- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ilmuwan Temukan Alat yang ...
Ilmuwan Temukan Alat yang Bisa Cepat Mendeteksi Senjata Biologis di Udara
Senin, 06 Feb 2023, 00:00 WIBSINGAPURA - Sebuah sensor untuk mendeteksi senjata biologis di udara baru-baru ini sedang diuji coba, setelah menyelesaikan tes laboratorium pada akhir tahun 2022.
Seperti dikutip dari The Straits Times, Minggu (5/2), detektor ancaman bioaerosol, yang dikenal sebagai BioXcap, mampu menguji hingga 10 jenis agen biologis yang berbeda di udara, termasuk antraks, wabah, dan racun seperti risin.
Dikembangkan oleh Home Team Science and Technology Agency (HTX), BioXcap merupakan pendeteksi pertama dari jenisnya yang mampu memberikan peringatan dini terhadap adanya ancaman biologis di udara dalam waktu 30 menit.
Saat ini dibutuhkan sekitar tiga jam untuk sampel udara diuji secara manual, termasuk sekitar satu jam untuk pengumpulan dan pengangkutan sampel.
BioXcap dapat digunakan dan menyampaikan hasil pengujian dari jarak jauh, meminimalkan tenaga kerja dan risiko bagi ilmuwan selama insiden.
Pusat Keahlian Kimia, Biologis, Radiologis, Nuklir, dan Bahan Peledak (Chemical, Biological, Radiological, Nuclear and Explosive/CBRNE) HTX mulai mengerjakan BioXcap pada tahun 2019, dengan tujuan mengurangi pengujian manual dan mendapatkan hasil yang akurat mendekati waktu nyata.
Sensor sedang diuji di laboratorium darat yang tidak disebutkan lokasinya. HTX menolak untuk mengidentifikasi lokasi karena keamanan operasional.
Direktur Pusat Keahlian CBRNE, May Ong, mengatakan peningkatan kemampuan biosurveilans Singapura penting untuk mencegah ancaman biologis masuk melalui perbatasan.
"Penting bagi kita untuk memantau apa yang masuk melalui perbatasan sehingga agen biologis tidak sah yang dapat menimbulkan ancaman tidak masuk ke negara kami," katanya.
"Agen biologis tidak mudah diakses, tetapi jika seseorang bisa mendapatkan agen tersebut dan melepaskannya ke udara, dapat menimbulkan korban massal," terang May.
Belum Ada Serangan
Dia menambahkan meskipun belum ada kasus serangan yang melibatkan agen biologis di Singapura, lebih baik bersiap untuk hadapi skenario seperti itu.
"Pengawasan aktif dan kesiapsiagaan itu penting, karena mungkin sudah terlambat jika kita hanya menunggu sampai orang mulai jatuh sakit dan muncul di rumah sakit. Kami perlu tahu sedini mungkin jika ada kejadian, sehingga bisa diredam dan rakyat bisa terlindungi," tuturnya.
BioXcap memiliki alat seperti antena untuk mengambil sampel di udara ke bagian utama sensor. Sampel dianalisis di dalam, dan hasilnya diketahui dalam 30 menit.
Selain menguji sampel, sensor juga dapat menyimpan sampel yang menarik seperti racun untuk dianalisis oleh para ilmuwan. Bahan habis pakai yang diperlukan untuk pengujian di dalam BioXcap hanya perlu diganti rata-rata setiap 24 hari sekali.
Kepala ilmuwan Pusat Keahlian CBRNE, Oh Hue Kian, mengatakan meskipun uji laboratorium pada sistem telah selesai, masih perlu uji stres bagi tim untuk lebih memahami bagaimana kinerjanya di lingkungan dan suhu yang berbeda.
"Uji coba yang sedang berlangsung di pos pemeriksaan ini adalah untuk memastikan bahwa BioXcap dapat bekerja dengan andal dalam kondisi yang berbeda, dan agar kami memahami keterbatasannya," ujarnya.
May mengatakan Singapura telah menjalankan biosurveilans sejak 2009 dan BioXcap akan semakin meningkatkan kemampuannya. Ada beberapa serangan menggunakan agen biologis di masa lalu.
Serangan antraks tahun 2001 di Amerika Serikat (AS) menyebabkan lima orang tewas dan 17 luka-luka, dan melibatkan surat yang berisi spora antraks yang dikirim ke beberapa kantor media dan senator seminggu setelah serangan 9/11.
Infeksi antraks biasanya berkembang dalam waktu seminggu, dan biasanya berakibat fatal tetapi dapat diobati dengan antibiotik jika terdeteksi dini.
Seorang ilmuwan di laboratorium biodefence pemerintah AS kemudian dianggap sebagai satu-satunya pelaku serangan tersebut, tetapi dia bunuh diri sebelum kasusnya selesai.
Terungkap pada tahun 2022 bahwa kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah telah mencoba untuk mendapatkan agen biologis dari seorang ahli senjata pada tahun 2014, dengan rencana untuk menyerang kota-kota besar di Eropa menggunakan senjata racun, seperti risin.
Tidak ada penawar yang diketahui untuk risin, yang diekstrak dari biji jarak dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu 72 jam.
Baru-baru ini, seorang wanita Kanada mengaku bersalah di AS karena mengirim surat, yang dicampur dengan risin, kepada Presiden AS saat itu Donald Trump pada tahun 2020. Pengiriman surat itu berhasil dicegah sebelum sampai ke Gedung Putih.
Berita Terkait:
-
Sinergi Asean: Filipina dan Singapura Resmikan Kerangka Kerja Pengurangan Emisi Karbon
-
Panglima TNI Pimpin Prosesi Pemakaman Mayor Zulmi di TMP Cikutra Bandung
-
Banjir Luapan Sungai Rendam Puluhan Rumah di Cepu Blora.
-
Alhamdulillah, Bandara Soeta Sukses Layani Keberangkatan 35.017 Jemaah Haji
-
Gigi Mumi Bolivia Tulis Ulang Asal-usul Demam Scarlet
-
Kabupaten Penajam Komitmen Perkuat Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat, Prioritaskan Pelayanan
-
Malaysia Tetapkan Awal Ramadan pada 19 Februari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.