Mataram Usulkan Pemecah Gelombang Antisipasi Abrasi Pantai Ampenan
Kondisi pinggir pantai di kawasan objek wisata Pantai Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang rawan abrasi akibat gelombang pasang.
Foto: ANTARA/NirkomalaMataram -- Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat telah mengusulkan bantuan ke pemerintah pusat untuk pembuatan alat pemecah gelombang (jetty) guna antisipasi abrasi di kawasan objek wisata Pantai Ampenan.
"Pemecah gelombang di kawasan Pantai Ampenan jadi kebutuhan mendesak agar fasilitas yang sudah kami bangun tidak rusak karena gelombang pasang," kata Wali Kota Mataram Mohan Roliskana di Mataram, Kamis.
Dia mengatakan hal itu di sela kunjungan ke areal wisata Pantai Ampenan yang merupakan bekas Pelabuhan Ampenan dan saat ini dikembangkan sebagai kawasan Kota Tua yang sarat dengan nilai-nilai sejarah.
Dia mengatakan gelombang pasang menjadi masalah yang tidak bisa dihindari setiap tahun dan berdampak pada abrasi di sepanjang 9,1 kilometer pantai di Kota Mataram.
Apalagi kawasan Pantai Ampenan saat ini sudah rampung direvitalisasi, termasuk anjungan di sempadan pantai dan sudah dilengkapi dengan riprap atau pengaman tanggul.
"Hanya saja, upaya itu belum bisa maksimal karena ancaman abrasi akibat gelombang pasang masih berpotensi terjadi," katanya.
Ia menyatakan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram bersama Asisten II Sekda Kota Mataram telah diminta mengajukan proposal bantuan pembuatan alat pemecah gelombang ke Kementerian PUPR RI.
Kepala Dinas PURP Kota Mataram Lale Widiahning sebelumnya mengatakan anggaran yang diusulkan untuk pembangunan alat pemecah gelombang di Pantai Ampenan sebesar Rp45 miliar, termasuk untuk pemasangan riprap.
"Untuk pemecah gelombang akan dibangun 400 meter menjorok ke pantai, sedangkan riprap yang akan kami pasang sepanjang 700 meter ke arah utara dan selatan dengan lebar sekitar 1,5 meter," katanya.
Dia mengatakan alat pemecah gelombang yang akan dipasang itu sama dengan yang sudah dipasang di muara Sungai Jangkuk dan Pantai Loang Baloq, yang sejauh ini keberadaan pemecah gelombang di dua titik tersebut cukup efektif mencegah abrasi.
Oleh karena itu, pembangunan alat pemecah gelombang dan riprap dinilai mendesak karena kawasan Pantai Ampenan yang saat ini menjadi objek wisata Kota Tua merupakan titik rawan abrasi.
"Untuk melindungi berbagai fasilitas yang dibangun pemerintah di areal tersebut harus didukung dengan dua komponen tersebut agar tidak berdampak abrasi," katanya.
Dia mengharapkan pembangunan alat pemecah gelombang dan riprap dapat melindungi berbagai aset dan fasilitas pemerintah di kawasan Pantai Ampenan.
Selain itu, katanya, hal terpenting bisa memberikan rasa aman dan nyaman setiap pengunjung atau wisatawan Pantai Kota Tua Ampenan.
"Kondisi itu tentu akan memberikan dampak positif secara ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan warga sekitar sesuai dengan target pemerintah," katanya.
Berita Trending
- 1 KPU: Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Jakarta pada Kamis
- 2 Hari Kamis KPU tetapkan Gubernur
- 3 Perluas Akses Permodalan, Pemerintah Siapkan Pendanaan Rp20 Triliun untuk UMKM hingga Pekerja Migran
- 4 Panglima TNI Mutasi 101 Perwira Tinggi, Kepala BSSN dan Basarnas Juga Diganti
- 5 Marselino Ditemani Ole Romeny di Oxford United
Berita Terkini
- Anak Shin Tae-yong Kecewa Setelah Ayahnya Dipecat PSSI
- DKPP Apresiasi Kerja Keras KPU dan Bawaslu Sukseskan Pemilu dan Pilkada Serentak 2024
- Terancam Lumpuh, Lebih dari 2.300 Penerbangan di AS Batal Atau Tertunda Akibat Badai
- Komisi Kejaksaan Terima 869 Laporan Pengaduan Masyarakat, Jakarta Provinsi Tertinggi
- Menag Sebut Penurunan Biaya Haji 2025 Sesuai Permintaan Presiden dan Pastikan Tak Akan Kurangi Kualitas Layanan