Mi Ramen Kemasan Lebih Sulit Dicerna Lambung
📅 Rabu, 19 Apr 2023, 06:40 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: AFP/SAM YEH
Konsumsi mi ramen kemasan instan terkait dengan masalah kesehatan. Studi terbaru menyebutkan mi semacam ini sulit untuk dicerna oleh lambung dibandingkan dengan mi segar.
Mi ramen kemasan instan atau kadang disebut dengan mi instan dipilih karena murah dan praktis. Harganya yang tidak lebih dari empat ribu rupiah per bungkus, kini mi ramen telah menjadi makanan pokok di banyak rumah. Di balik itu banyak studi yang menyebutkan, konsumen makanan ini memiliki implikasi negatif bagi kesehatan konsumennya.
Diawetkan secara kimiawi untuk umur simpan yang lama, bahan makanan ini memiliki kandungan garam atau sodiumnya yang tinggi. Kandungan garam ini bisa menimbulkan penyakit kardiovaskuler seperti darah tinggi, penyakit jantung, hingga mengganggu fungsi ginjal dan penipisan masa tulang.
Mi ramen juga susah untuk dicerna oleh lambung. Salah satu contoh dari dampak negatif mi ramen ditampilkan dalam sebuah video yang menjadi viral secara daring pada 18 Mei 2012. Hal ini bisa menjadi informasi bagi konsumen untuk memikirkan kembali mi ramen kemasan makanan mereka sehari-hari.
Sebelumnya, belum pernah ada yang memperlihatkan video proses pencernaan mi ramen di lambung, sampai Rumah Sakit Umum Massachusetts menemukan beberapa subjek uji yang mau menjadi relawan untuk makan makanan olahan itu dengan meletakkan kamera kecil di dalamnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur GI Motility Lab di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Dr Braden Kuo, mengatakan bahwa dia terkejut dengan reaksi tersebut dan apa yang dia sebut sebagai ketertarikan yang mengerikan dari proyek tersebut. Kamera seukuran pil multivitamin, merekam para peneliti video 32 jam yang belum pernah terjadi sebelumnya dari lambung ke usus kecil.
Sebelum uji klinis ini, kamera semacam itu hanya digunakan untuk mempelajari bagian dalam seseorang ketika perut kosong. Kuo mengatakan, video tersebut mengejutkan, memperlihatkan perut yang berkontraksi bolak-balik saat mencoba menggiling mi ramen.
Sebagai perbandingan, subjek penelitian juga makan mi buatan sendiri yang segar pada hari yang berbeda. Dari hasil penginderaan kamera yang ditampilkan secara bersama antara memproses mi ramen dan mi segar untuk dilihat secara berdampingan dengan hasil yang berbeda secara signifikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Hal yang paling mencolok tentang percobaan kami adalah ketika Anda melihat pada interval waktu, katakanlah satu atau dua jam, kami melihat mi ramen yang diproses lebih sedikit rusak daripada mi buatan sendiri," kata Kuo. "Saya menyadari bahwa videonya ada di luar sana dan itu provokatif," imbuh Kuo.
Namun demikian sampel penelitian ini terlalu kecil untuk dapat disimpulkan tentang apapun. Oleh karenanya ia dan tim sedang merencanakan lebih banyak studi penelitian. Dia berharap mereka akan mengungkapkan apakah pencernaan yang lebih lambat memengaruhi jumlah nutrisi yang diserap tubuh.
"Masih belum jelas dampaknya pada saluran pencernaan (GI)," kata Kuo. "Banyak hal yang baik dalam jumlah sedang. Saya pikir makanan olahan masih perlu diteliti lebih lanjut," tuturnya.
Sindrom Kardiometabolik
Sementara itu sebuah penelitian di Korea Selatan yang dipublikasikan oleh National Center for Biotechnology Information, menyatakan peningkatan konsumsi mi instan berhubungan positif dengan obesitas dan sindrom kardiometabolik. Kasus tersebut di negara yang memiliki konsumsi mi instan per kapita tertinggi di dunia tergolong tinggi.
Sindrom kardiometabolik adalah konstelasi disfungsi metabolik yang ditandai dengan resistensi insulin dan gangguan toleransi glukosa, dislipidemia aterogenik, hipertensi dan adipositas intra-abdominal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!