Sekolah Swasta Tak Seharusnya Jadi Jawaban dari Masalah Sekolah Negeri
📅 Selasa, 06 Jun 2023, 12:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Walda Marison
Senza Arsendy, The University of Melbourne
"Sekolah bukan saja soal ilmu. Orang tua harus cari sekolah yang bisa mendukung jejaring sosial anak-anak!"
"Untuk SD-SMP, masuk swasta aja supaya anak bisa dapat fondasi yang kuat!"
"Orang tua jangan lupa nabung, biaya sekolah anak semakin mahal!"
Seruan di atas serta tips tentang perencanaan keuangan untuk sekolah anak marak muncul di masyarakat, apalagi menjelang tahun ajaran baru sekolah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Fenomena seperti ini bisa dipahami karena sekolah memang bukan saja tempat belajar, tapi juga tempat di mana kelas sosial direproduksi. Sekolah bergengsi menjadi tempat bagi kelompok menengah ke atas untuk mengamankan posisi kelas sosialnya, sekaligus membedakan posisi mereka dengan keluarga lain yang kondisi ekonominya lebih terbatas.
Akibatnya, pilihan orang tua untuk mengirimkan anaknya ke sekolah swasta bergengsi seakan mengandung unsur moral.
Orang tua, misalnya, mengambil pilihan tersebut untuk memberikan kesempatan yang terbaik untuk anaknya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun tidak selalu memiliki kualitas luaran yang lebih baik dibandingkan dengan sekolah publik, umumnya sekolah swasta bergengsi punya fasilitas pembelajaran yang lebih lengkap, kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang mendukung potensi anak, serta perbandingan jumlah siswa dan guru yang lebih sedikit sehingga pembelajaran bisa lebih efektif.
Selain itu, pilihan orang tua untuk mengirimkan anak ke sekolah swasta bisa jadi juga dilakukan dengan dalih memberikan kesempatan bagi keluarga lain, khususnya dari kelas menengah ke bawah untuk mengakses pendidikan di sekolah publik yang lebih terjangkau dibandingkan sekolah swasta bergengsi. Alasan ini bisa dimengerti karena jumlah sekolah negeri memang relatif terbatas, bahkan di kota besar.
Artinya, fenomena mengirimkan anak ke sekolah swasta cenderung menggambarkan pendidikan sebagai barang privat.
Dalam perspektif ini, pendidikan semata-mata adalah investasi keluarga untuk masa depan anaknya. Di sini, mekanisme pasar bekerja - makin sejahtera keluarga, makin besar kemungkinan anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Terbatasnya dan kurang meratanya sekolah yang berkualitas mengharuskan orang tua, bahkan dari sesama kelas menengah ke atas, untuk berkompetisi agar bisa berinvestasi di tempat yang tepat.
Melalui tulisan ini, saya ingin menjelaskan bagaimana fenomena ini bertentangan dengan filosofi pendidikan sebagai barang publik, serta komitmen negara untuk mendorong masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Pendidikan berkualitas perlu kita posisikan sebagai hak yang perlu didorong dan dibiayai sama-sama oleh publik melalui pajak, bukan sekadar tanggung jawab keluarga yang memiliki anak.
Mengapa pemilihan sekolah itu bias
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!