Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Intensifikasi Pertanian | Pada Pekan I Januari 2022, Harga Pupuk Urea Rp560 Ribu Per Sak

Harga Pupuk Nonsubsidi Meroket

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Kenaikan harga pupuk nonsubsidi yang dimulai pada Oktober tahun lalu dikhawatirkan semakin menggerus pendapatan petani.

JAKARTA - Serikat Petani Indonesia (SPI) mengeluhkan lonjakan harga pupuk nonsubsidi yang mencapai 100 persen pada pekan pertama Januari 2022 sehingga menyebabkan kerugian bagi petani. Lonjakan harga pupuk tersebut mendongkrak biaya produksi petani, sementara harga jual komoditas masih rendah di tingkat produsen.

Ketua Umum SPI, Henry Saragih, mengatakan tren kenaikan harga pupuk nonsubsidi itu sudah berlangsung sejak Oktober 2021. Harga pupuk nonsubsidi pada akhir 2020 hanya 265-280 ribu rupiah per sak berisi 50 kilogram (kg) pupuk Urea. Namun, pada Oktober-November 2021, harga pupuk itu naik menjadi 380 ribu rupiah.

"Kenaikan harga itu berlanjut pada Desember 2021 mencapai 480 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah, bahkan di luar Jawa tembus 600 ribu rupiah. Konsekuensinya, nilai tukar petani (NTP) pada 2021 masih berada di bawah standar impas," tegas Henry kepada Koran Jakarta, Rabu (12/1).

Dia mencontohkan, untuk pupuk Urea, hingga pekan I Januari 2022, harganya mencapai 560 ribu rupiah per sak. Saat situasi normal, harga pupuk itu di kisaran 265-285 ribu rupiah per sak. Hanya saja, sejak Oktober-November 2021, harga pupuk itu naik menjadi 380 ribu rupiah. Kenaikan harga itu berlanjut pada Desember 2021 mencapai 480 ribu hingga 500 ribu rupiah.

Selain itu, catatan SPI menunjukkan harga pupuk NPK juga naik signifikan. Misalkan, harga NPK Mutiara melonjak mencapai 600 ribu rupiah per sak dari harga sebelumnya 400 ribu rupiah per 50 kg.
Halaman Selanjutnya....


Redaktur : Muchamad Ismail
Penulis : Fredrikus Wolgabrink Sabini

Komentar

Komentar
()

Top