Teknologi Hologram Akan Gantikan Panggilan Video dalam Waktu Dekat
Selasa, 21 Des 2021, 00:00 WIBKetika Christoph Grainger-Herr tidak bisa bepergian ke pameran di Tiongkok akibat larangan perjalanan terkait Covid-19, bos sebuah perusahaan jam tangan Swiss itu memutuskan untuk menemui orang melalui teknologi hologram ala Star Trek.
Grainger-Herr, direktur eksekutif perusahaan jam tangan merek IWC, mestinya datang ke pameran Watches and Wonders di Shanghai pada April lalu. Tapi ketika hal itu mustahil dilakukan, dia memutuskan untuk bergabung menggunakan teknologi hologram 3D.
Dengan resolusi 4K, dia dapat berbincang, melihat, dan mendengar orang-orang yang menghadiri pameran tersebut.
"Kami membawa dia dari kantornya di Schaffhausen, Swiss, ke acara di Shanghai," kata David Nussbaum, bos perusahaan hologram asal Amerika Serikat, Portl. "Dia berbincang dengan petinggi perusahaan lainnya dan bahkan memamerkan sebuah jam baru, secara real-time. Kami lalu membawa dia kembali!" imbuh Nussbaum.
Akibat pandemi virus korona, perjalanan antarnegara di dunia sebagian besar berhenti sejak Maret 2020. Hal ini mendorong para pelaku bisnis menaruh minat pada penggunaan hologram alias proyeksi cahaya 3D karena teknologi ini dapat menghadirkan seseorang lebih utuh ketimbang panggilan video (video call).
Portl yang berbasis di Los Angeles adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi hologram. Namun, menurut Nussbaum, pihaknya tidak bisa membuat portal cukup cepat untuk mengimbangi banyaknya permintaan.
Portal hologram yang dipakai adalah setinggi 2,5 meter dengan kaca di bagian depan dan dilengkapi kotak-kotak komputer. Di dalam bilik, hologram si pengguna akan ditampilkan sesuai dengan wujudnya.
Portal hologram ini memiliki pelantang suara, sehingga suara hologram bisa terdengar dengan amat jelas. Terdapat pula sejumlah kamera dan mikrofon sehingga pengguna hologram bisa melihat dan mendengar orang-orang di depan proyeksinya.
Adapun pengguna hologram bisa berada di belahan dunia manapun. Dia hanya memerlukan sebuah kamera, latar polos, dan seperangkat pelantang suara dan mikrofon.
Sistem perangkat lunak yang mengendalikan aplikasi Portl kemudian menghubungkan si pengguna dengan portal hologram melalui internet. Portalnya pun bisa lebih dari satu unit, sesuai dengan keinginan pengguna.
"Hampir tidak ada latensi (kelambatan). Dan jika bukan karena ada lapisan kaca di bagian depan hologram, Anda akan berpikir si pengguna benar-benar berdiri di sana. Bahkan, jika tidak ada cahaya pada kaca agar Anda tidak bisa melihat pantulannya, Anda akan berpikir si pengguna benar-benar berada di sana," papar Nussbaum.
Sistem Portl menyasar para pebisnis, dan saat ini juga digunakan perusahaan-perusahaan seperti Netflix dan T-Mobile.
Harga satu unit portal mencapai 60.000 dollar AS (sekitar 860 juta rupiah), tapi perusahaan Portl mengatakan alat itu bisa disewa dengan harga jauh lebih terjangkau.
"Dalam beberapa tahun mendatang, ini akan menjadi cara biasa dalam berkomunikasi antarkantor," tambah Nussbaum seraya mengatakan bahwa teknologi hologram bisa menggantikan layar vÃdeo pada konferensi vÃdeo dalam lima tahun.
Tak hanya itu, Nussbaum juga memprediksi bahwa layar vÃdeo berisi informasi akan punah. "Kami akan menggantikan setiap kios tampilan digital di setiap mal, setiap lobi, dalam waktu singkat. Ini akan menjadi cara baru yang diinginkan perusahaan untuk menyajikan konten mereka, terlepas apakah itu disiarkan langsung atau rekaman," ungkap dia.
Bukan Satu-Satunya
Portl bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan teknologi hologram. Microsoft juga mengembangkan teknologi serupa melalui perangkat headset bernama HoloLens 2. Harga per unitnya mencapai 3.500 dollar AS (50 juta rupiah), jauh lebih murah ketimbang sistem milik Portl.
Namun, alih-alih menggunakan portal, hologram 3D Microsoft mengharuskan dua atau lebih penggunanya memakai headset sehingga hologram mereka diproyeksikan di depan satu sama lain. Wujudnya pun mirip kartun yang berdiri di ruangan sama.
"Hologram akan tampak seolah mereka berada di satu ruangan fisik yang sama, dan mereka bisa berjalan di sekeliling meja virtual dan berkolaborasi pada beragam hal," papar Greg Sullivan, direktur realita gabungan Microsoft.
Perusahaan yang telah menggunakan hologram buatan Microsoft ini adalah Thyssenkrupp dari Jerman. Perusahaan tersebut adalah salah satu pembuat lift terbesar di dunia.
Di masa lalu mereka rutin mengirimkan teknisi ke berbagai tempat di dunia untuk melakukan perbaikan. Kini, hanya dengan menggunakan headset HoloLens 2, para teknisi tersebut dapat terhubung dengan teknisi lokal dalam wujud hologram guna memandu pekerjaan reparasi.
Maskapai Japan Airlines pun memakai headset tersebut untuk membantu pelatihan mekanik mesin dan kru pesawat.
Perusahaan lain yang bergerak di bidang hologram lebih fokus pada pasar konsumen, seperti Ikin dari San Diego, AS.
Tahun depan perusahaan itu akan meluncurkan sebuah alat pada telepon seluler yang akan memproyeksikan lawan bicara dalam wujud hologram 3D transparan saat pengguna melakukan panggilan video.
Gordon Wetzstein, profesor teknik elektro dan ilmu komputer di Universitas Stanford, mengatakan bahwa hologram adalah cara yang lebih efektif dalam berkomunikasi ketimbang konferensi video.
"(Dengan hologram) Anda bisa melakukan kontak mata. Anda bisa membaca gerakan halus ketika lawan bicara sedang melihat siapa," ujar Wetzstein.
Meski demikian, dia menilai bahwa mungkin ada masalah di masa depan jika gambar hologram menjadi sangat nyata sehingga sulit membedakan antara hologram dan wujud asli seseorang.
"Jika Anda bisa menciptakan pengalaman digital atau sintetis yang semakin mendekati cara pandang realita, Anda akan lebih rentan dimanipulasi," kata Wetzstein. BBC/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.