Rencana 'Diplomasi Orang Utan' Malaysia Tuai Kritikan
📅 Jumat, 05 Jul 2024, 15:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Theconversation/R.M. Nunes /Alamy
Chee Meng Tan, University of Nottingham
Malaysia berencana menghibahkan orang utan untuk mitra ekonomi utamanya, sebagai salah satu cara meningkatkan citra mereka di dunia internasional sekaligus membangun aliansi. Rencana "Diplomasi Orangutan" ini dibenarkan oleh Menteri Pertanian dan Komoditas Malaysia, Johari Abdul Ghani, dalam konferensi biodiversitas, awal Mei lalu.
Malaysia mengumumkan rencana tersebut beberapa hari setelah Uni Eropa, salah satu importir terbesar minyak sawit Malaysia, bersepakat untuk melarang impor produk pertanian yang ditanam di lahan hasil pembabatan hutan setelah 2020. Perusahaan-perusahaan yang hendak mengekspor produk pertaniannya ke Eropa harus membeberkan bukti, misalnya melalui citra satelit, bahwa produknya tidak ditanam di lahan seperti itu.
Kebijakan ini dapat memukul industri sawit Malaysia, yang dituduh menghancurkan habitat spesies-spesies terancam di hutan, salah satunya orang utan.
Tanpa adanya rencana konservasi yang menyeluruh, kebijakan Malaysia berisiko menuai kecaman internasional bahwa pemberian orang utan adalah penghargaan bagi importir minyak sawit utama mereka. Ini juga dapat merusak jalannya program konservasi, pun citra Malaysia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam bahasa Melayu dan Indonesia, orang utan berarti orang hutan. Kera besar ini hanya ditemukan di Malaysia dan Indonesia. Mereka memiliki kulit kemerahan, bertangan panjang, bantalan pipi, dan-seperti panda dari Cina, ibu jari yang berlawanan.
Orang utan memiliki kecerdasan seperti manusia dan mereka juga memakai obat herbal untuk menyembuhkan luka, mereka berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa isyarat.
Sayangnya, populasi orang utan terus berkurang. Lembaga WWF (sebelumnya the World Wide Fund for Nature) menyatakan bahwa seabad lalu, ada lebih dari 230 ribu individu orang utan. Kini, populasi orang utan sudah berkurang separuhnya. Primata ini berstatus kritis terancam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perburuan dan perdagangan satwa ilegal memang menjadi salah satu penyebabnya. Namun, biang keladi sebenarnya adalah deforestasi akibat minyak sawit. Industri ini menyebabkan hutan luas-habitat orang utan-dibabat untuk perkebunan kelapa sawit.
Rencana mengirim orang utan ke importir minyak sawit utama jelas kontroversial. Stuart Pimm, pakar ekologi konservasi dari Duke University, Amerika Serikat, menggambarkan diplomasi orang utan sebagai diplomasi yang "tidak layak" dan "menjijikkan". Stuart menekankan bahwa, tidak seperti panda raksasa di Tiongkok, orang utan tidak memiliki fasilitas canggih dan kawasan lindung di kampung mereka.
Ekonomi Malaysia sangat bergantung pada sawit. Sekitar 5% PDB Malaysia pada 2022 datang dari sektor ini. Ekspor sawit juga salah satu sumber utama perolehan devisa mereka. Minyak sawit adalah komoditas serba guna dan hemat biaya. Minyak sawit biasa digunakan untuk produk minyak goreng, lipstik, sampo, deterjen, sabun, coklat, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Johari menekankan gagasan pemberian orang utan adalah strategi diplomasi untuk meyakinkan mitra ekonomi Malaysia bahwa mereka berkomitmen untuk mengembangkan perekonomian sekaligus melestarikan satwa liar. Malaysia juga ingin mencoba menebus publikasi buruk soal sawit berikut kebijakan industrinya.
Inspirasi Malaysia: sejarah diplomasi panda Cina
Gagasan diplomasi orang utan terinspirasi dari kesuksesan proyek diplomasi panda Cina. Legenda menyebutkan diplomasi panda dimulai sejak era Dinasti Tang (618-907), tapi baru berkembang setelah kunjungan resmi Presiden Amerika Serikat Richard Nixon dan istrinya Pat Nixon ke Cina pada Februari 1972.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!