Penobatan Raja Charles III Cermin Keinginannya Bela Semua Agama
📅 Senin, 08 Mei 2023, 12:57 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/AP/Chris Jackson
Philip Williamson, Durham University
Hampir 30 tahun yang lalu, Raja Charles - kala itu masih Pangeran Charles - menyiratkan bahwa ketika menjadi raja, ia tidak hanya ingin mewarisi gelar tradisional raja atau ratu sebagai "pembela agamanya" (defender of faith), tetapi menjadi "pembela agama".
Pemegang takhta kerajaan Inggris bersumpah setia pada agama Protestan dan sebagai pemimpin tertinggi Gereja Inggris. Tapi, Charles telah berulang kali mengatakan bahwa ia juga ingin menjadi melindungi semua agama utama, baik Kristen maupun non-Kristen.
Selama beberapa dekade, pengamat kerajaan sudah mulai berspekulasi bagaimana bentuk penyelenggaraan penobatan akan berlangsung di zaman desentralisasi dan pluralisme agama yang meluas, serta meningkatnya sekularisasi.
Meski ada beberapa usulan reformasi atau perubahan menjadi upacara sipil, acara penobatan takhta tetap dilakukan melalui liturgi ritual kebaktian Gereja Inggris. Hanya saja, kali ini ada upaya mencari keseimbangan antara cara lama dan baru, memperluas lingkup simbolis, serta mengundang perwakilan agama-agama yang lebih besar dan beragam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ritual kebaktian tersebut telah dirancang sebaik mungkin seperti yang diharapkan dari sebuah teks hasil persiapan selama beberapa dekade, sebagi wujud negosiasi antara para pemimpin gereja, ahli kebaktian, pejabat istana, aparatur negara dan perwakilan dari berbagai gereja dan kepercayaan lain.
Penobatan kali ini mencoba mengolah ritual lama, yang berasal dari abad pertengahan dan sebagian besar tidak berubah sejak Reformasi abad ke-16, menjadi sebuah ritual bernuansa kontemporer.
Biasanya ada sesi penghormatan oleh bangsawan turun-temurun, tapi kini digantikan oleh penghormatan oleh rakyat. Dulu sifatnya cenderung eksklusif, sekarang lebih inklusif. Untuk pertama kalinya, perempuan turut serta dalam elemen upacara. Rishi Sunak, Perdana Menteri Inggris pertama yang berasal dari kalangan Hindu, membacakan sebuah ayat Alkitab dalam upacara ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perbedaan yang paling mencolok dari penobatan Ratu Elizabeth II pada tahun 1953 adalah partisipasi dari para penganut agama non-Kristen. Kebaktian dibuka dengan prosesi oleh pemimpin dan perwakilan komunitas agama. Penyerahan simbol kerajaan (regalia) - termasuk mahkota dan tongkat - kepada Raja Charles dibuat lebih kompleks, utamanya untuk mengakomodasi anggota Dewan Bangsawan (House of Lords) yang beragama Islam, Yahudi, Hindu, dan Sikh.
Pada akhir upacara, ada salam yang diucapkan secara kolektif oleh para pemimpin dan perwakilan dari komunitas Yahudi, Hindu, Sikh, Muslim, dan Buddha. Pernyataan bersama ini mencerminkan tema utama "pelayanan publik" yang telah dimasukkan ke pelayanan tradisional pengkudusan Raja:
Tetangga dalam iman, kami mengakui nilai pelayanan publik. Kami bersatu dengan orang-orang dari semua agama dan keyakinan dalam ucapan syukur, dan dalam pelayanan dengan Anda (Raja) untuk kebaikan bersama.
Doa selama pemberkatan diucapkan oleh para pemimpin Gereja Ortodoks Yunani di Inggris, organisasi Free Churches dan Churches Together in England, dan, mengingat sejarah kekristenan kerajaan serta Inggris sebagai negara, oleh Uskup Agung Katolik Roma dari Keuskupan Westminster.
Salah satu inovasi dalam penobatan Ratu tahun 1953 adalah adanya salinan Alkitab yang diberikan kepada Ratu oleh moderator majelis umum Gereja Skotlandia, kepala dari gereja kedua yang didirikan di Inggris. Sekarang, Uskup Agung Gereja Irlandia, Uskup Agung Gereja di Wales, dan Kepala Gereja Episkopal Skotlandia turut terlibat dalam berbagai sesi dalam agenda penobatan. Musik dinyanyikan dalam bahasa Wales, Gaelik Skotlandia, dan Gaelik Irlandia.
Penobatan untuk audiens modern
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!