Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Negara-negara Berkembang Terancam Jatuh dalam Krisis karena Utang

📅 Kamis, 21 Des 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Negara-negara Berkembang Terancam Jatuh dalam Krisis karena Utang Doc: ISTIMEWA
Ket. INDERMIT GILL Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior Grup Bank Dunia - Tingkat utang yang sangat tinggi dan suku bunga yang tinggi telah menempatkan banyak negara di jalur menuju krisis.

JAKARTA - Pemerintah Indonesia harus mewaspadai peringatan dari Bank Dunia agar Indonesia tidak jatuh dalam jebakan utang. Melihat laporan Bank Dunia, di mana banyak negara berkembang yang terancam jatuh dalam krisis karena utang, Indonesia perlu berhati-hati sehingga tidak terjerumus dalam debt trap.

"Indonesia perlu berhati-hati sehingga tidak terjerumus dalam debt trap. Tren kenaikan utang tetap harus diperhatikan dengan manajemen anggaran yang baik," kata pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Tika Widiastuti, kepada Koran Jakarta, Rabu (20/12).

Laporan Utang Internasional Bank Dunia terbaru, Rabu (13/12), menyebutkan negara-negara berkembang telah mengeluarkan dana sebesar 443,5 miliar dollar AS, hanya untuk membayar utang publik eksternal dan jaminan publik pada tahun 2022.

Bank Dunia memperingatkan dengan tingginya tingkat pembayaran tersebut, negara-negara berkembang terancam jatuh dalam krisis, karena utang telah mengalihkan sumber daya anggaran dari kebutuhan penting, seperti kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.

"Tingkat utang yang sangat tinggi dan suku bunga yang tinggi telah menempatkan banyak negara di jalur menuju krisis," kata Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior Grup Bank Dunia, Indermit Gill, lewat situs resmi Bank Dunia.

Laporan itu mengungkapkan, pembayaran utang termasuk pokok dan bunga, meningkat sebesar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya di semua negara berkembang.

Disikapi Serius

Sementara itu, Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi, Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, mengatakan pemerintah mesti menganggap serius peringatan Bank Dunia tersebut karena jika sampai terjadi krisis, yang paling dahulu menjadi korban adalah rakyat miskin.

"Dengan lemahnya posisi negara-negara miskin, yang diperlukan sekarang justru skema penghapusan utang, bukan menambah utang baru karena di situ ada risiko debt trap. Pada kondisi normal saja negara miskin sudah kesulitan menghadapi kebutuhannya, maka ketika ekonomi jatuh dan daya beli mereka turun, negara miskin otomatis tidak berdaya," kata Bagong.

Menurut Bagong, daya beli masyarakat miskin semakin tertekan meskipun pemerintah menyalurkan bantuan. Sebagian warga miskin bahkan harus menjual harta benda, membuat mereka semakin rentan dan tidak berdaya. Akibatnya, negara miskin terpaksa berharap bantuan dan pinjaman baru agar masyarakat dapat memperpanjang daya tahan menghadapi tekanan yang ada.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya, YB Suhartoko, menyoroti penarikan utang baru yang dilakukan pemerintah.

Menurut Suhartoko, jika untuk memperkuat devisa, menunjukkan ada potensi pelemahan mata uang domestik. "Jika untuk keperluan yang lain terutama untuk tujuan produktif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perlu dipikirkan manajemen utang ke depannya," ucapnya.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, mengatakan pemerintah sampai 12 Desember 2023 sudah menarik utang 345 triliun rupiah untuk membiayai rencana defisit APBN 2023 sebesar 598 triliun rupiah.

UU APBN secara eksplisit menyatakan rakyat (DPR) memberi wewenang kepada pemerintah menarik utang hanya sebesar untuk membiayai defisit anggaran. Dengan kata lain, pemerintah tidak boleh menarik utang lebih besar dari defisit anggaran. Maka dinamakan utang pembiayaan anggaran.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.