Perubahan Iklim: Gletser Meleleh, Ribuan Ton Bakteri Menyebar

Selasa, 22 Nov 2022, 00:07 WIB

ABERYSTWYTH - Para ilmuwan memperingatkan sejumlah besar bakteri dapat menyebar ke lingkungan akibat banyaknya gletser di dunia yang meleleh akibat perubahan iklim. Dikutip dari BBC, menurut para ilmuwan, patogen yang berbahaya bisa jadi ada di antara ribuan mikroba yang lepas ke sungai dan danau.

Sekelompok peneliti di Universitas Aberystwyth, Wales, mengatakan, penelitian mereka menekankan perlunya tindakan cepat untuk mengerem pemanasan global. Mereka mempelajari air lelehan dari delapan gletser di berbagai daerah di Eropa dan Amerika Utara serta dua situs di Greenland.

Ket. Foto: Para ilmuwan khawatir ribuan ton bakteri berbahaya dapat terlepas ke sungai dan danau. — Sumber: Istimewa

Gletser adalah bongkahan es raksasa yang terbentuk selama ratusan atau ribuan tahun. Seiring Bumi memanas, mereka mencair dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, menyebabkan permukaan laut naik.

Tim di Universitas Aberystwyth memperkirakan, situasi tersebut dapat mengakibatkan lebih dari 100.000 ton mikroba, termasuk bakteri, terlepas ke lingkungan selama 80 tahun ke depan. Jumlah tersebut sebanding dengan semua sel di setiap tubuh manusia di bumi.

Ahli mikrobiologi, Arwyn Edwards, mengatakan penelitian tersebut untuk pertama kalinya menunjukkan dengan jelas "skala besar" mikroorganisme yang hidup di permukaan atau terkunci di dalam gletser Bumi.

"Jumlah mikroba yang dilepaskan sangat tergantung pada seberapa cepat gletser mencair, dan oleh karena itu seberapa cepat kita terus menghangatkan planet ini," katanya.

Perhitungan tim didasarkan pada skenario pemanasan "sedang", seperti yang dikembangkan olehpanel ahli iklim internasional, Intergovernmental Panel Climate Change atau (IPCC), ini akan membuat suhu global naik rata-rata antara 2 derajat Celcius dan 3derajat Celciuspada 2100.

"Ketika aliran mikroba ke sungai, danau, fjord, dan laut meningkat, bisa ada dampak signifikan bagi kualitas air," terang Edwards.

Tapi dalam beberapa dekade kemudian 'keran mikroba' itu akan mati, karena gletser akan menghilang sepenuhnya.

"Secara global ada 200.000 resapan yang menerima air dari lelehan glasial dan beberapa di antaranya adalah lingkungan yang sangat sensitif, yang kurang berkembang dalam hal karbon organik dan nutrisi," ujarnya.

"Di tempat lain ada banyak kegiatan ekonomi dan miliaran manusia yang mata pencahariannya bergantung pada air yang pada akhirnya berasal dari gletser itu. Kita menganggap gletser sebagai cadangan air beku tetapi pelajaran utama dari penelitian ini adalah bahwa mereka juga merupakan ekosistem tersendiri," ungkapnya.

Ribuan mikroorganisme yang berbeda ditemukan hidup di permukaan gletser, atau tersimpan di dalamnya, beberapa di antaranya yang mungkin berbahaya bagi manusia. "Risikonya mungkin sangat kecil, tetapi ini membutuhkan asesmen yang cermat," kata Edwards.

Tim peneliti mempelajari gletser di Eropa, Amerika Utara, dan Greenland.

Ahli glasiologi, Tristram Irvine-Fynn, mengatakan dibutuhkan penelitian lebih lanjut. "Selama beberapa dekade mendatang, ramalan 'peak water' (berkurangnya ketersediaan air) dari gletser gunung-gunung di Bumi berarti kita perlu meningkatkan pemahaman kita tentang keadaan dan nasib ekosistem (ini)," ujarnya.

"Dengan pemahaman yang lebih baik tentang gambaran itu, kita dapat memprediksi efek perubahan iklim dengan lebih baik pada permukaan glasial dan biogeokimia daerah resapan air," kata dia

Temuan akademisi Aberystwyth diterbitkan dalam jurnal Nature Communications Earth & Environment bulan ini.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Waspada! Modus Paket Umrah di Bawah Rp26 Juta, Kemenhaj Ingatkan Jemaah Indikasi Penipuan

Dopamine Land Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Hiburan Multisensori

Festival Pacu Jalur 2026 di Kuansing Dibuka Plt Gubernur Riau, Ini Jadwal Lengkapnya!

FLONA 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Pamerkan Kekayaan Flora-Fauna Nusantara

PLN Berhasil Pulihkan Keseluruhan Sistem Kelistrikan Flores Pasca Gempa M7,7

Pertamina Tambah Fasilitas Dermaga Jetty di Terminal BBM Manggis Bali, Amankan Pasokan BBM Bali-Nusra

PT KAI dan KCIC Gelar Program EduTrain bagi 81 Anak Panti Asuhan

Gubernur Pramono Lantik 7 Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Ini Daftar Nama dan Jabatannya

Satu Dekade EMOS Perkuat Ekosistem Kesehatan Digital Indonesia

Pemkot Kembali Gelar Bandung Great Sale 2026

Bank Mandiri Perkuat Sinergi dengan Garuda Indonesia lewat GATF 2026, Bidik Transaksi Travel Nasabah

Pemkot Bandung Upayakan Akses Air Bersih bagi Warga Cihanja

Bareskrim Polri Ungkap 5 Kasus Perdagangan Orang dengan Modus Pengantin Pesanan

Pemkot Bandung Segera Tanam Kembali Pohon di Jalan RE Martadinata

Sequis Life Dorong Perempuan Wirausaha Perkuat Fondasi Finansial dan Jaringan Bisnis

MPR Tegaskan Hari Konstitusi Bukan Sekadar Seremonial

Pendakian Arjuno-Welirang Ditutup Imbas Kebakaran Tahura Raden Soerjo, Begini Tata Cara Reschedule Tiket!

Alun-alun Bandung Resmi Dibuka Lagi! Walkot Farhan: Jam Operasionalnya Pukul 08.00-16.00 WIB

Kabar Gembira! Anggota DPR Desak Pemerintah Realisasikan Sekolah SD-SMP Gratis Sesuai Amanat Putusan MK

Bimo/Arlya Tersingkir di Kejuaraan Dunia BWF 2026, Fokus dan Mental Jadi Evaluasi Utama

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.