Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kekerasan Atas Nama Agama Terjadi Lagi, Rumah Penghayat Kepercayaan Dirusak Warga di Sulut

📅 Sabtu, 25 Jun 2022, 17:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kekerasan Atas Nama Agama Terjadi Lagi, Rumah Penghayat Kepercayaan Dirusak Warga di Sulut Doc: VOA/Reuters
Ket. Ilustrasi - Pengikut aliran minoritas Islam Ahmadiyah memadamkan masjid yang terbakar di Desa Ciampea, Jawa Barat, 1 Oktober 2010.

JAKARTA - SETARA Institute menyatakan perusakan Wale Paliusan, rumah tinggal dan tempat berkumpul penghayat kepercayaan Lalang Rondor Malesung (Laroma) itu menyebabkan sebagian besar dinding runtuh dan puingnya berhamburan ke meja makan saat keluarga sedang sarapan. Perusakan kedua kembali terjadi pada tanggal 22 Juni 2022 saat subuh dengan merobohkan pohon kelapa yang menyebabkan Wale Paliusan rata dengan tanah.

Dalam keterangan pers yang diterima VOA, SETARA mengatakan pelaku menjustifikasi rangkaian perusakan tersebut dengan stigma bahwa penghayat sesat dan menyembah setan. Berita palsu bahwa penghayat tidak memiliki dasar hukum resmi dan berbagai stigma yang menyudutkan penghayat sudah cukup lama beredar di daerah tersebut, hingga bereskalasi menjadi perusakan Wale Paliusan. Perusakan itu dilakukan seorang oknum rohaniwan, sedangkan dua orang lainnya mengintimidasi keluarga itu dengan stigma sesat dan menyembah berhala.

Rentetan perusakan ini meninggalkan trauma bagi keluarga. Berdasarkan penelusuran SETARA Institute, tiga korban saat ini masih dalam proses pemulihan dan kondisinya sangat lemah. Seorang korban bahkan sampai dua kali jatuh pingsan karena stres. Seorang anak yang melihat langsung puing-puing jatuh saat ia sedang makan juga terdampak syok.

"SETARA Institute mengecam provokasi oknum rohaniwan yang memantik dan bahkan terlibat dalam perusakan Wale Paliusan. Rohaniwan seharusnya berperan dalam merawat perdamaian, bukan justru memecahbelah dengan terlibat menyebarkan provokasi, berita palsu, dan stigma. Keterlibatan oknum rohaniwan menandakan betapa seriusnya permasalahan ini," kata peneliti kebebasan beragama/berkeyakinan SETARA Institute, Syera Anggreini Buntara dihubungi VOA, Jumat (24/6).

"Hal ini karena rohaniwan merupakan tokoh yang dihormati, dan dalam diri rohaniwan melekat wewenang moral, yang berpotensi membuat orang-orang (khususnya para pengikut/umat rohaniwan) memandang keputusan oknum rohaniwan tersebut adalah tepat dan menggerakkan mereka untuk juga berperilaku intoleran," tambahnya.

Menurutnya, penghayat Laroma resmi tercatat dalam Tanda Inventarisasi Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi dengan Nomor 1145/F2/KB.02.03/2021, serta resmi diakui keberadaannya oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Surat Keterangan Nomor 009/27/Kesbangpolda/XII/2021.

Kekhawatiran Penghayat

Diwawancarai VOA, Ketua Umum Lalang Rondor Malesung (Laroma), Iswan Sual menjelaskan dampak dari peristiwa itu menimbulkan kekhawatiran bagi pihaknya dalam melakukan kegiatan ritual budaya. Kini mereka mempertimbangkan untuk melakukan ritual jauh dari perkampungan masyarakat. Ritual budaya itu dilakukan sekali dalam sebulan saat bulan purnama. Jumlah penghayat Laroma diperkirakan 157 orang.

"Yah ini tiba-tiba saja begini, dulunya kami tidak khawatir sekarang kami jadi khawatir, dulu tidak takut kini jadi takut dimana kita akan melaksanakan ritus berikutnya? Nanti kalau dilaksanakan di sekretariat nanti dituduh bukan sekretariat bukan tempat ritus sementara tidak ada landasan hukum yang mengatur dimana kami harus melakukan ritus," kata Iswan Sual.

Secara singkat Iswan Sual menjelaskan kepercayaan Malesung melakukan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dalam bahasa daerah di sebut Apo' Kasuruang Wangko'. Malesung mengajarkan pengikutnya untuk berbuat budi luhur kepada sesama.

"Kemudian nilai-nilai budaya sebetulnya seperti budaya yang sudah dipegang kayak mapaluskerja sama gotong royong kemudian pesan-pesan leluhur saling membantu, saling berbuat baik yah kayak begitu jadi ada pitutur-pituturnya atau nasihat-nasihat," jelas Iswan Sual. Lalang Rondor Malesung berarti jalan lurus atau jalan benar. Malesung adalah nama lama dari Minahasa.

Dialog Antar-iman

Wakil Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos mendorong pemerintah dan masyarakat sipil di tingkat lokal -baik provinsi, kabupaten, maupun desa- untuk mengintensifkan ruang perjumpaan dan dialog antariman yang saat ini masih minim di desa Tondei.

Dalam berbagai peristiwa, dialog antariman terbukti efektif untuk membuat masyarakat saling memahami satu sama lain dan mengikis stigma, bahkan juga efektif membuat pelaku intoleransi untuk berubah menjadi aktivis yang memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas. Meskipun dialog antariman membutuhkan waktu yang cukup panjang agar dampaknya terasa, intensifikasi dialog antariman perlu dipupuk terus-menerus sebagai modal resiliensi sosial di Desa Tondei Dua dan di daerah-daerah lainnya di Indonesia, sehingga konflik-konflik bernuansa identitas dapat dicegah dan tercipta masyarakat yang solid bersama-sama merawat kebhinekaan. Selain itu diperlukan langkah tegas dalam penegakkan hukum terhadap pelaku intoleran.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Bekasi Dorong Perempuan Leb...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Polri Aktifkan Satgas Cegah Praktik Judi Selama Piala Dunia 2026

Polri Aktifkan Satgas Cegah Praktik Judi Selama Piala Dunia 2026

10 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.