Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lima Pendaki Rusia Tewas di Puncak Tertinggi Ketujuh Dunia

📅 Selasa, 08 Okt 2024, 17:32 WIB | Oleh:
Lima Pendaki Rusia Tewas di Puncak Tertinggi Ketujuh Dunia Doc: Istimewa
Ket. Gunung Dhaulagiri, yang dikenal karena medannya yang curam dan menantang, terkenal di kalangan pendaki karena cuacanya yang tidak dapat diprediksi dan berbagai tantangan teknis.

KATHMANDU - Lima pendaki gunung Rusia ditemukan tewas di Gunung Dhaulagiri, puncak tertinggi ketujuh di dunia setelah tampaknya terpeleset dan jatuh, Selasa (8/10).

Dilansir oleh Newsweek, para pendaki telah mendaki gunung Himalaya setinggi 26.788 kaki selama musim pendakian musim gugur di Nepal.

"Mereka dilaporkan hilang sejak Minggu dan dipastikan meninggal setelah helikopter penyelamat melihat jasad mereka," kata Pemba Jangbu Sherpa dari I AM Trekking and Expeditions yang berpusat di Kathmandu.

Dua pendaki berhasil mencapai puncak, sementara yang lain berbalik arah sebelum mencapai puncak. Komunikasi radio terputus antara pendaki dan tim base camp, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan keselamatan mereka.

Upaya untuk mengambil jenazah dari gunung masih belum pasti, karena operasi tersebut memerlukan perencanaan yang signifikan, kru, dan peralatan khusus.

Gunung Dhaulagiri, yang dikenal karena medannya yang curam dan menantang, terkenal di kalangan pendaki karena cuacanya yang tidak dapat diprediksi dan berbagai tantangan teknis.

Puncaknya pertama kali dicapai pada tahun 1960 oleh tim Swiss-Austria. Sejak saat itu, gunung ini telah menjadi tujuan populer bagi para pendaki, dengan ratusan pendaki mendaki puncaknya setiap tahun untuk mengejar petualangan dan prestasi.

Gunung ini merupakan satu dari delapan puncak tertinggi di dunia, kondisi alamnya menarik bagi banyak pendaki gunung yang mencari sensasi penjelajahan di dataran tinggi.

Pendaki asing memainkan peran penting dalam meningkatkan perekonomian Nepal, menyediakan sumber pendapatan yang signifikan bagi masyarakat.

Namun, pesatnya perkembangan industri pendakian telah memicu persaingan ketat antar perusahaan, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa beberapa perusahaan mungkin lebih mengutamakan keuntungan daripada keselamatan.

Telah terjadi lebih dari 300 kematian di Everest dan wilayah sekitarnya sejak pencatatan pendakian gunung di sana dimulai seabad yang lalu, dan banyak dari jasad ini masih belum ditemukan.

Pemerintah Nepal pertama kali meluncurkan kampanye pembersihan seluruh wilayah pada tahun 2019, yang mencakup pemindahan beberapa jenazah pendaki.

Namun tahun ini merupakan pertama kalinya pihak berwenang menetapkan sasaran untuk mengambil lima jenazah dari apa yang disebut "zona kematian," yang menggambarkan wilayah pegunungan di atas ketinggian 26.247 kaki.

Hindustan Times melaporkan bahwa Nepal telah mengeluarkan lebih dari 900 izin untuk pegunungannya tahun ini, termasuk 419 untuk Everest, yang menghasilkan pendapatan bagi negara lebih dari $5 juta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

37 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.