Undang (UU) yang mengatur utang pemerintah maksimal 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Anda terobsesi yang dianggap sehat itu negara tidak ada utang, ya tidak ada. Semua negara, bahkan itu Brunei Darussalam maupun Arab Saudi punya utang," kata Menkeu dalam acara "Kuliah Umum" salah satu media yang dipantau Antara secara daring di Jakarta, akhir pekan lalu.

Rasio utang, kata Menkeu, cenderung menurun dari rasio sebelumnya yang berada di kisaran 40 persen dari PDB saat pandemi Covid-19. Penurunan rasio utang, jelasnya, diupayakan dengan meningkatkan penerimaan negara saat perekonomian membaik.

Seluruh penerimaan negara tersebut dikumpulkan agar bisa digunakan membiayai belanja negara untuk masyarakat sehingga pemerintah tidak perlu melakukan pembiayaan melalui utang.

"Jadi, kalau kita bicara tentang pengelolaan utang, itu identik dengan mengelola seluruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita," kata Menkeu.

Pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, yang diminta pendapatnya mengakui memang tidak ada negara yang tidak punya utang. Begitu pula dengan rasio utang pemerintah 39 persen menurut UU masih dianggap aman. Kendati demikian, Esther mengatakan pemerintah harus tetap mewaspadai rasio utang terhadap PDB karena sudah mendekati angka 40 persen.

"Kita harus waspada, apakah produktivitas Indonesia meningkat dengan adanya utang yang semakin besar?" tanya Esther.

Kalau melihat angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) atau besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/ menambah satu unit output, masih kurang efisien. Angkanya masih sekitar 6-7 persen. Sedangkan Malaysia 5,4, India 5,0, Filipina 4,1, dan Vietnam 3,7.

Hal itu menunjukkan biaya investasi di Indonesia mahal, tambahan modal yang dikeluarkan tidak sebanding dengan output yang diperoleh.

"Debt Management"

Pada kesempatan terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan meskipun rasio utang RI masih dianggap wajar, namun pemanfaatan utang tersebut juga harus diperhatikan. Utang harus dikelola dengan rapi dan dibelanjakan secara tepat.

"Debt management harus rapi. Berutang boleh, selama dikelola dan digunakan dengan benar. Maka utang tersebut harus digunakan dengan efesien, produktif dan tepat sasaran supaya menjadi investasi yang menguntungkan terutama dalam masa pemulihan seperti ini," kata Wibisono.

Supaya produktif, penggunaannya diprioritaskan untuk hilirisasi industri, jangan malah dikorupsi. Selain itu, kelayakan investasi harus ditingkatkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...
Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

1 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.