Raja se-Indonesia Akan Hadiri Sarasehan Budaya

Senin, 09 Des 2019, 07:27 WIB

YOGYAKARTA - Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara akan menggelar Sarasehan Nasional Budaya Nusantara yang akan diikuti oleh raja-raja se-Indonesia sebagai sumber utama kearifan lokal dan jati diri bangsa. Acara tersebut digelar dilandasi oleh keprihatinan terhadap gempuran modernitas yang mengikis nilai-bnilai budaya geneasi muda.

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, menyampaikan dukungan penuh terhadap rencana tersebut. Dukungan tersebut disampaikan pada saat menerima audiensi Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara, di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Ket. Foto: KGPAA Paku Alam X, Wakil Gubernur DIY — Sumber: ISTIMEWA

Paku Alam menyampaikan, sudah saatnya kearifan lokal yang merupakan warisan leluhur dilestarikan dengan cara menerapkan pada kehidupan sehari-hari. "Budaya kita mengajarkan segala hal yang bisa diterapkan dalam setiap lini kehidupan. Budaya kita adalah pendidik yang bisa menjadi bekal untuk hidup berdampingan dengan baik," papar Paku Alam.

Lemahnya akar budaya yang dimiliki oleh masyarakat dapat memicu gesekan pada setiap perbedaan. Padahal, hal tersebut tidak perlu terjadi apabila setiap individu memahami dan memegang teguh adat istiadat, budaya dan kearifan lokal peninggalan nenek moyang.

"Harus ada harmoni dan keselarasan dalam masyarakat meskipun banyak perbedaan. Kita analogikan dengan gamelan saja, apabila memiliki bunyi yang sama apakah akan ada keindahan komposisi suara? Tentu tidak. Perbedaan pada gamelan adalah unsur utama harmonisasi dan keselarasan. Ini yang harus kita terapkan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Paku Alam berharap acara yang akan digelar di DIY pada Mei 2020 mampu menghasilkan sesuatu yang positif terhadap kelestarian dan penerapan budaya Indonesia di masyarakat.

Ketua Komunitas Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara, Glesos Yoga Mandira, menyampaikan tergerusnya budaya adiluhung yang sarat etika dan estetika oleh gencarnya arus informasi dan komunikasi menjadi dasar digelarnya acara ini.

"Kami tergerak untuk menggali kembali nilai-nilai budaya yang bersumber dari kearifan lokal sebagai warisan leluhur Nusantara. Bagaimanapun kami juga merasa bertanggung jawab untuk melestarikan dan memperkuat akar budaya," jelas Yoga.

Yoga menyampaikan keinginan untuk mengembalikan budaya kearifan lokal sebagai pendidikan dasar untuk membangun jati diri bangsa. "Kearifan lokal itu dapat diperoleh dari para aristokrat di Indonesia yang selama ini terasa termarginalkan," katanya.

Dia berharap dukungan dari KGPAA Paku Alam X mampu menjadi pendorong bagi lestarinya kebudayaan adiluhung Indonesia. "Kami harap apa yang dilakukan bisa menjadi sumbangsih pada negara, khususnya generasi penerus, dan mereka meyakini bahwa kita bukan bangsa pecundang, tapi pemenang karena memiliki karakter kuat dan berbudaya," tutup Yoga. YK/E-3

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.