Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Penanganan Pandemi I 17.154.145 Warga Sudah Divaksin Dosis Lengkap

Wabah yang Mengganas di RI Dorong Varian Virus Baru

Foto : Sumber: Covid19.go.id
A   A   A   Pengaturan Font

Semakin banyak infeksi dalam suatu komunitas maka akan makin besar peluang untuk adanya varian baru.

QUEENSLAND - Para ahli penyakit menular dari seluruh dunia memperingatkan, kecepatan dan skala wabah Covid-19 di Indonesia telah menciptakan tempat berkembang biak yang sempurna bagi strain superbaru, yang berpotensi lebih menular dan mematikan daripada varian Delta.

Pekan lalu, Indonesia melampaui India dan Brasil sebagai negara yang melaporkan jumlah kasus harian tertinggi di dunia. Pada Kamis (22/7), negara ini melaporkan lebih dari 49.500 kasus baru dan 1.449 kematian.

"Varian baru selalu muncul di wilayah atau negara yang tidak bisa mengendalikan wabah," kata ahli epidemiologi Indonesia yang meneliti varian virus korona, di Griffith University Australia, Dicky Budiman, di Queensland, baru-baru ini.

"Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan jika lebih dari 5 persen tes kembali positif, wabah tidak dapat dikendalikan. Di Indonesia, sudah lebih tinggi dari 10 persen selama 16 bulan pada awal pandemi. Sekarang sudah lebih dari 30 persen. Jadi bisa dibayangkan, seberapa besar kemungkinan Indonesia membuat varian baru atau supervarian dari Covid-19," tuturnya.

Direktur Institut Eijkman, organisasi pemerintah yang mempelajari penyakit menular tropis dan baru, Amin Soebandrio, mengatakan meskipun belum ada varian baru yang muncul di Indonesia, kewaspadaan sangat penting.

"Dengan meningkatnya jumlah kasus, kita tidak dapat menyangkal bahwa itu mungkin dan harus hati-hati mengamati untuk mengidentifikasi varian baru segera setelah muncul," katanya.

Terus Bermutasi

Virus terus-menerus berubah melalui mutasi pada gen mereka, menciptakan varian yang lebih maju. Wakil Ketua Kedokteran untuk integritas data dan analitik di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins, Stuart Ray, mengatakan varian Covid-19 baru terdeteksi di seluruh dunia setiap minggu.

"Itu adalah sifat virus RNA seperti virus korona untuk berevolusi dan berubah secara bertahap. Kebanyakan datang dan pergi. Beberapa bertahan, tetapi tidak menjadi lebih umum. Beberapa peningkatan populasi untuk sementara waktu dan kemudian menghilang," tutur dia.

Secara global, ada empat varian yang menjadi perhatian. Varian Alpha, pertama kali diidentifikasi di Inggris Raya. Varian Beta, pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan. Varian Delta, pertama kali diidentifikasi di India. Varian Gamma, pertama kali diidentifikasi di Brasil.

Soebandrio mengatakan, semua, kecuali varian Gamma, telah terdeteksi di Indonesia, dan bahwa negara tersebut sekarang memiliki kapasitas diagnostik untuk mendeteksi strain baru dalam jangka waktu yang singkat. Lebih dari 3.000 string genom telah diurutkan sejak awal tahun di Indonesia, dibandingkan dengan hanya 200 hingga 300 tahun lalu. Hasil penelitian menunjukkan varian Alpha masih menyebar, namun Delta lebih dominan.

"Varian Delta empat hingga lima kali lebih menular daripada virus asli," kata ahli virologi terkemuka dari India, Shahid Jameel, yang hingga saat ini memimpin kelompok penasihat di Konsorsium Genomics SARS-CoV-2 India, yang memantau varian Covid-19.

Sementara itu, perwakilan dari dua kelompok penelitian virus korona terkemuka dunia di Amerika Serikat (AS), khawatir kondisi di Indonesia sudah matang untuk munculnya varian baru Covid-19 yang menjadi perhatian.

"Semakin banyak infeksi dalam suatu komunitas, semakin besar peluang untuk varian baru," kata pakar Ilmu Metrik Kesehatan di Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan di Seattle, Ali Mokdad.

Pakar penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins, Robert Bollinger, memperingatkan Covid-19 "memiliki potensi untuk bermutasi menjadi varian baru setiap kali menginfeksi orang baru.

Tetapi, memprediksi di mana dan kapan varian baru yang menjadi perhatian akan muncul, masih di luar kemampuan para ilmuwan saat ini.

Jeda yang lebih lama antardosis vaksin Covid-19 Pfizer mengarah pada kadar antibodi keseluruhan yang lebih tinggi dibanding jeda yang lebih singkat, meskipun terjadi penurunan tajam kadar antibodi setelah penyuntikan pertama, menurut sebuah studi di Inggris, Jumat.

Penelitian itu dapat membantu menginformasikan strategi vaksinasi terhadap varian Delta, yang mengurangi keampuhan dosis pertama vaksin Covid-19 meski dua dosis masih bisa melindungi.

Sebanyak 17.154.145 orang sudah divaksinasi Covid-19 dosis lengkap atau dua kali suntikan, yang ini bertambah 257.945 orang pada 23 Juli 2021. Laporan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 di Jakarta, Jumat, menyatakan 43.717.254 orang telah menjalani vaksinasi Covid-19 dengan dosis pertama. n SB/aljazeera/N-3


Redaktur : Marcellus Widiarto
Penulis : Selocahyo Basoeki Utomo S

Komentar

Komentar
()

Top