Gara-gara Balon Udara Mata-mata, Kunjungan Menlu AS ke Tiongkok Ditunda

Sabtu, 04 Feb 2023, 09:39 WIB

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Jumat (3/2) menunda perjalanan ke Tiongkok hanya beberapa jam sebelum berangkat, setelah sebuah balon mata-mata Tiongkok ditemukan terbang di atas wilayah udara AS.

VOA melaporkan, Blinken tidak ingin insiden (balon mata-mata, red.) tersebut mendominasi diskusi kunjungannya. Kunjungan yang sudah dijadwalkan tersebut merupakan yang pertama bagi Blinken sebagai menteri luar negeri.

Ket. Foto: Menlu AS Antony Blinken. — Sumber: VOA/AP

Berita itu muncul tak lama setelah juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok mengonfirmasi bahwa balon itu memang milik Tiongkok. Juru bicara mengatakan itu adalah pesawat sipil yang digunakan terutama untuk penelitian meteorologi dan "telah menyimpang dari jalur yang direncanakan."

Juru bicara itu mengatakan Tiongkok menyesali masuknya balon secara tidak disengaja ke wilayah udara AS dan akan terus berkomunikasi dengan Amerika Serikat mengenai masalah tersebut.

Para pejabat pertahanan AS menemukan balon itu pada Rabu (1/2) di atas negara bagian Montana, wilayah Amerika barat laut, yang merupakan salah satu lokasi dari tiga pangkalan Angkatan Udara AS yang mengoperasikan dan memelihara rudal balistik antarbenua.

Lalu lintas udara dari bandara di kota Billings, Montana, terhenti sebentar pada hari Rabu ketika AS mengerahkan jet tempur untuk melacak balon tersebut.

Juru bicara Pentagon Brigadir Jenderal Patrick Ryder mengatakan balon itu terbang jauh di atas lalu lintas udara komersial dan tidak menimbulkan ancaman militer atau fisik bagi orang-orang di darat. Pejabat pertahanan lain mengatakan mereka memilih untuk tidak menembak jatuh balon tersebut karena takut bisa mendarat di daerah berpenduduk.

Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada wartawan bahwa mereka yakin balon itu dirancang untuk "pengawasan dan jelas mereka mencoba menerbangkan balon ini ke tempat-tempat sensitif ... untuk mengumpulkan informasi."

Dalam sebuah wawancara dengan VOA, Timothy Heath dari Rand Corporation mengatakan penggunaan balon semacam itu dianggap sebagai cara pengumpulan intelijen yang relatif ketinggalan zaman karena sebagian besar negara menggunakan satelit untuk mengumpulkan data semacam itu.

Namun Heath mengatakan teknologi baru memungkinkan mereka lebih mudah dikendalikan dan seringkali lebih sulit dideteksi oleh radar. Ia mengatakan, balon yang berukuran kira-kira sebesar tiga bus sekolah ini juga dapat melayang di atas suatu area dalam waktu yang lebih lama.

Dalam sebuah wawancara terpisah, analis Patrick Cronin dari Hudson Institute mengatakan kepada VOA bahwa balon itu adalah "tindakan canggung pengumpulan intelijen oleh Tiongkok," dan mengatakan Amerika Serikat harus menyiapkan "tanggapan tajam yang tepat" terhadap tindakan tersebut.

Para ahli mengatakan AS dan Uni Soviet menggunakan balon pengintai yang serupa selama Perang Dingin.

Balon mata-mata biasanya beroperasi pada ketinggian 80-120 ribu kaki (sekitar 25 - 37 kilometer), jauh di atas tingkat pengoperasian lalu lintas penerbangan komersial dan jet tempur.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Tim Koran Jakarta

Berita Terbaru

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.