Literasi dan Sikap Kritis Dibutuhkan Anak Muda di Era Teknologi
📅 Jumat, 17 Nov 2023, 14:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
SEMARANG - Anak muda sekarang hidup di dunia teknologi yang instan dan cepat. Kekuatan visualnya kuat. Ingin cepat tapi tidak matang. Maka itu, mereka membutuhkan pelajaran berpikir kritis dan literasi.
Hal itu diungkapkan Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo dalam Seminar Nasional bertema "Orang Muda Menghidupi Pancasila Menuju Indonesia Emas" yang digelar Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Asisi Semarang di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (17/11).
Benny hadir sebagai narasumber seminar selain Wakil Uskup Semarang, FX Sugiyono. Acara ini dihadiri sekitar 400 peserta dari seluruh Indonesia, baik secara luring ataupun daring.
Dalam seminar tersebut, Benny mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi generasi muda saat ini. Merujuk pada hasil survei Setara Institute, ia mengatakan, sekitar 75 persen anak muda setingkat SMA menyatakan ideologi Pancasila bukan sesuatu yang final.
"Kenapa ini bisa terjadi? Memori anak muda kita terhadap Pancasila hilang, dan ini yang paling besar: hilangnya keteladanan, role model, bagi anak muda, akan seseorang yang Pancasilais," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rohaniwan Katolik ini menyatakan, tidak adanya role model berdampak besar kepada anak-anak muda. Yang dipertontonkan adalah pelanggaran hukum dan norma etika. Seperti yang terjadi baru-baru ini: MK dan keputusan MKMK.
"Ini persoalan aplikasi nilai-nilai Pancasila. Pancasila belum menjadi pandangan hidup. Praktek KKN, kekerasan, hukum tebang pilih. Akibatnya, anak-anak cuek terhadap Pancasila, karena tidak ada role model yang aktual dan masih berkarya sekarang di Indonesia. Ini harus menjadi perhatian serius semua unsur bangsa," serunya.
Bicara Pancasila, kata Benny, adalah bicara bagaimana nilai dalam ketuhanan. Artinya, orang yang memiliki nilai ketuhanan, bisa mengaplikasikan kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, musyawarah mufakat, dan keadilan sosial. "Aplikasi ini jauh, karena orang-orang sekarang haus kekuasaan dan kekuatan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pakar komunikasi politik ini juga menggambarkan bagaimana anak-anak muda hidup di era teknologi ini. Mereka hidup di dunia teknologi, instan, dan cepat. Kekuatan visualnya kuat, tetapi gampang bisanan. Ingin cepat tapi tidak matang.
Maka, kata dia, anak-anak membutuhkan pelajaran berpikir kritis dan literasi. Dengan begitu, anak muda tidak mudah dimanipulasi teknologi, jiwa merdekanya tidak terenggut. Teknologi harus menjadi sarana mempersatukan, bukan memecah belah.
"Praktiknya sekarang, teknologi membuat peminggiran dan manipulasi terhadap kemanusiaan yang adil dan beradab. Hati-hati terhadap manipulasi. Oleh karena itu, berpikirlah kritis dan tambah ilmu literasi," katanya.
"Instan ini berbahaya, dan ini membahayakan ideologi. Ideologi juga harus menjadi ideologi bekerja. Anak-anak muda jangan terjerat dengan 'populerisme' dan menghalalkan segala cara. Melukai diri sendiri, merendahkan martabatnya sendiri, hanya agar dapat banyak followers. Inilah dibutuhkan kekritisan anak muda," lanjutnya.
Benny mengajak anak-anak muda untuk memerangi konten yang merusak.
"Teman-teman muda harus punya literasi kebangsaan, jadilah kritis. Buat gagasan yang bernilai Pancasila. Jangan hanya ikut arus dan tidak memakai kemampuan berpikir kritisnya. Jangan sampai kita hidup instan terus, tetapi harus cerdas, dan mewujudkan masyarakat adil dan makmur."
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!