Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Pengelolaan Keuangan

Utang Global Melonjak Mendekati US$300 Triliun

Foto : Sumber: IIF, Reuters - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Institute of Internasional Finance (IIF) menyatakan utang global pada kuartal II-2021 melonjak mendekati 300 triliun dollar Amerika Serikat (AS) sekaligus tercatat sebagai rekor tertinggi baru. Lembaga tersebut menyatakan lonjakan utang paling tajam dicatatkan oleh Tiongkok.

Sementara itu, utang negara-negara emerging market di luar Tiongkok juga naik ke rekor tertinggi baru menjadi 36 triliun dollar AS pada kuartal kedua. Untuk AS sendiri, akumulasi utangnya sekitar 490 miliar dollar AS dollar AS. Kenaikan utang global didorong oleh kenaikan pinjaman pemerintah.

"Pertumbuhan utang itu adalah yang paling lambat sejak awal pandemi, meskipun utang rumah tangga meningkat pada rekor kecepatan," sebut IIF.

Meski melonjak, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebut IIF turun untuk pertama kalinya sejak awal pandemi. Penurunan rasio terjadi karena pertumbuhan ekonomi pulih.

Meski demikian, total tingkat utang yang meliputi pemerintah, rumah tangga, serta korporasi dan bank naik 4,8 triliun dollar AS menjadi 296 triliun dollar AS pada akhir Juni, setelah sedikit menurun pada kuartal pertama sebesar 36 triliun dollar AS.

Menanggapi lonjakan utang global tersebut, Pakar Ekonomi STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan kondisi tersebut harus benar-benar menjadi perhatian karena terjadi saat perdagangan dunia dalam konstraksi. Padahal, perdagangan dunia adalah kunci pembayaran utang.

"Utang kan dalam dollar, tapi negara-negara non- Amerika, kalau tidak ada ekspor, bayar utang pakai apa?" kata Aditya.

Perdagangan, katanya, harus benar-benar bisa menerobos pandemi karena lalu lintas manusia sudah terhambat. "Bisnis pariwisata dunia akan masih sangat sulit. Maka, segala halangan perdagangan dunia harus dihilangkan," katanya.

Selain itu, setiap negara dituntut mengurangi impor dan mengandalkan produk dalam negeri. Hal itu untuk mengurangi tekanan pada cadangan devisa untuk pembayaran utang.

"Kasus Indonesia ini harus dijaga benar ekonomi dalam negeri, soalnya ada masalah dengan pengangguran, kenaikan utang, pengangguran, dan kemiskinan," kata Aditya.

ULN Indonesia

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) dalam keterangannya, Rabu (15/9), menyebutkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Juli 2021 naik tipis menjadi 415,7 miliar dollar AS dibanding bulan sebelumnya 415,62 miliar dollar AS. Dengan posisi tersebut, ULN Indonesia pada akhir Juli 2021 tumbuh 1,7 persen yoy.

ULN pemerintah, kata Erwin, tercatat 205,9 miliar dollar AS atau naik dari 205,03 miliar dollar AS pada akhir Juni 2021. Angka tersebut tumbuh 3,5 persen yoy atau melambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 4,3 persen yoy.

"Perkembangan ini disebabkan oleh penurunan posisi Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan pembayaran neto pinjaman bilateral, di tengah penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan dampak pandemi Covid-19," kata Erwin.

Sesuai strategi pembiayaan yang telah ditetapkan, pemerintah juga menerbitkan SBN dalam dua mata uang asing (dual-currency), yaitu dollar AS dan euro pada bulan Juli 2021. Penerbitan utang itu untuk memenuhi pembiayaan APBN secara umum, termasuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Sementara itu, ULN swasta tercatat 206,98 miliar dollar AS, turun dari 207,76 miliar dollar AS pada bulan Juni 2021. Hanya, pertumbuhannya tercatat 0,1 persen yoy, atau lebih tinggi dari kontraksi 0,2 persen yoy pada bulan sebelumnya.


Redaktur : Vitto Budi
Penulis : Eko S

Komentar

Komentar
()

Top