Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ketimpangan Meningkat, yang Kaya Semakin Kaya dan yang Miskin Semakin Miskin

📅 Jumat, 17 Jan 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ketimpangan Meningkat, yang Kaya Semakin Kaya dan yang Miskin Semakin Miskin Doc: Sumber: BPS - koran jakarta/ones

JAKARTA- Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode September 2024 seperti dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya fenomena yang anomali. Anomali itu karena tingkat kemiskinan secara nasional turun 0,46 persen dari 9,03 persen pada Maret 2024 menjadi 8,57 persen per September 2024. Sementara, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di Indonesia pada September 2024 justru naik. Hal itu, tecermin dengan rasio gini sebesar 0,381, meningkat dari sebelumnya sebesar 0,379 pada Maret 2024.

Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi dari Universitas Airangga (Unair), Surabaya, Bagong Suyanto, mengatakan, ketimpangan atau kesenjangan yang memburuk membuktikan bahwa polarisasi sosial masih mewarnai masyarakat Indonesia.

Jika tidak diatasi kata Bagong, polarisasi sosial itu akan menghambat tujuan pemerintah membawa Indonesia naik kelas menjadi negara maju.

“Polarisasi sosial misalnya saja kekuasaan pemilik modal dengan tenaga kerja yang mengarah pada proses yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Saat harga beras naik, petani sebagai produsen utama justru harus membayar lebih mahal karena mereka hanya menjual gabah, sedangkan harganya naik tinggi karena oleh pemilik modal gabah diproses dengan mesin,” kata Bagong.

Tuntutan pembangunan dan perubahan yang mengandung kepentingan politik dan ekonomi juga hanya menimbulkan polarisasi. Hal itu yang menyebabkan masyarakat yang seharusnya menjadi subyek pembangunan malah terpinggirkan.

Sementara paket-paket program pengentasan kemiskinan yang lebih berorientasi pada angka produksi dan berdasar logika kuantitatif, justru melahirkan polarisasi sosial masyarakat yang makin lebar karena tidak ada jaminan distribusi kesejahteraan akan merata.

“Masalahnya, kondisi ini bukan hanya menyebabkan ketimpangan sosial tapi juga biaya sosial yang harus dibayar akan lebih besar. Karena negara yang selalu diganggu persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial, akan kesulitan untuk bersaing sejajar dengan negara lain karena selalu terganggu masalah internal yang kontraproduktif,” ungkap Bagong.

Tidak Terangkut

Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan, gini ratio ini berkaitan dengan kemiskinan yang menurun. Penurunan penduduk miskin lebih banyak disebabkan oleh kenaikan garis kemiskinan yang tipis karena terjadi deflasi di bulan Mei-September 2024.

Menurut Nailul, perubahan garis kemiskinan Maret 2024-September 2024 hanya 2,11 persen. Sedangkan biasanya sebesar 5 sampai 8 persen. Selain itu, di bulan Juni 2024 juga tercatat ada pencairan bansos, di antaranya program keluarga harapan (PKH). Maka sudah pasti secara statistik, terjadi penurunan kemiskinan.

“Kenapa saya berkata demikian? Karena dari sisi ketimpangan justru meningkat. Artinya, ada orang miskin yang tidak “terangkut” ke kategori tidak miskin. Ada exclusion error yang menyebabkan tidak semua orang mendapatkan bansos. Ketimpangan akhirnya melebar. Jadi kemiskinan turun, gini ratio melebar,”tegas Huda.

Dengan meningkatnya gini rasio menandakan pembangunan untuk menarik orang yang paling miskin gagal. Sebaliknya, negara juga gagal dalam melakukan fungsi redistribusi kekayaan melalui pajak.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

42 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.