Standar Produk Pala
📅 Senin, 04 Feb 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: koran jakarta/ones
Oleh Reza Lukiawan
Dulu, pala atau rempah-rempah pada umumnya menjadi idola orang Eropa. Mungkin karena karakteristiknya yang berguna untuk menghangatkan tubuh di kala dingin menerpa. Atau menjadi komoditas prestise yang bernilai tinggi di kalangan saudagar. Bahkan, komoditas ini pernah menjadi primadona yang tak kalah dengan nilai emas zaman dulu.
Pada era penjelajahan samudera, ada semboyan 3G yang begitu terkenal (gold, glory, gospel). Gold secara harafiah maksudnya emas, tapi juga komoditas lain yang mempunyai nilai setara emas. Pala salah satunya. Memang pada saat itu, pengerukan atau eksploitasi sumber daya alam (SDA) Nusantara begitu masif dan dibawa ke negara-negara penjajah.
Tak ayal, karena banyak digemari dan bisa untuk bermacam-macam kebutuhan menyebabkan harga pala melambung tinggi. Namun, itu terjadi ratusan tahun lalu. Bagaimana sekarang? Apakah pala banyak diekspor ke Eropa? Fakta dan data perdagangan membuktikan bahwa memang eksistensi pala tetap terjaga hingga sekarang.
Bahkan, Indonesia dianggap sebagai negara eksportir pala dunia. Kompetitor utama hanya Guatemala dan India. Market share Indonesia mencapai 25,24 persen, terbesar kedua setelah Guatemala (32,61). Pala yang diekspor berupa biji utuh. Bila membedah isi buah pala, ada beberapa bagian di dalamnya.
Bagian-bagian tersebut antara lain daging buah pala, fuli, dan biji. Jadi, biji pala ini bagian inti yang dibungkus fuli berwarna merah. Sebenarnya, bagian tersebut mempunyai manfaat masing-masing. Contoh, daging buah untuk asinan, manisan, marmelade, dan selai. Fuli dapat diolah menjadi minyak atsiri. Tapi, bagian yang mempunyai nilai ekonomis tinggi terdapat pada biji pala.
Standar Mutu
Seperti komoditas hasil alam lainnya, pala juga rentan terhadap perubahan lingkungan, suhu, iklim, dan cuaca. Uniknya, pala dapat tumbuh dan berbuah sepanjang tahun. Selain itu, pemeliharaannya relatif mudah. Tanaman pala banyak tumbuh di hutan atau pekarangan secara liar, meskipun akan lebih bernilai jika dibudidayakan.
Tanaman pala banyak tumbuh di daerah-daerah Indonesia Timur. Sentra industri pala antara lain Sualwesi Utara, Maluku, dan Papua. Bahkan pala yang berasal dari Siau, Sulawesi Utara terkenal mempunyai ciri dan aroma khas yang disenangi orang asing. Tanaman ini 90 persen dikelola perkebunan rakyat, sehingga budidaya masih sangat sederhana dilakukan para petani.
Apabila budidaya dilakukan dengan baik tentunya akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar. Apalagi pala merupakan salah satu komoditas ekspor. Keterjaminan mutu dari suatu produk tak bisa ditawar demi memenuhi persyaratan ekspor ke Eropa. Sebetulnya, pemerintah atau Kementerian Pertanian sudah mempunyai pedoman penanganan pascapanen pala.
Ini tertuang dalam Permentan Nomor 53/Permentan/OT.140/9/2012. Badan Standardisasi Nasional (BSN) juga sudah menerbitkan SNI 0006:2015 Pala. Dalam dua dokumen acuan ini dijelaskan dengan rinci tahapan-tahapan seperti sortasi, pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan. Dari sisi SNI, telah diatur mengenai klasifikasi, syarat mutu, cara uji untuk menjaga mutu pala.
Dalam SNI terdapat pembagian kelas mutu biji pala yang telah disortir. Ada 3 kelas mutu. Muutu 1 disebut kelas ABCD. Mutu 2 disebut kelas SS dan mutu 3 (terendah) disebut kelas BWP. Pembagian ini tak hanya soal kelas dan ciri fisik biji, tetapi yang lebih penting untuk menentukan harga di pasar.
Meskipun segala acuan sudah dibuat, tak jarang pala yang dijual masih banyak kurang bermutu. Ini bisa jadi karena pola budidaya yang masih sederhana atau pengetahuan petani yang masih minim. Petani jadi abai akan hal-hal yang menjadi titik kritis untuk memenuhi syarat mutu. Ini bisa karena desakan kebutuhan ekonomi sehari-hari yang memaksa petani segera menjual pala tersebut, meski belum kering sempurna.
Harga pala antara 60.000 dan 90.000 rupiah sekilo, tergantung pada kelas mutu tadi. Pada umumnya, rantai distribusi perdagangannya melibatkan petani lalu dijual ke pengepul hingga ke tangan eksportir.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!