• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mungkinkah Bumi Memiliki B...

Mungkinkah Bumi Memiliki Bulan yang Lain di Masa Depan?

Sabtu, 04 Feb 2023, 14:08 WIB

Dian P Triani, Harvard University

Bulan adalah satelit alami yang mengitari planet Bumi tempat kita tinggal. Satelit adalah benda yang tertangkap di medan gravitasi planet dan kemudian mengitari planet tersebut karena adanya pengaruh gravitasi.

Ket. Foto: Foto empat bulan terbesar yang mengitari planet Jupiter. — Sumber: NASA

Selain satelit alami, ada juga satelit buatan manusia yang diluncurkan ke orbit Bumi untuk berbagai kepentingan, seperti komunikasi, pemantauan iklim dan cuaca, serta berbagai penelitian.

Ada dua skenario yang bisa menjelaskan asal muasal satelit alami di planet batuan seperti Bumi.

Skenario pertama, planet dapat bertabrakan dan kemudian terpecah. Pecahan-pecahan dari tabrakan ini melayang di angkasa dan kemudian tertangkap gaya tarik planet tersebut sehingga menjadi cikal bakal satelit alami.

Penelitian dan simulasi memprediksi Bulan terbentuk akibat tabrakan besar miliaran tahun yang lalu antara Bumi dan sebuah benda langit bernama Theia. Objek ini berukuran cukup besar, yaitu sekitar ukuran planet Mars.

Tabrakan antara Bumi dan Theia menghasilkan puing-puing yang kemudian mengitari Bumi lalu berkumpul dan membentuk Bulan. Teori ini menjelaskan mengapa sampel batuan yang diambil dari permukaan Bulan memiliki sifat yang mirip dengan Bumi.

Skenario kedua terbentuknya satelit alami adalah dari tertangkapnya asteroid yang kebetulan sedang melintas di medan gravitasi planet tersebut. Asteroid adalah benda kecil di tata surya yang mengitari Matahari, ukurannya berkisar antara 10 meter sampai 530 kilometer.

Nah, karena ukuran asteroid jauh lebih kecil dari Bumi, jika dalam perjalanannya mengitari Matahari ia melintas di dekat orbit Bumi, maka asteroid dapat tertangkap gaya tarik Bumi.

Jika tertangkap, gerak asteroid akan melambat dan kemudian mengitari Bumi.

Pada 2016, NASA mengamati sebuah asteroid yang ternyata telah menemani Bumi mengitari Matahari selama beberapa ratus tahun terakhir. Asteroid yang dinamakan 469219 Kamo?oalewa ini berukuran kecil, hanya sekitar 40-100 meter (bandingkan dengan Bulan yang memiliki diameter sekitar 3500 km!).

Asteroid ini pun mengitari Bumi dengan orbit yang sedikit aneh. Titik orbit terdekatnya dengan Bumi adalah sekitar 38 kali jarak Bumi - Bulan. Sedangkan titik terjauhnya adalah sekitar 100 kali jarak Bumi - Bulan.

Lantaran jaraknya sangat jauh dari Bumi, maka dalam beberapa ratus tahun ke depan, asteroid ini bisa terbebas dari gaya tarik Bumi. Orbit asteroid ini juga hanya sementara, bukan permanen seperti Bulan.

Karena itulah, asteroid ini tidak dikategorikan sebagai satelit alami Bumi, melainkan "quasi satellite", atau "menyerupai satelit".

Lalu, apakah mungkin Bumi akan memiliki satelit alami "Bulan" lainnya pada masa depan?

Jika pertanyaanmu mengacu ke satelit alami yang persis seperti Bulan, (berukuran besar, orbit yang teratur, dan jarak yang cukup dekat) maka mungkin dibutuhkan tabrakan besar untuk terjadi kembali.

Untungnya, pengamatan tidak menemukan adanya benda langit besar yang bisa menabrak Bumi sampai sekitar satu miliar tahun ke depan. Jadi, kemungkinan kamu tak akan melihat Bulan baru (yang berukuran besar) dalam waktu dekat.

Kalaupun tabrakan ini terjadi, manusia dan makhluk hidup lain di Bumi mungkin akan punah akibat dari tabrakan tersebut.

Namun, jika yang dimaksud adalah, apakah mungkin Bumi memiliki satelit alami lain pada masa depan? Ini bisa saja terjadi jika ada asteroid lain yang melintas di sekitar orbit Bumi dalam perjalanannya mengitari Matahari.

Sayangnya, karena ukuran asteroid yang sangat kecil, mungkin kita tidak bisa mengamatinya seperti kita mengamati Bulan yang terang benderang pada malam hari.

Dian P Triani, Astrophysics Researcher, Harvard University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

Berita Terbaru

Durian Melimpah di Lebak, Pedagang Raup Omzet hingga Rp50 Juta Sehari

Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.