• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Penelitian Daun Kelor seba...

Penelitian Daun Kelor sebagai Obat Antikanker

Kamis, 19 Sep 2019, 01:00 WIB

Menurut Union for International Cancer Control (UICC), lebih dari 7 juta orang meninggal karena kanker, dan lebih dari 11 juta kasus baru didiagnosa di seluruh dunia dengan setidaknya 1,5 juta orang meninggal akibat kanker paru-paru.

Di Asia, proporsi kematian akibat kanker 57,3 persen lebih tinggi dibandingkan dengan insiden kejadian kanker yaitu 48,4 persen yang disebabkan karena di Asia tingginya frekuensi jenis kanker tertentu dibarengi dengan buruknya prognosis dan tingginya angka kematian. Begitu pula dengan akses terbatas kesehatan termasuk kanker, seperti diagnosis dan pengobatan di banyak negara.

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

Dengan jumlah tersebut, diperkirakan orang-orang yang hidup dengan diagnosa kanker selama lima tahun terakhir, atau yang disebut juga dengan 5 tahun prevalensi diperkirakan ada 43,8 juta orang.

Pola di dunia menunjukkan kalau hampir kebanyakan kasus-kasus baru dan kematian yang diakibatkan dari kanker di 2018 terjadi Asia. Itu karena 60 persen populasi dunia ada di Asia. Jika tren ini terus berkembang, pada 2020 diperkirakan kasus baru kanker dapat meningkat hingga 16 juta kasus per tahun dan akan ada lebih dari 10 juta orang meninggal karenanya.

Seorang ahli biologi molekuler kebangsaan Nigeria, Mansurah Abdulazeez mengembangkan sebuah tanaman untuk melawan kanker. Ia tertarik untuk melakukan penelitian pada tanaman Afrika untuk dikembangkan menjadi obat-obatan ketika beban kanker di dunia diestimasi naik menjadi 18,1 juta kasus baru dengan 9,6 juta kematian berdasarkan data dari International Agency for Research on Cancer (IARC).

Angka tersebut diperkirakan akan terus naik mencapai 30 juta kasus baru pada 2040 yang menjadi suatu pertumbuhan yang drastis apabila penyembuhan secara permanen tidak dapat ditemukan ataupun lakukan.

Berbicara pada Nature, Abdulazeez mengatakan bahwa tujuannya saat ini untuk menemukan tanaman nigeria yang berpotensi aman dan efektif sebagai agen anti kanker. Ada tanaman yang sudah diseleksi dan dikonfirmasi aktivitas cytotoxicnya, adalah ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dan sirsak (Annona muricata), begitu juga belukar asli Nigeria Peristrophe bicalyculata.

"Kami juga mempelajari apa yang mekanisme anti kanker tanaman-tanaman ini lakukan. Kami menemukan kalau tanaman ini bertingkah di dalam tubuh dengan beragam mekanisme, yang mana tidak ada satu mode untuk semua tanaman," katanya.

Abdulazeez menambahkan kalau untuk tanaman-tanaman ini berpotensial sebagai anti kanker namun masih belum banyak yang dipelajari. "Penelitian herbal seperti Guiera senegalensis yang sering digunakan oleh para penyembuh tradisional Afrika dan dikenal juga sebagai Sabara oleh masyarakat lokal, telah menunjukkan penemuan sebagai obat-obatan anti kanker. Dalam pandangan saya, ini memperlihatkan hasil bahwa penelitian pada tanaman Afrika bisa memberikan hasil pada pengembangan obat-obatan yang bermanfaat," jelasnya.

Meningkatnya jumlah kanker tentunya menjadi beban di beberapa faktor, termasuk pertumbuhan populasi dan perubahan prevalensi karena kanker juga dihubungkan pada perkembangan sosial dan ekonomi.

IARC juga menambahkan kalau itu berlaku terutama pada daerah dengan ekonomi yang mengalami perkembangan pesat. Di mana setelah dilakukan observasi adanya relasi antara kanker dengan kemiskinan dan infeksi dengan kanker yang berhubungan dengan gaya hidup pada negara-negara industri. gma/R-1

Sangat Kaya Nutrisi

Daun kelor ternyata disebut sebagai pohon ajaib. Dan di beberapa negara di Afrika, Asia dan Amerika Tengah mendukung para petani mereka untuk mengkultivasi tanaman in agar tercukupi nutrisi masyarakatnya, di samping mendapatkan keuntungan lainnya.

Tanaman ini berasal dari kaki pegunungan Himalaya dan memiliki banyak manfaat dan keuntungan. Moringa atau kelor mempunyai manfaat penyembuhan yang sangat baik, terutama untuk kondisi seperti penyakit kardiovaskular dan kanker.

Daun kelor kaya sekali akan nutrisi. Disebutkan bahwa mengandung 90 vitamin dan mineral, dan berbeda dengan sayuran kebanyakan, kelor juga kaya akan protein. Dari 20 jenis asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh, 18 di antaranya ditemukan pada kelor. Terdapat pula 8 asam amino yang disebut pula sebagai asam amino essential karena mereka tidak bersintesis di dalam tubuh.

Kelor turut mengandung kalsium empat kali lebih banyak daripada susu sapi dan potassium yang setara dengan 100 gram pisang. Begitu juga dengan serat yang ada pada daun kelor. Disebutkan bahwa serat daun kelor lebih banyak empat kali lipat dibandingkan oats dan ini sangat dibutuhkan untuk membersihkan usus di dalam perut.

Pada penelitian yang dilakukan pada Juni 2012, ditemukan bahwa kelor memiliki antioksidan paling tinggi dibandingkan tanaman lainnya yang tumbuh di Bumi. Termasuk mengalahkan acai berry, yang sebelumnya pernah menjadi tanaman antioksidan tertinggi di dunia. Daun kelor juga dua kali lipat lebih berpotensial dibandingkan tanaman lainnya sebagai anti radikal bebas.

Radikal bebas sendiri adalah atom atau molekul yang kurang akan elektron di luar lapisannya. Akibatnya molekul yang tidak stabil ini sangat destruktif ketika mereka berpindah-pindah untuk mencari elektron yang menyeimbangkan mereka. Mereka bisa mengikat sel membran atau organel di dalam sel. Karenanya, sel jadi tidak bisa meregenerasi dan mengakibatkan yang namanya penuaan dan penyakit seperti kanker, di mana DNA terlibat. Antioksidan seperti vitamin C, A, E dan Selenium berfungs untuk mengisi kekosongan elektron pada radikal bebas dan menyeimbangkan mereka.

Untuk itu, mengonsumsi daun kelor yang berpotensi mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan radikal menjadi sangat dibutuhkan. Terlebih daun kelor adalah agen anti kanker yang sangat kuat dan bisa menjadi pencegah penyakit-penyakit seperti kardiovaskular. Keuntungan lainnya termasuk peredaran pembuluh darah, mengontrol gula darah, meningkatkan sistem imun dan pencernaan, serta menaikkan mood seseorang. gma/R-1

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.