Bahaya kalau Benar Terjadi! Arab dan Afrika Teriak, Menteri Keuangan Sri Mulyani Ikut Serukan Antisipasi Risiko Fatal Ini Akibat Perang Rusia - Ukraina, Ada Apa?

Kamis, 02 Jun 2022, 11:25 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani, mengungkapkan bahwa Indonesia turut mengantisipasi dampak invasi Rusia ke Ukraina. Menurut Sri Mulyani, konflik yang melibatkan kedua negara bekas Uni Soviet tersebut telah menyebabkan krisis energi dan krisis pangan.

Walau demikian, Indonesia belum merasakan dampak signifikan seperti yang dirasakan negara di kawasan Amerika Selatan hingga Afrika.

Ket. Foto: Menteri keuangan Sri Mulyani — Sumber: REUTERS/Evelyn Hockstein

"Disruption supply harus terus diantisipasi karena ini bukan krisis jangka pendek ini cukup struktural di level global," ungkap Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, pada Selasa (31/5) lalu.

Menurut Sri Mulyani, Indonesia harus bisa mengurangi risiko terganggunya suplai, terutama dalam aspek makanan dan energi.

"Indonesia harus mampu mengurangi risiko supply disruption terutama bidang pangan dan energi dengan strategi APBN maupun non APBN," jelasnya.

Adapun beberapa komoditas dalam kelompok pangan yang patut menjadi perhatian adalah kedelai, gandum, minyak goreng dan bawang merah. Sementara dalam kelompok energi. yakni BBM, listrik, dan LPG, gas alam serta batu bara.

Invasi Rusia di Ukraina memang telah menyebabkan krisis pangan dan energi di sejumlah wilayah. Afrika misalnya, invasi Rusia telah memperparah kelaparan di Sahel, di mana para petani mengalami produksi pertanian terburuk selama lebih dari satu dekade.

Pasalnya, hampir semua gandum yang dijual di Somalia berasal dari Ukraina dan Rusia, yang telah menghentikan ekspor mereka melalui Laut Hitam. Ukraina diketahui mengekspor lebih dari 95 persen gandum, gandum, dan jagung melalui Laut Hitam.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa diperkirakan 13 juta orang menghadapi kelaparan parah di wilayah Afrika sebagai akibat dari kekeringan yang berkepanjangan dan akan semakin memburuk ketika musim paceklik tiba di akhir musim panas.

"Kelaparan akut melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan situasi global terus memburuk. Konflik, krisis iklim, COVID-19, dan melonjaknya biaya makanan dan bahan bakar telah menciptakan badai yang sempurna - dan sekarang kita menghadapi perang di Ukraina yang menumpuk malapetaka di atas malapetaka," ujar Direktur Eksekutif WFP David Beasley seperti dikutip dari AP.

UNICEF bahkan memperingatkan kemungkinan naiknya biaya makanan terapeutik untuk anak-anak kurang gizi hingga 16 persen selama enam bulan ke depan karena perang di Ukraina dan gangguan terkait pandemi.

Menurut PBB, negara-negara Afrika mengimpor 44 persen gandum mereka dari Rusia dan Ukraina antara 2018 dan 2020. Bank Pembangunan Afrika telah melaporkan kenaikan 45 persen dalam harga gandum di benua itu.

"Afrika tidak memiliki kendali atas produksi atau rantai logistik dan sepenuhnya bergantung pada situasi ini," kata Presiden Senegal Macky Sall, ketua Uni Afrika, yang mengatakan dia akan melakukan perjalanan ke Rusia dan Ukraina untuk membahas kesengsaraan harga.

Begitu juga dengan Timur Tengah. Lebanon misalnya, negara yang sudah bertahun-tahun mengalami krisis utang dan inflasi itu diketahui mengimpor 60 persen gandumnya dari Rusia dan Ukraina. Begitu juga Mesir yang dilaporkan mengimpor 80 persen gandumnya juga dari kedua negara tersebut.

Alhasil, beberapa negara berpendapatan menengah ke bawah telah melaporkan terjadinya inflasi tinggi akibat krisis pangan. Bank Dunia sendiri dalam laporannya yang diterbitkan pada April, menuturkan kenaikan harga pangan global baru-baru ini menjadi rekor sejak 2008. Biaya pangan berbagai negara diprediksi akan meningkat sebesar 22,9 persen pada tahun ini akibat kenaikan harga gandum yang meroket sebesar 40 persen.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Suliana

Berita Terbaru

Intensifkan Pemasaran WashTower, LG Bentuk Kolaborasi Dengan Mitra Dealer Spesialis

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Rumah Harimau Sumatera Ikut Hangus Dilalap Kebakaran Hutan

Aturan Baru Tarif Pengantaran Barang dan Makanan Ojol Digodok Kemkomdigi, Tak Adopsi Skema 92:8, Fokus bagi Hasil Adil

LG UltraGear Native 1000Hz Segera Hadir di Indonesia

Impor Udang Vaname 120 Ton Lewat Kawasan Berikat, KKP Minta Industri Utamakan Produksi Lokal

D'Masiv Bikin Album Full Berbahasa Inggris, Beri Warna Baru bagi Massivers

Tapak Tumbuh Hadir di JIA Curated 2026, Ubah Jejak Bumi Menjadi Pengalaman Spasial

Waspada! Modus Paket Umrah di Bawah Rp26 Juta, Kemenhaj Ingatkan Jemaah Indikasi Penipuan

Dopamine Land Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Hiburan Multisensori

Festival Pacu Jalur 2026 di Kuansing Dibuka Plt Gubernur Riau, Ini Jadwal Lengkapnya!

FLONA 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Pamerkan Kekayaan Flora-Fauna Nusantara

PLN Berhasil Pulihkan Keseluruhan Sistem Kelistrikan Flores Pasca Gempa M7,7

Pertamina Tambah Fasilitas Dermaga Jetty di Terminal BBM Manggis Bali, Amankan Pasokan BBM Bali-Nusra

PT KAI dan KCIC Gelar Program EduTrain bagi 81 Anak Panti Asuhan

Gubernur Pramono Lantik 7 Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Ini Daftar Nama dan Jabatannya

Satu Dekade EMOS Perkuat Ekosistem Kesehatan Digital Indonesia

Pemkot Kembali Gelar Bandung Great Sale 2026

Bank Mandiri Perkuat Sinergi dengan Garuda Indonesia lewat GATF 2026, Bidik Transaksi Travel Nasabah

Pemkot Bandung Upayakan Akses Air Bersih bagi Warga Cihanja

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.