Presiden Ajak IDI Cari Solusi Atasi Defisit BPJS Kesehatan

Jumat, 26 Okt 2018, 05:04 WIB

JAKARTA - Presiden Joko Widodo menyatakan akan mendiskusikan persoalan BPJS Kesehatan dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Kepala Negara berjanji akan mencari opsi-opsi untuk melihat potensi pendanaan yang bisa digunakan untuk menanggulangi defisit BPJS Kesehatan yang tahun ini diperkirakan mencapai 10,98 triliun rupiah.

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

"Saya sudah tahu semuanya (persoalan BPJS Kesehatan). Tapi nanti, saya akan ajak bicara (IDI), ini masalah manajemen. Inilah yang perlu kita perbaiki," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat berpidato sebelum meresmikan Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke-30 dan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) ke-21, di Samarinda Convention Hall, di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (25/10).

Jokowi mengaku sudah mengetahui kunci persoalan terkait BPJS Kesehatan karena telah memiliki pengalaman sejak menjabat sebagai wali kota di Solo dan gubernur di DKI Jakarta.

Presiden mengaku sudah banyak berdiskusi dan belajar dari para dokter yang kemudian menjadi sahabatnya dalam perihal menyangkut asuransi kesehatan untuk rakyat.

"Tapi BPJS ini sudah 4 tahun. Perhitungan saya 2 tahun mapan. Ini kok 4 tahun, kenapa? Tapi enggak apa, nanti saya diskusi dengan dr Fahmi dan Prof Ilham (Ketua PB IDI)," katanya.

Presiden mengaku enggan untuk mengungkap persoalan dan membahasnya di publik secara luas karena dikhawatirkan melenceng ke arah yang tidak semestinya. "Karena kalau kita jawab terbuka kadang-kadang malah ramainya ke mana-mana. Masalahnya sebetulnya masalah yang bisa diselesaikan, tetapi lari ke mana-mana," katanya.

Presiden mengisyaratkan betapapun defisitnya BPJS Kesehatan, namun pemerintahannya akan mengupayakan berbagai opsi untuk mendukung BPJS Kesehatan tetap mampu menjalankan fungsinya.

"Kita ingat bahwa yang namanya subsidi BBM, subsidi energi, itu pernah mencapai yang namanya angka 340 triliun rupiah. Ini untuk kesehatan kok enggak diberikan," katanya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, mengatakan pengeluaran BPJS Kesehatan lebih banyak dibandingkan dengan pendapatannya. Hal ini karena, iuran yang dipungut tak sebanding dengan klaim yang harus dibayarkan.

Karena itu, kata Menkes, harus ada upaya lain yang mesti segera dilakukan. Upaya tersebut antara lain mengetatkan pengeluaran.

BPJS Kesehatan juga harus memantau potensi defisit dari moral hazard penggunaan pelayanan. Moral hazard yang dimaksud, misalnya, penggunaan BPJS Kesehatan untuk pengobatan penyakit berat oleh masyarakat ekonomi menengah ke atas.

"Dengan membayar iuran tertinggi 60 ribu rupiah, peserta tersebut mengajukan klaim senilai lebih dari 100 juta rupiah. Di sisi lain, peserta itu juga mengajukan klaim kepada asuransi komersial," katanya.

Kementerian Kesehatan sendiri, kata Menkes, juga telah melakukan pencegahan penyakit untuk mengurangi pengeluaran BPJS Kesehatan. Salah satunya dengan menggencarkan program Indonesia sehat melalui pendekatan keluarga dan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).

Pilihan Sulit

Sementara itu, Direktur Perluasan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan, Andayani Budi Lestari mengatakan dalam beberapa upaya mengatasi defisit pihaknya mengakui mendapati sejumlah pilihan sulit.

Menurut dia, untuk pilihan sulit pertama adalah terkait dengan penyesuaian dari iuran masyarakat yang dilakukan secara akademis. Kemudian, kedua adalah pengurangan manfaat yang diterima dari layanan BPJS kepada masyarakat.

"Sekarang ini banyak iurannya 25 ribu rupiah, tapi tidak dibatasi penerimaan manfaatnya bahkan bisa selangit, inilah yang harus dibatasi sejauh mana peserta mendapatkan manfaatnya dengan iurannya," jelas Andayani. ang/Ant/E-3

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

Berita Terbaru

PT Telkom Indonesia Nyatakan Konektivitas Digital Pascagempa NTT Sudah Pulih 100 Persen

Hingga Agustus, Samsat Palu Catat Realisasi PKB Rp50,72 Miliar

Mentan Andi Amran Sulaiman Copot 14 Pejabat Kementan, Diduga Terlibat Penyimpangan Uang Miliaran

3,6 Ton Daging Tanpa Dokumen Digagalkan di Pelabuhan Merak, Langsung Dimusnahkan.

Jelang MotoGP Mandalika 2026, Pemkab Lombok Tengah Bentuk Satgas Pengawasan Akomodasi.

Akibat Korsleting Listrik, Sebuah Rumah di Matraman Jakarta Timur Terbakar

Ekspor Perikanan Batam ke Singapura Capai 3.678 Ton, Nilainya Rp125 Miliar.

Mataram Siapkan 60.000 Benih Ikan Nila, Dorong Ketahanan Pangan Masyarakat.

Berikut Daftar Harga Emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian yang Kompak Turun pada Rabu (19/8)

Harga Pupuk Turun 20 Persen, Petani Sumedang Rasakan Biaya Produksi Lebih Ringan.

Harga Emas Antam Anjlok Rp50.000 Menjadi Rp2,645 Juta/Gr pada Rabu (19/8)

TelkomGroup Pulihkan 100 Persen Layanan Telekomunikasi Pascagempa NTT

Menaker: Jaminan Sosial Harus Jadi Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi Keluarga Pekerja.

PT Pertamina Patra Niaga Bantu 35.000 Lt Air Bersih untuk Warga Maumere

Pameran SBY Art Community 2026 Jadi Jembatan Seni Jakarta dan Berlin

Ekspor TPT Semester I 2026 Capai USD4,85 Miliar, Serap 3,8 Juta Pekerja

Panglima TNI Terima 76 Paskibraka 2026, Perkuat Semangat Generasi Muda.

Kualitas Udara di Banjarbaru Sangat Tidak Sehat, BMKG Minta Warga Waspada

Tindak Lanjut Gempa Flores, PU Percepat Pendataan RS, Kantor, dan Sarana Air Bersih

TNI Kerahkan 1.265 Personel dan Salurkan 188 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.