Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

'Tak Benar Pemerintah Mengekang Penelitian''Tak Benar Pemerintah Mengekang Penelitian'

📅 Kamis, 08 Feb 2018, 06:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
'Tak Benar Pemerintah Mengekang Penelitian''Tak Benar Pemerintah Mengekang Penelitian' Doc: istimewa

Mereka menganggap aturan itu berpotensi mengekang kegiatan ilmiah. Salah satu yang paling digugat para aktivis dan peneliti adalah klausul soal dampak negatif penelitian.

Menurut mereka itu adalah bentuk nyata pengekangan pemerintah terhadap kegiatan penelitian. Untuk mengupas itu lebih lanjut, Koran Jakarta mewawancarai Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo. Berikut petikan wawancaranya.

Permendagri Nomor 3 Tahun 2018 tentang penerbitan SKP dinilai aktivis dan peneliti mengekang kegiatan penelitian. Tanggapan Anda?

Ini Permendagri Nomor 3 Tahun 2018 tentang Penerbitan Surat Keterangan Penelitian atau SKP, ini terbit tanggal 11 Januari 2018. Permendagri ini keluar dalam rangka untuk merevisi Permendagri yang temanya sama, yakni Permendagri Nomor 64 Tahun 2011 tentang Pedoman Penerbitan Rekomendasi Penelitian.

Revisi ini, pertama karena sudah munculnya PTSP, Perpres Nomor 97 Tahun 2014. Jadi karena ada itu, maka kan perlu juga merevisi. Artinya, kalau kita tidak revisi malah ada tumpang tindih antara PTSP dengan Permendagri Nomor 64 Tahun 2011 tadi.

Karena kalau dulu di Permendagri Nomor 64 Tahun 2011 itu memang perizinan bertahap. Kemudian juga harus melalui petugas OPD yang ada di daerah dengan melalui Kesbangpol dulu.

Permendagri yang sekarang?

Sekarang tidak lagi, enggak ada lagi izin- izin di Kesbangpol. Di Permendagri tidak ada lagi. Jadi, sebelum kita menyikapi tentang sesuatu persoalan tentu kan kita sandingkan dulu isinya Permendagri Nomor 64 Tahun 2011 dengan Permendagri Nomor 3 Tahun 2018.

Ini harus kita sinkronkan bahwa Permendagri ini hanya untuk menghilangkan semua urutan perizinan yang ada di Permendagri Nomor 64 Tahun 2011.

Contoh di dalam Permendagri Nomor 64 Tahun 2011 itu, kalau misalnya para peneliti sudah mendapatkan SKP ditingkat pusat, mereka nanti harus lapor di tingkat provinsi. Mereka kan mau ke daerah ke kabupaten atau kota.

Mereka harus ke pejabat di kabupaten kota. Sekarang tidak ada lagi. Begitu dia dapat SKP dari perguruan tinggi ya untuk melakukan penelitian misalnya di daerah Papua, ya sudah mereka dari setelah mendapat itu langsung kejar Papua. Berangkat ke daerah itu sudah bisa. Enggak harus melalui daerah.

Ke Kesbangpol bagian provinsi atau mungkin di kabupaten yang ada disitu enggak perlu. Nah mana yang menjadi persoalan.

Soal dampak negatif?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah that's right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...

Putin Sebut Barat Sengaja Bikin 'Tirai Besi'

35 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Putin Sebut Barat Sengaja B...
Luar Negeri
Ethiopia Memanas Lagi, Bant...
Luar Negeri
Russia Tidak Tinggal Jika N...
Advertisement
Makin Tertekan, INACA Desak Pajak Sparepart Pesawat Juga Bisa Ditekan jadi 0%

Makin Tertekan, INACA Desak Pajak Sparepart Pesawat Juga Bisa Ditekan jadi 0%

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.