Fenomena Kepanikan Pembelian Susu Beruang Ramai di Sosial Media
- Pasokan Susu
- sosial media
- Kepanikan
- trending topic twitter
- Panik
- susu beruang
Susu beruang menjadi incaran masyarakat usai informasi yang beredar bahwa bisa menyembuhkan covid-19. Dalam video yang beredar susu beruang langsung diserbu oleh masyarakat yang sudah menunggu bukanya pusat perbelanjaan tersebut.

Ket.
Doc: istimewa
Dari akun twitter yang bernama Eza Hazami ini menampilkan video masyarakat saling berebut susu beruang sehingga timbul topik perbincangan di sosial media. Eza Hazami membagikan videonya dengan keterangan "terpantau sedang rebutan susu".
Terpantau sedang rebutan susu ????(Source: terlampir) pic.twitter.com/zU9efahD52
- Eza Hazami | HR Content Creator (@ezash) July 3, 2021
Dalam beberapa kasus yang terjadi membuat stok susu beruang di beberapa tempat habis sehingga banyak yang mengambil keuntungan dengan cara menaikkan harganya. Informasi yang beredar memang sangat menyedot perhatian masyarakat karena angka kenaikan kasus Covid-19 lagi tinggi membuat daya kepercayaan itu timbul.
Banyak yang mengomentari postingan Eza Hazami di akun twitternya.
Anda mungkin tertarik:
Wow itu pada senggol" anApakah bentar lagi ada berita "klaster susu"
- Dodo Mburi???? (@miftahmubaroh) July 3, 2021
Dari komentar netizen mengungkapkan bahwa bahayanya kerumunan yang terjadi akibat panic buying, dengan informasi yang beredar ini akan membuat klaster baru. Semua dampak dari PPKM Darurat yang mengetatkan mobilitas masyarakat di luar rumah. Menurut dokter dari Amerika Serikat yang memberikan respon terhadap masyarakat Indonesia bahwa tidak memiliki peran dalam pengobatan penyakit Covid-19.
My Indonesian FriendsThis milk, or vitamins or ivermectin has no role in COVID treatment. Susu ini, atau vitamin atau ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan COVID. pic.twitter.com/EslkP9eJJx
- Faheem Younus, MD (@FaheemYounus) July 4, 2021
"Susu ini, atau vitamin atau ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan COVID" keterangan akun Faheem Younus. Sehingga membuka pandangan kita bahwa obat Covid-19 memang belum ditemukan dan informasi yang beredar adalah salah.