- Home
-
- Luar Negeri
-
- Risiko Pemogokan di Pelabu...
Risiko Pemogokan di Pelabuhan Dunia Meningkat Empat Kali Lipat
Selasa, 10 Jan 2023, 00:00 WIBWASHINGTON - Gangguan tenaga kerja di pelabuhan di seluruh dunia baru-baru ini dilaporkam telah menimbulkan kerugian yang sangat besar tahun lalu dan prospek ketidakstabilan ekonomi yang berkelanjutan dapat membawa lebih banyak pergolakan ke rantai pasokan global pada 2023.
Menurut Crisis24, konsultan keamanan maritim, setidaknya ada 38 aksi protes atau pemogokan yang mempengaruhi operasi pelabuhan tahun lalu, lebih dari empat kali lipat pada 2021 ketika pandemi menjungkirbalikkan perdagangan global.
Dilansir oleh The Straits Times, ada sembilan insiden pada 2020, dari data yang dimulai pada Juli. Crisis24 mengubah sistem pelacakannya saat itu dan perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya tidak tersedia.
Menurut pakar ketenagakerjaan, perusahaan ekspedisi dan pengirim barang, para pekerja merasakan dampak dari harga bahan bakar dan pangan yang lebih tinggi setelah invasi Russia ke Ukraina sementara upah mereka tetap stagnan. Itu mendorong karyawan untuk menuntut lebih banyak dari atasan mereka.
Pasar Kerja Ketat
Dengan inflasi yang masih menjadi ancaman, rantai pasokan yang rapuh, dan pasar kerja yang ketat, pekerja akan terus menjadi kekuatan yang mudah berubah di tahun baru.
"Kerusuhan buruh sepertinya tidak akan berkurang memasuki tahun 2023, dan mungkin malah memburuk jika kondisi ekonomi global tidak membaik," kata juru bicara Crisis24 dalam surat elektronik.
"Sementara itu, varian baru virus korona masih menciptakan hambatan dalam rantai pasokan, juga memberi pekerja lebih banyak pengaruh atas negosiasi kontrak," kata John Ahlquist, pakar kebijakan dan strategi global di University of California, San Diego.
Protes dan pemogokan terjadi di pusat pelayaran utama di seluruh dunia pada 2022. Pengemudi truk Korea Selatan melakukan penghentian kerja dua kali dalam periode enam bulan, mengganggu operasi peti kemas di Busan. Kemacetan di beberapa pelabuhan Eropa mencapai tingkat kritis setelah pekerja dermaga Jerman dan Inggris keluar.
Operator pelabuhan Afrika Selatan menyatakan, force majeure (kejadian tidak terduga) pada Oktober karena pemogokan karyawan menahan ekspor buah-buahan, anggur, dan logam. Haiti dilumpuhkan oleh kekerasan musim gugur lalu, dengan geng-geng menguasai terminal dan pelabuhan minyak yang kritis.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Mentan Amran Copot 192 Pejabat dan 2.300 Distributor Pupuk karena Ganggu Pertanian serta Upaya Swasembada Pangan
-
La Liga Spanyol: Vinicius Cetak Dua Gol, Real Madrid Gusur Barcelona di Puncak Klasemen
-
Bansos Dicabut, 20 Warga Cilegon Terdata Bermain Judi Online
-
Kamera Mirrorless X-E5 dan Lensa Fujinon XF23mmF2.8 R WR dari Fujifilm Dirilis
-
Kerja Bakti Massal DKI, Gubernur Pramono: Tak Mau Masuk Gorong-gorong yang Bekerja Pikiran dan Otaknya
-
Liga Inggris: West Ham United vs Manchester United, Duel Dua Tim yang Sama-Sama Bangkit di London Stadium
-
Arus Mudik H-2 Lebaran 2026 Padat Merayap
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.