Korut Kecam Kunjungan Kapal Selam Nuklir AS ke Korsel
📅 Rabu, 12 Feb 2025, 02:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: YONHAP
SEOUL – Korea Utara (Korut) pada Selasa (11/2) menuduh Amerika Serikat (AS) melakukan tindakan militer yang bermusuhan setelah kapal selam Angkatan Laut AS berlabuh di negara musuh bebuyutannya, Korea Selatan (Korsel), untuk mengisi kembali persediaan.
"Kami menyatakan kekhawatiran mendalam atas tindakan militer berbahaya dan bermusuhan AS yang dapat menyebabkan konfrontasi militer akut di kawasan sekitar Semenanjung Korea menjadi konflik angkatan bersenjata yang sebenarnya," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Korut dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita KCNA.
Mereka memperingatkan AS untuk menghentikan provokasi yang menimbulkan ketidakstabilan lebih lama lagi, dan menuduhnya mengabaikan kekhawatiran keamanan Korut.
Kantor berita Yonhap sebelumnya melaporkan bahwa USS Alexandria, kapal selam bertenaga nuklir AS, tiba di pangkalan Angkatan Laut Busan di Korsel pada 10 Februari. Kunjungan serupa dilakukan pada November 2024.
"Angkatan bersenjata kami secara ketat mengawasi kemunculan sarana strategis AS di Semenanjung Korea dan siap menggunakan segala cara untuk mempertahankan keamanan dan kepentingan negara serta perdamaian regional," ucap juru bicara Kementerian Pertahanan Korut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pernyataan juru bicara tersebut menekankan pentingnya mengembangkan kemampuan pertahanan diri Korut dan merujuk pada janji pemimpin Kim Jong-un pada Januari lalu bahwa program nuklir negaranya akan terus berlanjut tanpa batas.
Karena sangat terputus dari dunia secara diplomatik dan ekonomi, serta di bawah serangkaian sanksi, Korut telah menjadi duri dalam daging bagi AS selama bertahun-tahun.
Presiden Donald Trump, yang mengadakan serangkaian pertemuan langka dengan Kim Jong-un selama masa jabatan pertamanya, mengatakan bahwa ia akan menghubungi pemimpin Korut itu lagi, dan menyebut Kim Jong-un sebagai “orang pintar”.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertemuan puncak antara keduanya di Hanoi, Vietnam, pada tahun 2019 mengalami gagal karena pembicaraan mengenai pencabutan sanksi dan apa yang Pyongyang bersedia korbankan sebagai imbalannya.
Korut mengatakan pada awal Februari bahwa mereka tidak akan menoleransi provokasi apapun oleh AS setelah Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut Korut sebagai negara berbahaya dalam sebuah sesi wawancara radio.
Pengiriman Senjata
Sementara itu seorang pejabat Korsel pada Selasa melaporkan bahwa Korut telah memberikan Russia sekitar 11.000 tentara, misil, 200 artileri jarak jauh dan sejumlah besar amunisi, saat Moskwa dan Pyongyang kian memperdalam hubungan militer mereka.
“Korut telah memberi Russia 200 buah artileri jarak jauh,” kata seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korsel kepada AFP. “Korut juga akan memasok pasukan, senjata, dan amunisi tambahan ke depannya," imbuh pejabat tersebut yang enggan disebutkan jati dirinya.
Korsel, Ukraina, dan AS semuanya mengatakan bahwa Korut telah mengirim lebih dari 10.000 tentara ke Russia tahun lalu untuk membantu Kremlin dalam perang melawan Ukraina. Namun baik Moskwa maupun Pyongyang belum mengonfirmasi tuduhan pengerahan tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!