Kenyataan BPJS Kesehatan

Sabtu, 20 Okt 2018, 02:00 WIB

Presiden Joko Widodo heran dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang selalu minta penambahan anggaran untuk menutupi defisit keuangan. Presiden juga menyindir dan menegur Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek, dan Direktur Utama BPJS, Fahmi Idris, karena Presiden harus turun tangan langsung untuk menyelesaikan defisit keuangan BPJS Kesehatan. Padahal, masalah defisit seperti ini seharusnya bisa selesai di tingkat kementerian.

Presiden bahkan mengungkapkan sekitar sebulan sudah memutuskan untuk menambah anggaran BPJS sebesar 4,9 triliun rupiah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Namun, dana talangan itu masih belum cukup menutup defisit. Presiden juga heran dengan kondisi BPJS Kesehatan yang selalu kekurangan dana. Presiden kemudian meminta BPJS Kesehatan segera memperbaiki sistem manajemen. Jika telah diperbaiki, Jokowi yakin BPJS bisa terhindar dari defisit keuangan.

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA/Muhammad Adimaja

Kita dapat memahami keluhan Presiden sebagai dorongan agar manajemen BPJS Kesehatan dapat berbenah sistem internal. Selain itu, kita melihatnya sebagai konsistensi pemerintah terhadap kesehatan warga negara. Masalah yang terjadi di BPJS Kesehatan telah terprediksi sejak program dibuat, kemungkinan jebolnya anggaran. Sebab penghitungan aktuaria atau harga keekonomian iuran Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat atau JKN-KIS tak berbanding lurus dengan pengeluaran.

Padahal, menurut Dewan Jaminan Sosial Nasional untuk kelas di kisaran angka 35 ribu rupiah-40 ribu rupiah, sedangkan peserta hanya membayar iuran 25 ribu rupiah. Berdasarkan catatan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), penyebab utama ketidakcukupan dana JKN ada dua. Pertama, besaran iuran yang ditetapkan pemerintah lebih rendah berbanding nilai keekonomian wajar yang sudah diusulkan DJSN.

Kedua, pemerintah tidak konsisten melaksanakan kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 48 Undang-Undang SJSN. Isinya, bila terjadi kekurangan pendanaan, pemerintah melakukan tindakan. Maka, keluhan Presiden tentang JKN tersebut, tidak benar. Apalagi, secara kelembagaan, BPJS memang bertanggung jawab langsung ke Presiden. Lagi pula, DJSN sendiri sudah rutin menyampaikan laporan kepada Presiden, untuk masukan, tentang akar masalah dalam JKN dan solusinya.

Kita memang berharap program JKN terus berjalan baik dan tanpa kendala. Kita pun tak ingin melihat ada warga tidak terlayani rumah sakit. Bahkan, kita tak mau sampai ada pasien yang terbengkalai hingga tak tertolong hanya karena urusan anggaran. Seperti kata Presiden, manajemen pengelolaan JKN mesti benar-benar modern dan profesional. Artinya, selain diperlukan pendataan yang cermat dan akurat, diperlukan juga alat bantu seperti aplikasi berbasis teknologi informasi.

Memang diperlukan investasi untuk membangun manajemen sistem kesehatan nasional berkelanjutan. Tapi, jika benar-benar dihitung sesuai dengan kebutuhan dan data akurat, antara pengeluaran, pelayanan, dan penghasilan, tentu bisa disesuaikan. Dengan jumlah penduduk banyak, fasilitas kesehatan pas-pasan, dan tenaga medis terbatas, sebenarnya kunci program JKN bukan semata anggaran, tapi semangat menciptakan hidup sehat. Artinya, kita harus juga mengembangkan pola hidup sehat secara nasional.

Hidup sehat itu merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan hidup sehat ini arus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

Berita Terbaru

PT Telkom Indonesia Nyatakan Konektivitas Digital Pascagempa NTT Sudah Pulih 100 Persen

Hingga Agustus, Samsat Palu Catat Realisasi PKB Rp50,72 Miliar

Mentan Andi Amran Sulaiman Copot 14 Pejabat Kementan, Diduga Terlibat Penyimpangan Uang Miliaran

3,6 Ton Daging Tanpa Dokumen Digagalkan di Pelabuhan Merak, Langsung Dimusnahkan.

Jelang MotoGP Mandalika 2026, Pemkab Lombok Tengah Bentuk Satgas Pengawasan Akomodasi.

Akibat Korsleting Listrik, Sebuah Rumah di Matraman Jakarta Timur Terbakar

Ekspor Perikanan Batam ke Singapura Capai 3.678 Ton, Nilainya Rp125 Miliar.

Mataram Siapkan 60.000 Benih Ikan Nila, Dorong Ketahanan Pangan Masyarakat.

Berikut Daftar Harga Emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian yang Kompak Turun pada Rabu (19/8)

Harga Pupuk Turun 20 Persen, Petani Sumedang Rasakan Biaya Produksi Lebih Ringan.

Harga Emas Antam Anjlok Rp50.000 Menjadi Rp2,645 Juta/Gr pada Rabu (19/8)

TelkomGroup Pulihkan 100 Persen Layanan Telekomunikasi Pascagempa NTT

Menaker: Jaminan Sosial Harus Jadi Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi Keluarga Pekerja.

PT Pertamina Patra Niaga Bantu 35.000 Lt Air Bersih untuk Warga Maumere

Pameran SBY Art Community 2026 Jadi Jembatan Seni Jakarta dan Berlin

Ekspor TPT Semester I 2026 Capai USD4,85 Miliar, Serap 3,8 Juta Pekerja

Panglima TNI Terima 76 Paskibraka 2026, Perkuat Semangat Generasi Muda.

Kualitas Udara di Banjarbaru Sangat Tidak Sehat, BMKG Minta Warga Waspada

Tindak Lanjut Gempa Flores, PU Percepat Pendataan RS, Kantor, dan Sarana Air Bersih

TNI Kerahkan 1.265 Personel dan Salurkan 188 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.