Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Program Pangan Berkelanjutan Solusi Setop Impor ke Depan

📅 Senin, 16 Okt 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Program Pangan Berkelanjutan Solusi Setop Impor ke Depan Doc: ANTARA/AKHMAD NAZARUDDIN LATHIF
Ket. HASILKAN PRODUK PANGAN PENGGANTI IMPOR I Seorang pedagang memilah bawang putih impor yang dijual di Pasar Bitingan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, belum lama ini. Indonesia harus bisa menghasilkan produk pangan pengganti impor dari dalam negeri guna mengurangi impor pangan yang tiap tahun selalu berulang.

» Kementan telah menerbitkan 200 lebih RIPH bawang putih dengan total volume mencapai 1,1 juta ton.

» Untuk peningkatan produksi dalam negeri, kewajiban menanam bawang putih menjadi kebijakan yang wajib dilakukan.

JAKARTA - Pemerintah khususnya Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian (Kementan) diminta tidak menyampaikan pernyataan-pernyataan yang menyesatkan seolah-olah sudah ada beberapa komoditas pertanian yang sudah swasembada dan sudah memasuki pasar ekspor. Sebab, kenyataan menunjukkan hampir semua komoditas masih diimpor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Setelah izin impor beras beberapa waktu lalu, kini keluar juga izin impor 500 ribu ton jagung untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak dalam negeri. Terbaru, Kementan mengakui telah menerbitkan 200 ratus lebih Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) bawang putih dengan total volume mencapai 1,1 juta ton.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (15/10), mengatakan setelah RIPH diterbitkan oleh Kementan, pelaku usaha melakukan pengajuan Persetujuan Impor (PI) ke Kementerian Perdagangan.

"Jadi bukan hanya beberapa importir saja. Saya sampaikan bahwa wewenang perizinan impor bawang putih ada di Kementerian Perdagangan," kata Prihasto.

RIPH, katanya, adalah rekomendasi teknis yang menyatakan bahwa produk hortikultura yang akan diimpor telah memenuhi persyaratan produk yang aman konsumsi dan bermutu baik. Selain itu, menerapkan prinsip telusur balik yang baik (traceability) dan memenuhi standar keamanan pangan segar asal tumbuhan.

"RIPH diperlukan oleh pelaku usaha sebagai salah satu syarat melakukan impor produk hortikultura," katanya.

Menanggapi impor pangan tersebut, pakar pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Zainal Abidin, mengatakan pemerintah agar segera mewujudkan program food estate guna mengurangi impor pangan yang tiap tahun selalu berulang.

Untuk saat ini, dia meminta pemerintah mendorong petani mengintensifkan metode tumpang sari guna mengembangkan tanan hortikultura karena dipandang efektif untuk membantu petani miskin.

"Program yang berkelanjutan seperti food estate memang sangat kita butuhkan untuk mengurangi impor pangan yang tiap tahun selalu ada. Dengan pengelolaan lahan yang luas, ini bisa diisi dengan tanaman subtitusi impor, jadi ke depan tidak ada lagi alasan untuk impor," kata Zainal.

Sambil berjalan, petani bisa mengintensifkan cara tumpang sari untuk meningkatkan kapasitas produksi hortikultura. Dengan pemilihan jenis tanaman yang tepat, sistem itu dapat menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, cocok untuk menambah pendapatan petani yang miskin.

"Tumpangsari bisa menjadi alternatif untuk mencegah masyakarakat desa meninggalkan pertanian. Karena mayoritas pertanian ada di perdesaaan, maka perlu dibangun jalan agar menunjang transportasi yang murah dan cepat sehingga produk dari desa bisa cepat di bawa ke kota, dan sebaliknya. Dampaknya akan mendorong pemerataan ekonomi," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

57 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.